Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

‎Karhutla Banjarbaru Dikebut, Hanif Target Tuntas Dua Pekan Sebelum Puncak El Nino

×

‎Karhutla Banjarbaru Dikebut, Hanif Target Tuntas Dua Pekan Sebelum Puncak El Nino

Sebarkan artikel ini
IMG 20260824 WA0015 e1787552014100
‎PENGAYUAN - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq memimpin apel penanganan karhutla di kawasan Pengayuan, Landasan Ulin, Banjarbaru, Senin (24/8/2026). Pemerintah memperkuat operasi dengan mengerahkan ratusan pompa air dan menargetkan penanganan kawasan prioritas rampung dalam dua pekan. (Kalimantan post.com/Devi)

BANJARBARU, Kalimantanpost.com – Pemerintah pusat berpacu dengan waktu untuk menuntaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sedikitnya 200 unit pompa air disiapkan untuk mempercepat pemadaman, sementara pemerintah menargetkan penanganan kawasan prioritas rampung dalam waktu sekitar dua pekan.

‎Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq masih berada di Banjarbaru untuk mengawal langsung operasi penanganan karhutla. Target tersebut dikebut menyusul semakin terbatasnya ketersediaan air akibat kondisi kemarau.

‎Hanif mengatakan, percepatan penanganan merupakan tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah harus memanfaatkan ketersediaan air yang ada sebelum kondisi semakin sulit.

‎”Kondisi El Nino, pemicu iklim ini mempengaruhi. Sebagian besar debit air kita menurun. Kita sangat berharap ini bisa kita selesaikan, mudah-mudahan dua minggu mengingat keterbatasan logistik air,” ujar Hanif usai memimpin apel penanganan Karhutla di Pengayuan, Landasan Ulin, Banjarbaru, Senin (24/8/2026).

‎Target dua pekan tersebut semakin mendesak, karena fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada September 2026. Penurunan debit air dikhawatirkan semakin menyulitkan operasi pemadaman, terutama di kawasan yang didominasi lahan gambut.

‎Salah satu sumber air yang selama ini menjadi andalan, Bendungan Riam Kanan, juga mengalami penurunan debit.

‎Padahal, Riam Kanan memiliki fungsi strategis. Selain mendukung kebutuhan penanganan karhutla, kawasan tersebut juga berperan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air, irigasi, perikanan, hingga sumber air baku PDAM.

‎Karena itu, pemerintah tidak ingin penanganan Karhutla berlangsung terlalu lama. Sebab, semakin panjang operasi pemadaman, semakin besar pula kebutuhan air yang harus disiapkan.

‎”Ini harus selesai secepatnya karena logistik air semakin berkurang. Logistik uangnya ada tapi logistik air gak ada akan susah kita tanggulangi,” tegas Hanif.

‎Untuk mengejar target tersebut, pemerintah memperkuat operasi di tiga zona utama, yakni Guntung Damar, Hutan Lindung Liang Anggang, dan Pengayuan.

‎Guntung Damar dan Hutan Lindung Liang Anggang menjadi perhatian utama, karena karakteristik lahannya didominasi gambut. Pemadaman dilakukan dengan mengerahkan pompa untuk membasahi kawasan gambut sekaligus menangani titik api.

‎Tambahan 50 unit pompa air berukuran empat inci telah dikerahkan hingga Minggu malam. Senin (24/8), kembali ditambah 50 unit. Jumlah tersebut di luar sekitar 50 unit pompa yang sebelumnya telah beroperasi.

‎Dengan tambahan peralatan tersebut, pemerintah memproyeksikan sekitar 200 unit pompa dapat dioperasikan di dua kawasan tersebut.

‎Rinciannya, sekitar 100 unit berasal dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, 50 unit dari Kementerian Pertahanan, dan 50 unit dari Kementerian Pertanian.

‎Besarnya jumlah pompa juga membutuhkan dukungan personel yang tidak sedikit. Satu unit pompa membutuhkan sekitar enam orang untuk pengoperasian. Dengan 200 unit pompa dan sistem kerja secara shifting, kebutuhan personel mencapai ribuan orang.

‎Sementara di Pengayuan, penanganan dibagi menjadi zona utara dan selatan. Zona utara ditangani Pemerintah Kota Banjarbaru dengan dukungan Pemprov Kalsel. Sedangkan zona selatan berada di bawah koordinasi Kalak BPBD Provinsi Kalimantan Selatan.

‎Sekitar 30 mobil tangki dikerahkan untuk mendukung penanganan di dua zona tersebut. Sebanyak 26 unit merupakan dukungan masyarakat dan empat unit bantuan dari GAPKI. Operasi di dua zona Pengayuan melibatkan sekitar 350 personel.

‎Tak hanya mengandalkan operasi pemadaman, pemerintah juga memperkuat upaya pencegahan agar tidak muncul titik api baru.

‎Jumlah tim patroli yang sebelumnya sekitar empat tim akan ditingkatkan menjadi sekitar 20 tim. Pemantauan juga diperkuat menggunakan drone untuk mendeteksi potensi titik api di lapangan.

‎Menurut Hanif, langkah tersebut penting karena sebagian besar kejadian karhutla di Banjarbaru berdasarkan laporan yang diterimanya dipengaruhi aktivitas manusia.

‎”Jadi ini pemicunya adalah iklim dan penyebabnya adalah manusia. Ini yang harus kita cegah dengan meningkatkan patroli,” katanya.

‎Seluruh kawasan prioritas nantinya dibagi menggunakan sistem grid. Pembagian tersebut untuk memetakan area yang telah dikuasai, lokasi yang masih terbakar, hingga wilayah yang membutuhkan tambahan dukungan.

‎Evaluasi dilakukan setiap malam oleh pimpinan masing-masing zona. Hasil evaluasi kemudian menjadi bahan rapat pada pagi hari untuk menentukan kebutuhan personel, peralatan dan logistik.

‎Kesiapan operasional di lapangan sebelumnya masih berada di kisaran 20 persen. Pemerintah menargetkan kesiapan meningkat menjadi 50 persen pada sore atau malam hari, sebelum digenjot hingga mencapai 100 persen.

‎Hanif menegaskan, keberhasilan penanganan karhutla tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kekuatan pemadaman. Ketersediaan air dan kemampuan mencegah munculnya titik api baru juga menjadi faktor penting.

‎”Yang terpenting sekarang adalah memadamkan api yang ada, memperkuat patroli, mencegah munculnya titik api baru, serta menjaga sumber daya air agar tetap tersedia selama proses penanganan berlangsung,” ujarnya.

‎Dengan ancaman puncak El Nino pada September, dua pekan ke depan menjadi periode krusial bagi pemerintah untuk menuntaskan karhutla di kawasan prioritas Banjarbaru.

‎Pemerintah kini berpacu dengan waktu. Api harus dipadamkan sebelum debit sumber air semakin menyusut dan operasi pemadaman menghadapi kendala yang lebih berat.

‎Penanganan cepat juga diharapkan dapat mencegah dampak karhutla meluas terhadap ketersediaan air, listrik, irigasi, perikanan hingga kebutuhan air baku masyarakat. (dev/KPO-3)

Baca Juga :  Polri Tetapkan 72 Tersangka Kasus Karhutla di Sembilan Polda



Iklan
Iklan