Saling dorong dan tarik menarik antara massa aksi dan polisi yang berjaga.
BANJARMASIN, KP – Ricuh, aksi Jilid II, di Gedung DPRD Kalsel, Jumat (28/8).
Dimana massa sampaikan delapan tuntutan, salah satunya terkait penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi.
Ratusan massa tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Kami ingin ada langkah konkret dalam menangani persoalan karhutla saat ini hingga menyebabkan kabut asap yang sudah sangat membahayakan masyarakat,” ucap salah seorang mahasiswa yang berorasi.
Selain itu, pihaknya juga menuntut PLN untuk memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak akibat pemadaman listrik bergilir yang terjadi beberapa waktu lalu.
Sama halnya kepada Pertamina pihaknya menutut agar melakukan pengawasan dan penindakan kepada seluruh SPBU yang terbukti melakukan penyelewengan.
Menurut massa apabila PLN maupun Pertamina tidak bisa memenuhi tuntutan tersebut dalam waktu yang ditetapkan. Maka PLN harus mencopot Manager PT PLN UUD dan Pertamina juga harus mencopot Sales Area Manager Pertamina.
“Jika tidak memenuhi poin tuntutan kami itu, PLN dan Pertamina harus mencopot jabatan Manager,” tegasnya.
Selain itu, mereka juga menuntut aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dan menindak tegas pelaku penyelewengan BBM subsidi.
Di sisi lain, dalam aksi ini massa juga menyampaikan tuntutan kepada pemerintah pusat dan DPR RI untuk segera mengesahkan UU Perampasan Aset dan mendesak DPRD Kalsel untuk menyatakan sikap mendukung pengesahan RUU tersebut.
“Kami juga meminta DPRD Kalsel untuk merilis video pernyataan di media sosial resmi humas DPRD,” cetusnya.
Saling Dorong
Suasana di depan Gedung DPRD Kalsel berujung ricuh dengan saling dorong dan tarik menarik antara massa aksi dan polisi yang berjaga.
Di tengah-tengah aksi yang memanas tersebut, terlihat seorang polisi mengejar bahkan sampai memukul ke arah kerumunan massa aksi.
Hal tersebut semakin memicu bentrok antara keduanya. Massa aksi yang kebanyakan dari mahasiswa tersebut sempat berteriak histeris untuk menghentikan bentrok yang terjadi.
Teriakan tersebut akhirnya merendam bentrok yang sempat terjadi. Beberapa pengunjuk rasa yang terkena pukul dan cedera dalam aksi tersebut langsung mendapatkan penanganan.
Di sela-sela aksi tersebut, sempat mencuat ada provokator yang sengaja membuat demo memanas hingga berakhir ricuh antara massa aksi dengan polisi.
Di tengah kondisi tersebut, massa aksi memaksa tetap bertahan. Namun beralih tempat ke simpang empat bundaran jalan tepat di depan Bank Indonesia.
Di sisi lain, kepolisian masih berjaga di kawasan DPRD Kalsel karena belum bubarnya massa aksi. (ham/K-2)















