Oleh : Dr. Shakhzod Islamov
Deputy Director Imam Maturidi International Scientific Research Center
Dalam sejarah peradaban Islam, terdapat benang merah spiritual yang menghubungkan Indonesia dengan Uzbekistan. Hubungan ini bukan sekadar hubungan diplomatik biasa, melainkan ikatan batin yang tumbuh dari akar yang sama—ajaran Islam yang dibawa oleh para ulama besar dari tanah Transoxiana atau Mawara anhr (kini Uzbekistan) ke Nusantara. Para Wali Songo, penyebar Islam di Jawa, banyak yang memiliki jejak intelektual dan spiritual yang bersumber dari kawasan ini.
Salah satu contoh paling menonjol adalah Maulana Malik Ibrahim, salah seorang Wali Songo yang diyakini berasal dari Samarkand. Kehadirannya di Gresik pada abad ke-14 membuktikan bahwa sejak awal, interaksi spiritual antara kedua bangsa telah terjalin dengan kuat. Para ulama Nusantara tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga membawa serta tradisi keilmuan dan kerohanian yang mereka pelajari dari pusat-pusat ilmu di Asia Tengah.
Di antara banyak ulama besar Uzbekistan yang pengaruhnya dirasakan hingga Nusantara, Abu Mansur al-Maturidi menempati posisi istimewa. Imam Maturidi (wafat 944 M), yang makamnya terletak di Samarkand, adalah pendiri mazhab teologi Maturidiyah yang menjadi salah satu pilar pemahaman Ahlusunnah wal Jama’ah di Nusantara.
Mazhab Maturidiyah memiliki karakteristik khas: menekankan pentingnya akal dalam memahami teks keagamaan, menghargai pluralitas, dan mengajarkan sikap moderat dalam beragama. Nilai-nilai ini kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh para ulama Nusantara, sehingga menjadi ciri khas keislaman di Indonesia yang dikenal ramah, inklusif, dan wasathiyah (moderat).
Di Indonesia, mayoritas umat Islam menganut mazhab teologi Maturidiyah, meskipun banyak yang tidak menyadari asal-usulnya. Fakta ini menunjukkan bahwa pengaruh pemikiran Imam Maturidi telah begitu mendalam dalam kehidupan keagamaan di Nusantara.
Pesantren-pesantren tradisional di Jawa dan lain-lain, secara tidak langsung telah menjadi pewaris dan pelestari warisan intelektual Imam Maturidi.
Pembaruan besar-besaran yang dilakukan di Makam Imam Maturidi di Samarkand bukanlah sekadar upaya restorasi fisik, melainkan sebuah inisiatif strategis yang bertujuan menjadikan Uzbekistan sebagai pusat global bagi Islam yang moderat, rasional, dan berlandaskan toleransi. Makam ini memiliki makna yang jauh melampaui fungsi sebagai tempat peristirahatan jasmani sang tokoh, karena di sana juga terletak kubur ribuan ulama terkemuka, termasuk Imam Rustufaghni dan Burhanuddin al-Marghinani, yang memperkuat posisinya sebagai simbol intelektual dan spiritual Islam klasik. Di sekitarnya berdiri Kuburan Mufti, yang memelihara lebih dari 400 makam mufti, mencerminkan peran sentral Samarkand sebagai pusat teologi Islam pada masa keemasan peradaban Islam.
Sejarah wilayah Uzbekistan, khususnya Transoksiana, telah menjadi pusat kejayaan ilmu pengetahuan dan kebangkitan intelektual Islam pada abad pertengahan. Pada periode 9–12 Masehi dan kembali pada abad 14–15 Masehi, wilayah ini menjadi saksi dari Renaissance Kedua Islam Timur, dengan delapan pusat keilmuan utama yang tersebar di Bukhara, Samarkand, Nasaf-Kesh, Surkhandarya, Khorezm, Shash, Ustrushana, dan Fergana.
Ilmuwan-ilmuwan dari wilayah ini bahkan turut berkontribusi di institusi-institusi ternama dunia Islam seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad, Dar al-Hikmah di Khorezm, serta Akademi Ulugh Beg di Samarkand. Tidak hanya menjadi rumah bagi para cendekiawan, wilayah ini juga menjadi sumber utama dari lebih dari 3.000 ulama Hadis selama abad ke-8 hingga ke-12, dengan sekitar 1.000 di antaranya berasal dari Samarkand dan 600 dari Bukhara.
Visi kepemimpinan Presiden Shavkat Mirziyoyev menjadikan dua pilar utama sebagai fondasi pembangunan nasional: pertama, menciptakan generasi Uzbek yang bangga terhadap warisan sejarah dan budaya mereka, namun tetap terbuka terhadap dinamika dunia modern; dan kedua, menegaskan peran Uzbekistan sebagai sumber penting bagi umat Islam global.
Diperkirakan bahwa sekitar 42 persen dari total 1,9 miliar umat Islam di dunia mengikuti mazhab Maturidi, yang lahir dari pemikiran ilmiah Imam Maturidi dan Abu Mu’in al-Nasafi. Dengan dukungan nilai-nilai moderat, rasionalitas, dan toleransi yang menjadi ciri khas pemikiran Maturidi, kompleks ini berambisi menjadi model kontemporer Islam yang beradab, inklusif, dan relevan bagi zaman—terutama bagi Indonesia dan mitra-mitra strategis lainnya dalam membangun dialog antarbudaya dan keilmuan yang lestari.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan memiliki pengalaman hidup harmonis dalam kemajemukan, dapat menjadi mitra strategis dalam mewujudkan visi ini. Kerja sama ini akan semakin menguatkan posisi kedua negara sebagai benteng Islam moderat di tengah tantangan globalisasi dan ekstremisme.
Kepada pemerintah Indonesia, ormas Islam, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum, mari kita manfaatkan momentum ini untuk memperkuat jembatan spiritual dan akademik dengan Uzbekistan. Ziarah ke makam-makam ulama besar di Uzbekistan bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan intelektual dan spiritual yang akan memperkaya pemahaman kita tentang Islam.
Dengan mengenal lebih dekat warisan Imam Maturidi dan ulama lainnya dari Asia Tengah, kita sebenarnya sedang menelusuri akar pemikiran Islam yang telah membentuk keislaman Nusantara yang kita cintai— Islam yang rahmatan lil ‘alamin, moderat, dan inklusif.
Mari bersama-sama kita wujudkan kolaborasi yang lebih konkret, baik dalam bidang pendidikan, pariwisata religi, maupun riset keislaman. Dengan demikian, ikatan antara Indonesia dan Uzbekistan akan semakin kuat, bukan hanya di tingkat pemerintahan, tetapi juga di hati sanubari umat Islam di kedua negara.













