SEBUAH riset akademik pertama di dunia yang merekonstruksi perjalanan diplomatik dan spiritual Presiden Soekarno ke makam Imam Bukhari di Uzbekistan pada tahun 1956 – 1961 resmi dipresentasikan di Imam Bukhari International Scientific Research Center, Samarkand di hadapan Direktur Prof Shovosil Ziyodov dan ilmuwan di lingkungan Imam Bukhari Complex Samarkand, Kamis (4/6).
Riset dilakukan oleh Peneliti dari Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ Jakarta) Eka Triyatna Shanty,SE,MH,CIEM, fellowship researcher asal Indonesia di Pusat Kajian International Imam Bukhari, Samarkand sekaligus alumni Pascasarjana IIQ Hukum Ekonomi Syariah bersama Dr Samsul Ariyadi, M.Ag Ketua Program Studi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Pascasarjana IIQ Jakarta.
Imam Bukhari International Scientific Research Center secara resmi merilis berita tentang pemaparan tersebut di laman resmi bukhari.uz dengan judul “Presentation of new Research on the History of the Imam Bukhari Mausoleum” dan menyebutnya sebagai pendekatan ilmiah baru serta mengakui bahwa riset ini merupakan studi sistematis pertama yang berhasil merekonstruksi kebijakan Uni Soviet terhadap makam Imam Bukhari sebagai kebaruan ilmiah.
Dari penelitian, ditemukan beberapa poin penting.
Pertama, Soekarno menjadikan pemugaran makam Imam Bukhari sebagai syarat mutlak yang tidak dapat ditawar sebelum ia bersedia melakukan kunjungan ke Uni Soviet pada tahun 1956.
Ia bersikeras dengan tuntutan tersebut sebelum akhirnya bersedia bertemu dengan Khrushchev.
Demikian pula ditemukan motif undangan Presiden USSR itu karena keberhasilan Soekarno menggelar Konferensi Asia Afrika Bandung 1955.
Kedua, Riset tersebut juga mencatat bahwa ketertarikan Soekarno terhadap warisan Imam Bukhari bukanlah sesuatu yang kebetulan.
Pandangan religius dan pencerahannya, sikapnya terhadap ilmu hadis, serta rasa hormatnya terhadap nilai-nilai Islam menjadi fondasi penting yang berawal dari pengasingan kolonialisme Belanda pada 1936.
Ketiga, rasa hormat Soekarno terhadap Sahih alBukhari turut mempengaruhi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, rancangan Monumen Nasional hingga Masjid Istiqlal.
Keempat, Uni Soviet merespons secara taktis namun bersifat pencitraan mengingat meskipun pada Maret 1956 mereka membuka makam Imam Bukhari untuk Soekarno namun nyatanya itu hanya bersifat i etalase diplomatik karena pada Desember 1959 kebijakan berbalik dengan menutup ribuan madrasah dan masjid. (rof/K-2)















