BANJARMASIN, kalimantanpost.com – Sebuah perjalanan besar sering kali bermula dari langkah kecil yang sederhana. Begitu pula kisah lahirnya Murakarta Symphony Orchestra yang berawal bukan dari gedung konser megah, melainkan dari sebuah ruang kecil di belakang rumah.
Di tempat sederhana itu, terdengar suara-suara awal gesekan biola dari tangan anak-anak yang penuh semangat untuk belajar musik. Sebuah kelas biola kecil dibuka dengan harapan menanamkan kecintaan terhadap musik, membangun kedisiplinan, serta memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dunia orkestra.
Founder Murakarta Symphony Orkestra, Abdurrasyid mengatakan awalnya hanya beberapa orang yang berkeinginan belajar biola. Namun seiring waktu, sudah ada 100 orang lebih yang bergabung.
Orang di dalamnya memiliki latar belakang yang sangat beragam. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, pegawai, hingga masyarakat umum yang kemudian memiliki peran sebagai pemain orkestra, penyanyi, hingga tim pendukung.
“Memang saya akui semua berawal dari kecintaan saya terhadap biola hingga tercetus kelas biola gratis karena saya melihat adanya potensi dan talenta musikal di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) hingga terlahirnya grup musik Murakarta Symphony Orkestra,” ungkap Abdurrasyid, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Abdurrasyid, semua tidak lepas dari mimpi besar yang kemudian terwujud saat keinginan itu disampaikan kepada salah satu pejabat di Pemerintah Kabupaten HST.
“Saat menyampaikan mimpi saya waktu itu, pak Yani yang sekarang menjabat sebagai Sekda HST sangat menyambut baik dan bersemangat. Bahkan beliau bersedia memberikan salah satu rumahnya sebagai Gallery Seni Adipati Jenaka Art. Pada saat itu nama grup musiknya saya beri nama Prisj Van Borneo String Ansamble,” bebernya.
Di tahun 2022 grup tersebut berkolaborasi bersama musisi musisi muda di Kabupaten HST untuk skala yang lebih besar yang terdiri pemain band, pemain tradisional, dan Parisj Van Borneo String Ansamble.
Grup musik hasil kolaborasi itu bernama Murakata Young Music Club. Dimana dari sinilah awal mula transformasi dan membentuk sebuah orkestra yang sampai saat ini yang bertumbuh melalui wadah pengembangan kreativitas yang bernama “Balai Rakjat Creative Hub”.
“Alhamdulillah sampai saat ini kita masih membuka kelas biola gratis bagi warga HST tepatnya digedung Balai Rakjat HST. Kelas ini terbuka untuk umum dengan syarat mempunyai biola sendiri,” tuturnya.
Adapun kecintaannya terhadap musik tumbuh sejak dirinya kecil bagaikan terlahir sebagai pemusik dari berbagai macam aliran musik, mulai dari musik tradisional, dangdut, panting, gambus, modern dan lainnya. Perkembangan terlihat setelah ia semakin serius mempelajari musik.
Menurutnya semua tumbuh karena banyak terinspirasi oleh para musisi dan konduktor orkestra yang mampu menyatukan banyak orang melalui musik. Baik dari Indonesia maupun dunia.
Di samping, ia percaya bahwa musik bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga sarana pendidikan karakter, membangun disiplin, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama.
“Maka dari itu, Murakata Symphony Orchestra hadir sebagai ruang belajar, berkarya, sekaligus mengangkat potensi daerah melalui musik,” katanya.
Dibandingkan bersolo karir, pemuda ini malah memilih membangun sebuah komunitas musik. Alasannya karena ada kebahagian sendiri saat berhasil mengenalkan orang-orang di tempatnya tinggal terhadap musik simfoni.
“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya ketika bisa tampil di atas panggung, melainkan ketika melihat anggota yang dulu belum mengenal musik kini mampu tampil percaya diri dan bahkan menginspirasi orang lain,” sebutnya.
Dibalik ini semua lanjutnya, tak lepas dari bimbingan banyak guru, pelatih, dan senior yang telah membagikan pengalaman serta ilmu dasar-dasar musikal, teknik, kedisiplinan, hingga cara memimpin sebuah ansambel.
Namun ada salah satu sosok yang merupakan kunci dibalik terbentuknya Murakata Symphony Orchestra yaitu Yuli Alpiansah atau yang lebih dikenal Yuli AEYRA yang merupakan pemain biola berasal dari Kota Banjarmasin.
“Beliau mendidik saya dan mengajarkan biola dan teori musik bahkan mengajarkan bagaimana hidup di dunia musik kepada saya, dari tahun 2019 sampai pada akhirnya saya tidak lagi tinggal di Kota Banjarmasin dan memutuskan untuk tinggal menetap di Barabai HST,” jelasnya.
Murakata Symphony Orchestra grup ini tidak terbangun begitu saja. Melainkan peran serta dari berbagai pihak dan orang-orang terdekat.
“Tentunya Ayahanda Yani yang selalu membersamai kami sampai saat ini sebagai penghubung mitra jaringan dan relasi,” tuturnya.
Sempat kesulitan mengembangkan musik jenis simfoni di Banua karena minimnya ruang belajar di daerah lain seperti pulau Jawa. Namun seiring waktu, banyak yang mulai tertarik, terlihat dari banyaknya yang berminat bergabung.
Tentunya dalam proses rekrutmen, pihaknya tetap selektif. Dari semula yang mendaftar 70 orang. Namun yang diterima hanya 20-30 orang setiap orangnya.
Tak dipungkiri, Murakata Symphony Orchestra bisa berhasil dan bertahan sampai sekarang ini pasti ada berbagai tantangan yang sudah dilewati. Salah satunya membentuk dan menumbuhkan bakat musik kepada Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak ada pengalaman di bidang tersebut.
Mengingat grup musik ini yang cukup besar. Tentu banyak ego di dalamnya. Namun adanya solidaritas yang telah dibangun membuat Murakata Symphony Orchestra sampai dititik ini.
“Baik anggota maupun pengurus semua berhasil menjaga ego, kesabaran dan tentunya kegigihan hingga kita bisa sampai dititik ini,” ujarnya.
Adapun sejak berdirinya Murakata Symphony Orchestra, murni 100 persen bertahan di kaki sendiri melalui pendanaan mandiri. Namun memang ada iuran diminta pada momentum-momenyum tertentu untuk keperluan operasional grup musik tersebut, terutama kelasnya.
“Tidak ada biaya manapun. Murni mandiri, memang ada iuran tapi kebutuhannya bukan untuk pelatih. Melainkan menghidupi orkestra ini tetap hidup, contohnya beli keras, tintah untuk print partitur,” paparnya.
Dengan kondisi tersebut, tentunya tidak mudah untuk bisa bertahan dan terus berkembang. Mengingat budget yang dikeluarkan apalagi saat tampil tidak sedikit nominalnya.
“Mitra-mitra banyak bertanya untuk event. Namun memang terkendala masalah budgeting karena untuk membiayai sebuah orkestra ini tidak kecil. Contohnya biaya transportasi itu perlu 2 bis, belum lagi uang makan selama 3 hari dan lainnya. Jadi cukup besar karena melibatkan semua orang,” jelasnya.
Menurutnya mempertahankan grup dan kelas musik ini tidak karena soal keuntungan material. Jika dihitung-hitung, keuntungan yang didapat lebih kepada kepuasan diri sendiri atas mimpi yang akhirnya bisa terwujud.
“Saya rasa tidak ada keuntungan pribadi, karena kami tidak mencari itu. Murni kecintaan kami terhadap musik. Namun memang patut disyukuri atas kerja keras selama ini, kami mendapat perhatian dari pemerintah hingga pernah belajar keluar daerah ke Surabaya, ke Bali hingga bisa berkembang dengan grup musim lain,” tuturnya.
Tentunya ia berharap seni musik seperti ini bisa terus tumbuh di Banua Kalimantan Selatan (Kalsel) dan menjadi perhatian karena sebenarnya banyak potensi yang terlihat. Namun memang masih minim ketertarikan masyarakat terhadap ini.
“Semoga bisa lebih berkembang lagi seni musik di Banua dengan banyaknya dukung semua pihak,” akhirnya. (ham/KPO-3)















