Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Penanda 500 Tahun Kota Banjamasin

×

Penanda 500 Tahun Kota Banjamasin

Sebarkan artikel ini
IMG 20260201 WA0011 1
Noorhalis Majid (Kalimantanpost.com/Repro Pribadi)

Oleh: Noorhalis Majid
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Apa penanda bahwa Kota Banjarmasin bulan depan genap berusia 5 abad? Sebelum mengidentifikasi penanda dari kota yang berusia 500 tahun, ada baiknya kita samakan persepsi tentang penanda itu sendiri.

Kalimantan Post

Penanda adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan, menandai atau mewakili makna lain. Kata dasarnya tanda, diberi awalan pe- dan akhiran -a jadi “yang menandai”.

Penanda bisa pula maksudnya alat, simbol, ciri atau petunjuk yang dipakai supaya, kita dapat mengenali sesuatu. Penanda itu sendiri hanyalah jembatan, penghubung, bukan obyeknya langsung, tapi sesuatu yang mewakili atau menunjukkan benda atau makna lain.

Menurut para pakar, penanda bagi suatu kota, setidaknya terdiri dari 4 hal, yaitu pertama, penanda fisik atau bangunan. Terkait fisik, hal yang paling kelihatan, misalnya bentuk arsitektur, tata kota atau jalan berpola, materi bangunan khas, landmark atau ikon, serta infrastruktur kuno.

Kedua, disebut dengan penanda spasial atau kawasan. Terkait kawasan, misalnya zona Pecinan atau kampung Arab atau kampung Eropa. Bisa pula kawasan dekat pelabuhan atau sungai, atau rel kereta tua karena tumbuh dari jalur niaga yang padat. Dapat pula berupa ruang publik tua, seperti alun-alun, taman kota, pasar tradisional, yang bertahan hingga ratusan tahun.

Ketiga, penanda sosial dan budaya. Bisa berupa nama jalan dan nama-nama tempat. Mungkin berupa kuliner khas, tradisi dan ritual, semacam upacara adat yang dijalankan dari generasi ke generasi, pasar malam, perayaan keagamaan yang berlangung turun temurun, atau cerita dan legenda, mitos, sejarah tokoh, peristiwa penting yang diingat warga dan terus dikisahkan.

Keempat, berupa penanda simbolik yang menggambarkan kota tua. Dapat berupa logo dan slogan, gerbang kawasan, papan penunjuk, warna identitas.

Namun, bagi kota Banjarmasin yang sudah memasuki 500 tahun, penandanya tentu saja naik level. Bukan lagi sekedar “tua”, tapi sudah menjadi “kota bersejarah dunia”. Setara dengan kota Malaka di Malaysia yang namanya selalu disebut dalam sejarah perdagangan rempah zaman dahulu. Atau kota Ayutthaya di Thailand, yang ditandai banyaknya reruntuhan candi, patung Buddha tanpa kepala. Karena 500 tahun, tersirat perjalanan waktu yang begitu panjang dan penuh dinamika zaman.

Baca Juga :  Cinta Negeri

Kalau sudah menjadi kota bersejarah dunia, setidaknya ada 5 lapisan penanda yang akan ditemukan.

Pertama, penanda sejarah dan kekuasaan. Bukti bahwa kota sudah berusia 5 abad, dapat berupa keraton, istana, benteng, yang menggambarkan pusat pemerintahan kerajaan dahulu, walau pun mungkin tinggal reruntuhan. Kalau semua itu masih bisa ditemukan, maka akan jadi penanda paling kuat. Bisa pula berupa pelabuhan, dermaga, sungai niaga, yang menggambarkan jalur perdagangan rempah dan sutra, yang berjaya pada abad-abad lampau. Mungkin pula berupa tempat ibadah, semisal Mesjid, Gereja, Klenteng tua, dimana tempat ibadah tersebut sudah dipakai 10 hingga 15 generasi dengan arsitektur akulturasi. Atau bisa pula ditandai dengan keberadaan komplek pemakaman kuno, seperti makam raja, ulama, tokoh pendiri kota.

Kedua, Berupa penanda fisik atau arsitektur. Setidaknya dengan usia 500 tahun, akan ada lapisan-lapisan kota yang menggambarkan zaman-zaman yang berubah. Setidaknya ada 3 zaman yang sudah dilalui. Ketiga zaman tersebut saling menumpuk meninggalkan jejak fisiknya. Zaman kerajaan, zaman kolonial, dan zaman peralihan hingga modern. Dapat dibuktikan dengan material langka dari zaman-zaman yang berbeda tersebut, berupa batu bata kuno, kayu ulin yang terjaga hingga 500 tahun, tegel impor Belanda atau China, meriam tua, dan sebagainya. Bisa pula berupa tata kota organik. Dapat berupa jalan tidak beraturan, mengikuti alur sungai, bukit, dan pola kampung-kampung lama yang penuh cerita.

Ketiga, penanda budaya dan intangible. Dibuktikan dengan bahasa dan dialek khas. Logat yang berbeda dari daerah sekitar karena terus dipakai sepanjang 500 tahun. Dapat pula berupa kuliner lintas zaman. Resep-resep masakan yang diwariskan 15-20 generasi. Campuran budaya lokal dan pendatang. Misalnya resep lokal, berpadu dengan resep Arab, China dan Eropa. Dapat pula berupa sistem kekerabatan dan nama keluarga tua, semisal ada marga atau klan yang catatannya terhubung hingga generasi 500 tahun yang lalu.

Keempat, penanda dokumentasi. Berupa bukti-bukti tertulis, berbentuk peta kuno yang menggambarkan bahwa kota ini sudah ada di peta yang buat Portugis, Belanda, China, saat mereka menapakkan kaki di kota tersebut. Bisa pula berupa catatan sejarah, tercantum dalam Hikayat, Babad, atau catatan penjelajahan dari para penjelajah dunia. Atau adanya artefak yang tersimpan pada museum, berupa keramik China dinasti Ming, koin kuno zaman raja-raja, senjata, perisai, alat pertanian dan pertukangan, dan sebagainya.

Baca Juga :  Ketahanan Pangan Banua

Kelima, berupa penanda simbolik. Bisa dibangunnya monument atau tugu peringatan 500 tahun kota. Didirikannya gerbang dan koridor kota tua, mengarahkan pada zona khusus yang dilestarikan dengan lampu, paving dan papan-papan sejarah.

Dengan berbagai penanda sebagaimana disebutkan di atas, kalau ingin berbangga dengan 500 tahun kota Banjarmasin, yang berarti menjadi kota bersejarah dunia, hal apakah yang hingga kini terus dirawat dan dipelihara?

Tentu lampisan-lapisan waktu 5 abad tersebut sersaji di kota Banjarmasin. Kota ini setidaknya memiliki komplek makam raja-raja, sejak Sultan Suriansyah. Juga memiliki masjid tua era Sultan Suriansyah dan Khatib Dayan, yang hingga kini masih difungsikan dengan baik.

Kota ini juga memiliki sungai, pelabuhan, serta kampung-kampung tua yang menggambarkan sejarah kelahiran kota ini. Pada sungai-sungai tersebut tersimpan cerita, sejarah, mitos, ritual, yang hingga kini masih disampaikan walau samar-samar.

Juga memiliki dialek bahasa yang khas. Setidaknya terdapat dialek Kuin, Alalak, dengan adat dan kebiasaan yang bertarung dengan modenitas. Termasuk beragam kuliner yang membaur, saling memengaruhi, melintasi zaman dan bertahan hingga sekarang.

Seandainya lampisan-lampisan sejarah yang sudah tersaji tersebut diberikan sentuhan penataan dengan lebih apik, maka dapat menjadi potensi wisata yang begitu berharga. Tentu dengan basis kesadaran dan peradaban warganya yang juga menggambarkan usia matang 500 tahun.

Warga yang peradabannya sudah terbangun 500 tahun, tentu sangat apik, perpeksionis dan ikonik. Setidaknya, tidak ada sampah yang berserakan di jalan dan lingkungan warga. Suasana kampung-kampung tua yang bersih, bersahaja, penuh cerita, menggambarkan bahwa kesadaran dan kecintaan untuk menjaga dan merawat kota bertahan selama 5 abad.

Kalau kenyataannya kota ini kotor, penuh tumpukan dan gunungan sampah, monument dan penandanya dikencingi, dianggap tidak fungsional dan lantas dirobohkan. Sungai-sungainya tidak terjaga dan terawat, justru terus berlangung sepanjang zaman menjadi tempat sampah terpanjang, maka rasanya tidak ada yang dibanggakan.

Boleh jadi semua penanda fisik menjadi tidak bermakna, karena tidak linier dengan penanda kebudayaan dan peradaban manusianya. (nm)

Iklan
Iklan