Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Cinta Negeri

×

Cinta Negeri

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh: Ahmad Barjie B
Penulis buku ”Sejarah Urang Banjar Tulak Haji dan Gambaran Kota Suci”

Sambil bersandar di satu tiang Masjid Nabawi, saya mendekati seorang jamaah asal Bangladesh. Namanya Ahmed Ersyad, insinyur sebuah proyek pembangunan di bawah bendera Saudi bin Laden Group Arab Saudi. Meski berasal dari negeri di kawasan India yang dikesankan terbelakang, miskin dan kumuh, ternyata Ersyad begitu membanggakan negerinya. Katanya, Bangladesh semakin maju, banyak orang pintar, fasih berbahasa asing Arab dan Inggris, banyak yang hafal Alquran, banyak bekerja sebagai tenaga ahli di luar negeri dan mampu memproduksi berbagai barang, termasuk obat untuk konsumsi dalam negeri dan ekspor. Negaranya ingin menjadi negeri muslim terbesar kedua sesudah Indonesia. We ’ll become a bigger moslem country after your country, ujarnya.

Kalimantan Post

Kali lain, seorang jamaah asal Pakistan, namanya Ibad Ali, beralamat sekitar 50 km dari Abottabad-Islamabad, lokasi tempat “tewasnya” pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden. Ia juga begitu membanggakan negaranya yang mampu surplus, bahkan mengeskpor daging dan sejumlah bahan pangan. Orang-orang Pakistan juga sangat terampil dalam perbelangkelan, ahli mendaur ulang, mahir dalam mereparasi mesin-mesin butut dan tidak gemar belanja produk asing. Meski dari luar Pakistan terkesan instabil karena berbatasan dengan Afghanistan yang diintervensi AS/NATO, tetapi menurutnya di bawah kepemimpinan Ali Zardari, suami mendiang Benazir Bhutto (saat itu), Pakistan lebih baik.

Saat santai di Hotel Royal Diyar Madinah bersama jamaah PT Riyal Tunggal Banjarmasin pimpinan H Fauzian Noor (alm), saya coba mendekati seorang pemuda Arab, yang ternyata berasal dari Egypt (Mesir). Namanya, Musthafa Ahmed. Meski Mesir sempat menggemparkan dunia melalui people power yang menjatuhkan Presiden Hosni Mubarak, tetapi menurutnya Mesir baik-baik saja. Ia juga tidak mau menyalahkan presiden terguling. Baginya Mubarak orangnya baik, yang merusak reputasinya justru salah seorang dari dua putranya, Ala dan Kamal Mubarak.

Lain lagi Ahmed Etekin cs, orang tua asal Turki, ia tinggal di pinggiran Istanbul. Ia tidak memuji Turki sekarang, tidak juga berbicara banyak tentang Presiden Recep Tayip Erdogan, tetapi lebih senang bernostalgia dengan Kekhalifahan Turki Osmani (Ottoman). Menurutnya, hampir semua jazirah Arabia dan Timur Tengah bahkan sebagian Eropa dulu berada di bawah Imperium Ottoman. Bahkan beberapa bagian Masjid Nabawi dan al-Haram Makkah dibangun Dinasti Osmani. Banyaknya petunjuk bangunan dan tempat bersejarah menggunakan bahasa Turki, juga menjadi kebanggaannya.

Baca Juga :  KELEMBUTAN DAN KETELATENAN

Kehilangan Selera

Saat santai di lantai dasar Tower Zamzam (Hotel Retaz) yang hakikatnya juga menjadi halaman Masjid al-Haram, kami menyempatkan bercengkrama dengan seorang jamaah Malaysia. Ia memuji negerinya karena tingkat kesejahteraan rakyat relatif tinggi, dan seimbang antara etnis Melayu, Cina dan India. Tak ada kesenjangan sosial yang mencolok. Pemerintah yang dikuasai Partai UMNO memproteksi penduduk Melayu dengan fasilitasi usaha, modal dan dukungan lain. Melayu dimaksud mencakup suku Banjar, Minang. Jawa, Medan dan sebagainya. Hasilnya, orang Melayu mampu menjadi tuan di negeri sendiri. Menurutnya rusuh SARA mudah terjadi jika kesenjangan dibiarkan.

Terhadap Indonesia, ternyata orang Malaysia ini tidak mau mengeritik, misalnya tentang ketimpangan mencolok di bidang ekonomi dan masih besarnya angka kemiskinan, meski sempat saya pancing. Ia hanya bilang, penduduk Indonesia terlalu “ramai”, maksudnya banyak dan padat ditambah wilayahnya sangat luas, jadi permasalahannya kompleks dan sulit diatur. Berbeda dengan Malaysia dan Singapura yang kecil dan berpenduduk sedikit, lebih mudah diurus dan ditingkatkan kesejahteraannya.

Mendekati mereka semula dimaksudkan mendapatkan kritikan eksternal, supaya diketahui bagaimana mereka melihat Indonesia. Ada filsuf berkata, kritikan orang luar bahkan musuh sekalipun ada benarnya dan berguna untuk introspeksi dan perbaikan. Saya mengira mereka akan menceritakan borok negerinya. Tetapi yang terjadi justru semua memuji menurut versi masing-masing. Akhirnya saya kehilangan selera untuk mengeritik negeri sendiri di hadapan mereka. Jadi, kalau kita mau mengetahui lebih tegas kritik tentang Indonesia, harus mewawancarai diapora Indonesia juga, bukan orang asing, karena mereka mudah membanding.

Kita beroleh pelajaran, ternyata tiap orang memiliki rasa cinta dan bangga terhadap negerinya. Meski negeri mereka terlihat buram dari luar, bagi mereka tetap membanggakan. Prinsip, right or wrong is my country seolah berlaku. Komitmen begini sejalan ajaran agama, hubb al-wathan min al-iman (cinta negeri sebagian dari iman). Asalkan cintanya benar dan tidak buta terhadap kritik membangun.

KH Shahibul Wafa Tadjul Arifin alias Abah Anom (alm) berpesan, negara ini didirikan oleh banyak ulama dan pejuang. Konsekuensinya, ulama dan umat Islam tidak boleh meninggalkan urusan negara dan tidak mau tahu urusna negaranya, sebab leluhur telah mendirikannya dengan susah payah, penuh pengorbanan darah, nyawa dan harta. Jika ditinggalkan, sistem dan pengelolaan negara diurus oleh pihak lain yang tidak ikut berjuang, maka kemungkinan besar tidak akan sesuai lagi dengan semangat dan tujuan kemerdekaan yang digariskan oleh founding fathers.

Baca Juga :  MENYUMBANG NEGARA

Kritik Membangun

Abah Anom meminta segenap umat Islam memberikan dukungan kepada pemerintahan yang sah, sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah, Rasul dan ulil amr yang diperintahkan agama. Tetapi cinta negeri dan menaati pemerintah tidak boleh membabi buta, fanatisme, sehingga mengarah kepada ashabiyah, primordialisme dan nasionalisme sempit. Cinta dan taat harus disertai kritik dan koreksi yang konstruktif. Amar ma’ruf dan nahi munkar dijalankan bersama-sama, namun tidak sampai beroposisi. Pemerintah juga harus menerima kritik yang berdasarkan data dan fakta, bukan alergi dan apriori dan merasa benar sendiri, lalu memusuhi rakyatnya sendiri.

Cinta negeri sendiri harus diiringi kepekaan terhadap nasib sesama manusia tanpa sekat tempat dan batas negara. Ketika ada anak bangsa atau negeri lain yang dizalimi, tertindas, dijajah, diduduki dan diinvasi asing, umat Islam harus berdiri di depan melakukan pembelaan.

Selama ini kita dihadapkan pada seringnya para elit bersuara sangat keras dan kasar, tendensinya tak lagi mengeritik bahkan ingin menjatuhkan. Ada pula acara parodi media yang isinya menertawakan negeri sendiri. Wapres Jusuf Kalla dulu mengatakan, tidaklah baik menertawakan negeri sendiri, sebab sama dengan menjelekkan diri sendiri.

Alangkah eloknya kita bersama-sama menyintai negeri dan memperbaikinya secara kompak. Kita bangun budaya kritik secara kritis dan santun. Mohammad al-Huwaisi mengatakan, kritik dalam Islam hanya dibenarkan apabila pengeritiknya punya data yang akurat dan objektif, pengeritiknya ikut terlibat untuk memperbaiki keadaan, dan pengeritiknya tidak bermotif menjatuhkan orang atau pihak yang dikritik. Semoga negeri ini selamat dalam menjalani masa-masa sulit, diberi pemimpin yang amanah, terhindari dari bala bencana, menjadi baldah thayyibah wa rabbun ghafur, amin.

Iklan
Iklan