Banjarmasin, KP – Isu kekerasan terhadap perempuan dan anak bukanlah perkara sepele yang bisa dipandang sebelah mata. Menyadari tingginya urgensi penyelamatan korban, Pemerintah Kota Banjarmasin mengambil langkah strategis dengan menggembleng langsung para petugas layanan di garda terdepan agar memiliki insting dan keterampilan yang tajam.
Gebrakan penguatan kapasitas ini dimotori langsung oleh Ketua TP PKK Kota Banjarmasin yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Penanganan Masalah Perempuan dan Anak (Satgas PPA), Hj. Neli Listriani. Bertempat di Hotel Rodhita Banjarmasin, Rabu (26/08/2026), ia secara resmi membuka Pelatihan Manajemen dan Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.
Pelatihan krusial ini tak hanya menyasar petugas layanan medis atau hukum, tetapi merangkul utuh Tim Satgas PPA dan para Relawan SAPA KRPPA. Turut dihadiri oleh Kepala Dinas PPPA Kota Banjarmasin, H. M. Ramadhan, agenda ini menghadirkan pakar berbobot, yakni Dr. Didiet Widiowati, M.Si, dari Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) dan Poltekesos Bandung.
Dalam arahannya yang tegas, Hj. Neli mengingatkan seluruh elemen bahwa mengurus korban kekerasan adalah tanggung jawab yang sangat berat dan kompleks. “Penanganan kasus ini bukan pekerjaan sederhana, kita berhadapan langsung dengan urusan nyawa, keselamatan, masa depan, hingga kondisi psikologis korban yang hancur,” tegas Hj. Neli di hadapan para peserta.
Menurutnya, ketika seorang penyintas akhirnya berani angkat bicara dan menceritakan tragedi kelam yang dialaminya, hal itu merupakan sebuah lompatan kepercayaan yang luar biasa. Kepercayaan mahal tersebut mutlak harus dijawab dengan pelayanan yang profesional, pantang memberikan stigma atau menghakimi, menjaga kerahasiaan berlapis, serta mengambil tindakan yang tepat sasaran.
Lewat forum pelatihan ini, seluruh peserta benar-benar diasah untuk menajamkan analisis penanganan kasus di lapangan. Mereka dibekali cara merespons situasi krisis, mengidentifikasi kebutuhan mendesak korban, melakukan asesmen menyeluruh, menyusun rencana intervensi, hingga mendokumentasikan setiap temuan untuk keperluan rujukan dan hukum.
Secara khusus, Hj. Neli memberikan atensi kepada para Relawan SAPA KRPPA yang bersentuhan langsung dengan masyarakat akar rumput di tingkat kelurahan. “Tugas utama relawan adalah deteksi dini dan memberikan respons awal yang tepat, jangan merasa harus menangani seluruh persoalan sendirian, karena penanganan ini wajib melibatkan kolaborasi lintas sektor mulai dari kepolisian, medis, psikolog, hingga pendidikan,” pesannya.
Melalui pelatihan intensif ini, Hj. Neli menaruh ekspektasi tinggi agar kualitas SDM petugas tidak sekadar bertambah pintar secara teori, tetapi juga cekatan di lapangan. Ia berharap ketepatan dalam mengambil keputusan, kecepatan merespons laporan, serta alur rujukan yang jelas dapat terwujud demi menjadikan Kota Banjarmasin sebagai benteng yang benar-benar aman bagi perempuan dan anak. (Nug/K-5)















