Hujan dan Covid 19 Penjual Buah Merugi

Banjarmasin, KP – Memasuki musim pandemi covid 19 anomali hujan yang turun sulit difrediksi sejak awal puasa membuat penjual buah lokal dan impor merugi karena sepi pembeli.

Musim buah lokal dan panen serentak dibeberapa sentral penghasil tidak membuat penjual buah eceran bisa meraup omzet saat pendemi lebih pasalnya musim hujan yang turun setiap harinya membuat penjualan buah turun hingga 50 persen jika dibanding dengan kondisi nomal

Hal ini dijelaskan Amin penjual buah lokal dan impor dikawasan Sultan Adam kepada wartawan kemaren siang. 

Sekalipun harga buah lokal dan impor sangat stabil namun penjualan sepi pembeli pasalnya musim hujan dan PSBB saat ini seperti jarang masyarakat membeli buah termasuk para penjual es jus dan buah yang mulai mengurangi pembeliannya.

“Buah lokal yang kami jual cukup terjangkau seperti kestela hawai dijual hanya Rp6000,- per kilonya, semangka Pelaihari yang terkenal manisnya dijual Rp5000,- per kilonya harganya kami turunkan Rp1000,- karena musim hujan seperti ini semangka dan kestela cepat busuk dan mangga jenis gadung,’’terangnya.

Sedangkan buah impor ada anggur hitam dijual Rp70,000 per kilo dan anggur merah Rp40,000,- per kilo, buah fier Rp20,000,- per kilo, apel fuji dijual Rp20,000,- per kilo, apel madu Rp40,000,- per kilo sedangkan jeruk santang dijual Rp10,000,- per kilonya serta jeruk lemon Rp45,000,- per kilo namun semakin sepi pembeli.

Berita Lainnya
1 dari 891
Loading...

Dalam kondisi normal biasa bisa terjual ratusan kilo buah lokal dan impor setiap harinya seangkan saat musim hujan dan covid seperti ini menjual 30 kilo saja sudah sangat berat.

Dijelaskan Amin, yang menjual buah dengan menggunakan armada pik up biasa yang paling banyak membeli itu pelangggan para penjual es buah dan jus 1 orang bisa membeli lebih dari 20 kilo dengan berbagai buah pilihan seperti alfukat, nenas madu, apel, semangka hingga buah melon.

Untuk ibu rumah tangga biasanya lebih memilih buah semangka, pepaya, melon, alfukat hingga anggur dan buah naga merah itupun membeli hanya secukupnya saja.

“Saat ini buah lokal mulai kuasai pasar hingga mengalahkan buah impor yang selalu ada tanpa mengenal musim apalagi jika dollar US terus menguat sehingga harga buah impor melambung tinggi hanya sejumlah warga saja yang membeli buah ini,” kata Sofyan penjual buah lokal kawasan Japri Zam-Zam.

“ Saya menjual buah semangka Rp7000 per kilo turun menjadi Rp5000,-, buah lengkeng dari Rp35,000,- turun menjadi Rp25,000,- pe rkilo begitu juga buah naga asal Pelaihari dari Rp20000 turun menjadi Rp15,000,- per kilo, saat ini meskipun harga turun namun sepi pembeli,” sebutnya.

Penjualan buah lokal atau import akan naik jika pada saat musim panas pembeli paling banyak paman penjual es campur dan ibu rumah tangga

Ribut penjual es campur dikawasan Kayu Tangi menjelaskan, musim hujan yang tidak mengenal waktu dan lagi pandemi ini membuat ia bersama teman-teman kehilangan pelanggannya. (hif/K-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya