Pasar Malam Blauran, Ibarat Hidup Segan Mati Tak Mau

Kejayaan Pasar Malam Blauran mulai meredup sejak memasuki awal tahun 2000-an. Bertolak belakang di rentang tahun 1970 hingga 1990-an.

BANJARMASIN, KP – Pasar Malam Blauran Banjarmasin sangat fenomenal di era tahun 1970 hingga 1990-an. Keberadaannya seolah bagai magnet bagi warga Kota Banjarmasin kala itu.

Apalagi, jika di akhir pekan, Pasar Malam Blauran disesaki oleh warga yang berkunjung, meski hanya sekedar cuci mata saja.

Geliat pasar tradisional ini begitu terasa, di mana ratusan penjual menjajakan ragam dagangannya. Hampir semua tersedia. Roda perekonomian semakin hidup, lantaran ramai terjadi transaksi jual beli.

Namun, pada akhirnya, semua berbanding 180 derajat. Jejeran petak-petak pedagang yang dulunya memadati kawasan jalan Brigjen Katamso dan jalan Pasar Niaga, kini jumlahnya bisa dihitung jari. Perputaran perekonomian, terlebih di saat pandemi, seakan mati suri.

Kejayaan Pasar Malam Blauran mulai meredup sejak memasuki awal tahun 2000-an. Bertolak belakang di rentang tahun 1970 hingga 1990-an.

“Dulu, mulai jalan Katamso, jalan Niaga, jalan Hasanuddin HM hingga kawasan Pasar Sudimampir hidup dengan denyut pasar malamnya. Pedagang kaki lima dan pertokoan terlihat sangat ramai,” kenang Rusdiansyah, salah seorang pedagang yang masih kukuh bertahan di Pasar Malam Blauran, saat ditemui Kalimantan Post, Rabu (2/9/2020) malam.

Ia menceritakan, kehidupan pasar malam di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ini tak kalah ramainya dibanding kota-kota besar di Pulau Jawa.

“Hampir semua ada di pasar malam Blauran, mulai dari konveksi, alat rumah tangga, perlengakapan dapur, hingga aneka kuliner, yang menyediakan makanan khas Banjar di kaki lima,” ungkap Rusdiansyah yang kini berusia 65 tahun.

Masih menurut Rusdiansyah, pada tahun 1992, Pemerintah Kota Banjarmasin memindahkan para pedagang Pasar Blauran ke Pasar Antasari. Di tempat barunya tersebut, Pasar Blauran masih menjadi daya tarik pengunjung. Pasalnya, ketika itu, Pasar Blauran masih menjadi pasar malam tradisional satu-satunya di Banjarmasin.

Berita Lainnya
1 dari 451
Loading...

Hanya saja, kebijakan Pemkot pada awal tahun 2000-an mengharuskan mereka pindah lagi, meninggalkan Pasar Antasari. Para pedagang kembali direlokasi ke tempat semula di kawasan jalan Brigjen Katamso dan Pasar Niaga.

Semua kenangan Rusdiansyah, tak mungkin lagi bisa kita rasakan di Pasar Malam Blauran saat ini. Pasar tradisional itu, kini semakin tersisih dengan banyak bermunculannya ritel modern dan Mall.

Fahrurrazi (Azi), pedagang lainnya yang masih setia menghuni Pasar Malam Blauran, menuturkan, perubahan mulai ia rasakan sejak tahun 2015 – 2016. Suasana pasar sudah mulai sepi, sampai-sampai omzet dagangannya turun jauh.

Memasuki tahun 2020 omzetnya semakin turun drastis. Mirisnya lagi, di tengah kepungan wabah Covid-19, omzet Azi yang berjualan kosmetik terjun bebas ke angka 90 persen.

Ia mengatakan, para pedagang banyak yang pindah ke pasar lain, ada juga yang beralih profesi, hingga tak sedikit rekannya yang gulung tikar karena kehabisan modal.

Padahal, tambahnya, dulu pasar malam yang dimulai sejak sore hingga malam hari ini, merupakan ciri khas Banjarmasin. Bahkan, pengunjungnya bukan hanya dari Banjarmasin saja, tapi juga dari luar kota.

Pria paruh baya ini mengiaskan, Pasar Blauran saat ini seperti mati segan, hidup tak mau. Ia dan sebagian pedagang lainnya masih tetap bertahan, berharap keadaan akan berubah menjadi lebih baik.

“Saya setiap hari juga mengeluarkan biaya operasional, seperti jasa buruh tarik gerobak antara Rp15 ribu – Rp20 ribu perhari, biaya keamanan Rp3 ribu perhari, retribusi pasar Rp2 ribu perhari, dan jasa penitipan gerobak Rp50 ribu perbulan. Jika dikalkulasi pengeluaran dalam 1 hari tidak kurang dari Rp25 ribu,” ujarnya merinci.

Sementara, lanjutnya, pendapatan kotornya belakangan ini, perhari hanya dikisaran Rp50 ribu – Rp60 ribu, jika dihitung laba mungkin hanya 20 persen. Jadi, keuntungan bersih perhari hanya sekitar Rp10 ribu – Rp12 ribu saja.

“yah, maksimal untungnya Rp15 ribu perhari. Otomatis minus lah jika biaya operasional saja sudah Rp30ribu-an. Sudah tentu nombok,” ujar Azi, yang gerobak jualannya tepat berada di depan Hotel Perdana – yang mulai dibongkar, karena dijual pemiliknya.

“Harapan kami, instansi terkait dapat menghidupkan kembali pasar malam Blauran, sehingga dapat menjadi roda perputaran perekonomian rakyat. Bukan dibiarkan saja dan mati secara perlahan,” imbuh Azi, yang sudah puluhan tahun mencari nafkah di pasar malam Blauran. (opq/K-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya