SP- I Disiapkan Bagi Siswa yang Ikut Demo Omnibus Law

Banjarmasin, KP – Beberapa hari yang lalu, banyak siswa sekolah baik tingkat pendidikan SMA/SMK bahkan SMP yang kedapatan ikut melakukan unjuk rasa atau demonstrasi menolak Omnuibus Lawa Undang-Undang Cipta Kerja.

Hal itu terlihat saat petugas kepolisian mengamankan ratusan orang yang didalamnya mayoritas merupakan remaja yang masih berstatus sebagai siswa di beberapa sekolah di Kota Banjarmasin.

Karenanya, Wakil Kepala Sekolah bidang Humas SMA Negeri 1 Banjarmasin, Fery Setyawan mengatakan bahwa hal tersebut menjadi keprihatinan tersendiri bagi semua kalangan.

Pasalnya, aksi unjuk rasa dilakukan di masa pandemi Covid-19 ini melibatkan pelajar SMA yang dinilai masih belum mengerti sepenuhnya apa itu Omnibus Law.

Menurutnya, himbauan pelarangan anak-anak dalam hal mengikuti aksi demonstrasi yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu dirasanya sudah cukup beralasan.

“Karena mereka (siswa) juga tidak mengetahui secara rinci apa itu Undang-Undang Cipta Kerja, apa yang dimaksud dengan Omnibus Law,” ucapnya saat dihubungi Kalimantan Post melalui pesan singkat, Selasa (27/10) siang.

Oleh karena itu, pihaknya sudah menyiapkan sanksi bagi siswa yang terbukti mengikuti aksi unjuk rasa.

” Kita kasih dulu SP I, sebelumnya kita akan memanggil siswa yang bersangkutan beserta orangtuanya ke sekolah untuk mendapatkan penjelasan terkait pokok permasalahannya,” tambahnya.

Ia menjelaskan, di usia remaja, bisa dipastikan keputusan para siswa yang ikut demo itu karena ikut-ikutan teman dan merasa keren ketika di shoot atau disorot oleh media massa.

Berita Lainnya
1 dari 2.033

“Jadi bisa dipastikan mereka tidak tahu apa itu UU Cipta Kerja, mereka hanya ingin terlihat keren dan eksis mengikuti temannya,” jelasnya.

Kendati demikian, sebagai guru, pria dengan sapaan Fery ini mengaku bahwa pihak sekolah sangat menghargai ekspresi siswanya untuk mengeluarkan pendapat. Namun tetap harus dilandasi dengan tujuan dan maksud yang jelas.

“Mereka harus tahu betul apa yang mereka perjuangkan. Tidak hanya sekedar melihat postingan ajakan turun ke jalan di medsos,” ujarnya.

Pada intinya, ia melanjutkan, pihaknya sangat tidak setuju jika ada anak di usia SMA melakukan demonstrasi, pasalnya secara psikologis dan keilmuan yang dimiliki para siswa belum mencapai tahap tersebut.

“Tidak hanya melalui pendekatan persuasif kepada orang tua siswa terkait hal ini, kami juga memberikan himbauan melalui media sosial agar para siswa tidak ikut demo.

Banyak yang harus dilakukan selain demo bagi anak remaja usia SMA,” pungkasnya.

Sementara itu, di pemberitaan lain, pihak Sekolah SMA 3 Kota Banjarmasin siap memberikan sanksi tegas kepada siswanya yang ikut demonstrasi.

Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Banjarmasin mengatakan, hal itu sudah disosialisasikannya kepada siswa dan orang tuanya melalui surat edaran.

“Tugas mereka belajar, jadi dalam surat itu kami tegaskan bahwa pihak sekolah tak akan mentolerir.

Jika ada siswa SMAN 3 secara terang-terangan ikut aksi demo UU Cipta Kerja. Siswa bisa tidak naik kelas atau nilai ulangannya kami kurangi,” ungkapnya singkat pada awak media. (zak/K-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya