Kue Khas Banjar Tetap Bertahan di Tengah Persaingan Bisnis Kuliner

Banjarmasin, KP – Keberadaan kue tradisional kini semakin terpinggirkan oleh zaman. Hampir seluruh toko kue atau gerai-gerai kudapan yang sering ditemui di pinggir jalan, kebanyakan menjual jenis kue yang lebih modern dan kekinian.

Meski, kian terdesak dengan banyak bermunculannya jenis kue yang makin beragam, kue tradisional tetap berpotensi untuk tetap bertahan dalam bisnis kuliner. Sebab, kudapan ini tergolong cukup murah dari sisi harga, dan kekhasannya yang memiliki daya tarik tersendiri bagi orang untuk mencicipinya.

Di Banjarmasin, ada beberapa jenis jajanan tradisional khas Banjar. Hanya saja, saat ini tak terlalu banyak pedagang yang menjualnya. Jika ada pun, jumlah penjualnya bisa dihitung jari.

Seperti Warung Serabi Rafif, yang terletak di jalan Sulawesi, Kelurahan Pasar Lama, Banjarmasin Tengah. Di warung ini, tersedia beberapa jenis kue (wadai) khas Banjar, seperti Putu Mayang, Laksa, Serabi, Lupis, Kokoleh, Selada Gumbili dan Babongko.

Buka dari pukul 09.00 wita sampai 17.00 wita, Anisa (28), pemilik Warung Serabi Rafif ini, setiap hari selalu setia melayani konsumen dan pelanggannya yang datang.

“Alhamdulillah, ada saja pelanggan yang datang membeli. Penjualan lumayan ramai, terutama setelah PSBB dilonggarkan pemerintah beberapa bulan lalu. Waktu, awal-awal Corona sepi sekali,” ujar Anisa kepada Kalimantan Post, Senin (7/12).

Dalam sehari, ia mengaku membutuhkan 8 kilogram tepung beras untuk membuat aneka kue tradisional khas Banjar ini.

“Sebagian besar bahan bakunya menggunakan tepung beras, seperti Serabi, Putu Mayang, Laksa, Kokoleh dan Babongko. Kecuali Lupis yang memakai beras ketan dan Selada Gumbili dengan bahan dasar singkong,” jelasnya.

Berita Lainnya
1 dari 782

Untuk Lupis, Anisa biasa memerlukan 3 liter beras dalam sehari. Warna hijaunya, ia dapatkan dari bahan alami dan rasa manis “Saya menggunakan pewarna alami, dan tanpa pemanis buatan. Warna hijau Lupis itu menggunakan daun katu yang dicampur daun pandan. Daun katu dan pandan diblender, nanti airnya kita ambil. Warna Kokoleh yang hijau juga pakai daun pandan,” ucap Anisa.

Dari segi harga, kue-kue Banjar ini dijamin murah, konsumen tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk membelinya. Seperti, Putu mayang harganya Rp 3000, Laksa Rp 3000, Serabi Rp 2000, Lupis Rp 2000, Kokoleh Rp 2000, Selada Gumbili Rp 2.000, dan Babongko Rp 2000.

Selanjutnya, kata Anisa, untuk kuahnya dia menggunakan santan yang sudah dimasak dengan campuran telur itik. Kemudian, gula merah memakai yang asli dari Barabai. Rasa manis dari gula merah Barabai ini diyakininya memberi rasa manis yang berbeda dibanding gula merah lain.

“Karena asli dari pohon aren, rasa manisnya beda, gula merah Barabai ini lebih enak dan lebih harum. Kalau gula merah lain bisa bercampur bahan lainnya. Tidak murni lagi,” beber Anisa, yang sudah 2 tahun berjualan kue khas Banjar.

Menurutnya, keahliannya membuat kue tradisional Banjar, ia peroleh dari keluarganya yang terlebih dulu menekuni bisnis ini. Namun, karena faktor usia, kerabatnya tersebut tidak lagi bisa berjualan.

“Dulu, yang jualan kue tradisional Banjar ini keluarga saya, tapi beliau sudah tua dan tak bisa lagi untuk berjualan. Kemudian, saya belajar dari beliau cara membuat kue-kue Banjar ini, sampai bisa dan meneruskan usaha ini,” jelasnya

Anisa berharap, bisnis kuliner tradisional Banjar ini jangan sampai berhenti pada dirinya saja. Tapi, ada pelaku-pelaku usaha kuliner lainnya yang terus mengembangkannya.

“Selain bisnisnya, yang terpenting adalah menjaga tradisinya. Bagaimana, agar keberadaan kue tradisional Banjar ini tak hilang digilas waktu,” harapnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya