Tim BPDASHL Barito Pantau Lokasi RHL di Desa Liyu

Paringin, KP – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Barito (BPDASHL) Barito Banjarbaru lakukan monitoring terhadap Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) pada wilayah binaan.

Kali ini, monitoring dilakukan di Kabupaten Balangan yang memiliki lima desa binaan untuk program tersebut.

Kasi Evaluasi BPDASHL Barito, M Imam Sulistianto memimpin langsung jalannya kegiatan. Ia mendatangi kawasan RHL di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalsel, Rabu (16/12) kemarin.

RHL di Desa Liyu diketahui mencapai 606 hektar dan terbagi pada dua pola penanaman, yakni pola intensif dan agro foresty.

Dari hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Tim didampingi KPH Balangan, sebut Imam, tanaman yang ada saat ini sudah cukup memuaskan. Terlebih ia dapat memantau sejumlah tanaman secara langsung. Bahkan ucapnya, penanaman dan hasil tanam cukup rapi. Selain itu jalur tanam pun masih terlihat jelas.

Tim BPDASHL Barito beserta KPH Balangan memantau sejumlah blok atau petak yang ada di kawasan RHL Desa Liyu. Imam juga mengamati beberapa tanaman yang telah ditanam pada tahun 2019 lalu. Hasilnya, hampir 85 persen perkembangannya sesuai yang diharapakan.

Beberapa tanaman yang ditanam di kawasan ini di antaranya pohon karet, sengon, petai, jengkol, garu dan kopi. Semua pohon yang ditanam merupakan tanaman yang menghasilkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Imam juga menilai, persentase hidup tanaman yang ada pada kawasan RHL mencapai 85 persen. Ke depan pada evaluasi berikutnya diharapkan hasil serupa. Terlebih persentase hidup ditargetkan 75 persen.

Berita Lainnya
1 dari 462

Jelas Imam, keberadaan RHL ini nantinya akan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Terutama dalam hal meningkatkan ekonomi karena hasilnya yang bisa dikelola. Sementara pihaknya akan berperan selama tiga tahun dari masa penanaman hingga pemeliharaan tahun pertama dan kedua.

“Setelah diserahterimakan, kami berharap akan dipelihara secara lanjut oleh masyarakat. Terlebih mereka yang akan menikmati hasilnya,” ucap Imam pasca monitoring usai.

Ia juga menambahkan hasil dari karet okulasi memiliki produktifitas yang tinggi. Selain itu hasil panennya pun disinyalir lebih bagus.

Imam berharap, ke depan, masyarakat akan tetap bersemangat untuk mengelola walaupun tanpa ada intervensi dana dari APBN. Pengelolaan diharapkan bisa berlanjut melalui swadaya atau mandiri dari pemilik lahan atau kelompok tani.

Secara keseluruhan, BPDASHL Barito menjalankan program RHL pada luasan 1.250 hektar lahan di Kabupaten Balangan. Terbagi di lima desa yakni Desa Liyu, Marajai, Mantuyan, di Kecamatan Halong. Dua sisanya ada di Desa Ajung dan Mayanau pada Kecamatan Tebing Tinggi.

Sebagaimana diketahui, 2020 ini, merupakan tahun pertama pemeliharaan pada pohon yang ditanam. Sementara 2021 menjadi tahun kedua pemeliharaan dan nantinya akan diserahkan ke pemangku wilayah yakni KPH Balangan.

Perihal penyerahan pengelolaan kepada KPH Balangan nantinya, Kasi Perlindungan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Balangan, M Emir Faisal mengharapakan partisipasi masyarakat dalam pengembangan tanaman nantinya. Terlebih tujuan dari RHL ucapnya untuk mengurangi lahan kritis. Selain itu juga meningkatkan taraf hidup dan ekonomi masyarakat bagi mereka yang mengelola lahan tersebut.

Lebih lanjut jelas Emir sejauh ini pula, KPH Balangan berperan aktif untuk mengawasi dan monitoring perkembangan pohon yang ditanam. Tentunya juga bekerjasama dengan pihak ketiga yang melakukan kegiatan tersebut di bawah naungan dari BPDASHL Barito. (rel/K-6)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya