Banjarmasin Tak Ada Jaminan Pakai Vaksin Astra Zeneca

Banjarmasin, KP – Kota Banjarmasin secara tegas menyatakan tidak akan menggunakan vaksin jenis Astrazeneca yang keberadaannya belakangan menjadi kontroversi di masyarakat.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Machli riyadi, keputusan tersebut diambil jika vaksin yang didistribusikan sebanyak 1,1 juta dosis itu tak mempunyai jaminan keamanan dan halal jika diberikan ke masyarakat.

“Kita akan telaah dulu apakah vaksin jenis ini aman. Kalau tidak ada jaminan keamanan bagi penerima vaksin, tentu akan kita tolak,” tegasnya saat ditemui awak media di press room Balai Kota Banjarmasin. Beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, jaminan yang ia maksud tersebut adalah dari Kementerian Kesehatan RI, Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kendati demikian, ia menambahkan, jika ada jaminan dari pemerintah bahwa penggunaan vaksin tersebut aman dan halal. Maka tidak menutup kemungkinan juga akan digunakan sebagai salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Kalau ada jaminan, yaa tidak ada alasan bagi kita untuk menolak,” ungkap mantan Wadir Administrasi dan Keuangan RSJ Sambang Lihum itu.

Lantas bagaimana cara Dinkes untuk meyakinkan masyarakat untuk mau divaksin jika memang vaksin jenis Astrazeneca tersebut memang digunakan untuk masyarakat umum?

Berita Lainnya

Satgas Belum Rekomendasikan PTM

1 dari 3.201

Pria dengan sapaan Machli itu mengaku memiliki cara jitu u tuk mengatasi kekhawatiran masyarakat terkait keamanan dan kehalalan vaksin tersebut.

“Kita akan menggandeng para pemuka agama dan masyarakat yang bekerja sebagai pengurus rumah ibadah. Ini adalah cara yang paling efektif untuk memecah kekhawatiran warga,” ujarnya.

Pasalnya, Machli menilai dengan menggandeng para ustadz dan ustadzah serta pengurus masjid, gereja dan tempat ibadah lain di Kota Seribu Sungai ini mampu meyakinkan masyarakat agar bisa mengikuti dan mensukseskan program vaksinasi ini.

“Warga Banjarmasin ini dikenal dengan masyarakat yang religius, ini tidak hanya berlaku bagi islam saja. Agama lain pun juga begitu. Jadi jika pemuka agama yang berbicara maka hasilnya akan berbeda dengan seorang dokter,” jelasnya.

Selain itu, tujuan menggandeng para pengurus tempat ibadah adalah agar bisa menggelar program vaksinasi dengan cara jemput bola di tempat tersebut. Misalnya di halaman masjid, gereja, vihara dan pura di Banjarmasin.

“Insyaa Allah, dengan cara ini kita bisa meyakinkan warga untuk bervaksin. Sehingga terbentuklah herd immunity atau kekebalan kelompok di tengah masyarakat,” ucapnya.

Disamping Machli kembali menegaskan, bahwa saat ini vaksin yang digunakan dan disuntikkan ke masyarakat masih vaksin jenis sinovac.”Astrazeneca belum masuk ke kita, jadi kita masih pakai vaksin Sinovac,” tandasnya. (Zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya