PTM Berlanjut
Pakar Covid-19 : Sangat Mengejutkan!

Banjarmasin, KP – Keputusan untuk tetap melanjutkan pola Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Banjarmasin menjadi sorotan oleh anggota Tim Pakar Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin.

Dosen ULM yang akrab disapa Muttaqin itu mengaku terkejut dengan langkah Pemerintah Kota Banjarmasin untuk tetap melanjutkan PTM di masa tingginya pertumbuhan kasus Covid-19.

Menurutnya, persoalan mendasar mengenai pentingnya menunda PTM saat ini adalah tingkat penularan di Banjarmasin sedang sangat tinggi

“Kebijakan melanjutkan PTM tersebut menempatkan guru, staf sekolah, murid dan orang tuanya pada resiko tinggi terpapar Covid-19,” ungkapnya melalui pesan singkat, Minggu (18/07) siang.

Ia lantas merincikan data Dinkes Kalsel dan Kemenkes RI, pada 12-17 Juli 2021. Dalam enam hari terakhir terjadi tambahan 717 kasus konfirmasi positif Covid-19 sehingga kasus aktif melonjak menjadi 913 orang.

Per 17 Juli ada sebanyak 417 pasien Covid-19 sedang dirawat di rumah sakit, sehingga RS di Banjarmasin naik menjadi 69 persen. Padahal minggu lalu BOR-nya masih 61 persen.

Adapun Tingkat Positivitas di Kota Banjarmasin per minggunya pada 17 Juli mencapai 31 persen, sedangkan per hari pada tanggal yang sama sebesar 36 persen. Sebelumnya, pada 1 Juli Tingkat Positivitas Banjarmasin per minggu berada pada level 20 persen sedangkan per harinya 24 persen.

Angka Tingkat Positivitas 36 persen merefleksikan dari setiap 100 penduduk Kota Banjarmasin yang dites sebanyak 36 orang di antaranya positif Covid-19.

“Artinya kasus penularan di Banjarmasin sedang sangat tinggi. Padahal menurut standar WHO, maksimal Tingkat Positivitas adalah 5 persen saja,” tekannya.

Berita Lainnya
1 dari 3.204

Ia menegaskan, dalam kondisi pertumbuhan kasus sudah meningkat secara eksponensial, tingkat penularan tinggi, rumah sakit mulai penuh, maka kegiatan apapun yang sifatnya menyebabkan terjadinya mobilitas penduduk serta mengumpulkan orang-orang dalam satu tempat justru harus dihentikan sementara waktu.

“Tujuannya jelas untuk mencegah penularan yang lebih masif dan mencegah rumah sakit kolaps akibat kebanyakan pasien Covid-19 yang datang, termasuk PTM,” tukasnya.

Pasalnya, berbagai studi menyebutkan jika tingkat penularan Covid-19 di masyarakat sedang tinggi, maka risiko penularan di sekolah juga semakin besar.

Terkait PTM dilaksanakan di zona kuning dan hijau, Muttaqin menilai zona risiko aman, hijau dan kuning di Banjarmasin pada tingkat kelurahan adalah zona yang absurd.

Bukan tanpa alasan, penilaian itu dikarenakan beberapa hal penting yang tidak dipenuhi oleh Pemerintah Kota Banjarmasin.

Pertama tidak ada publikasi penzonaan kelurahan di Banjarmasin yang bisa diakses publik. Kedua, indikator apa yang digunakan juga tidak diketahui publik.

“Ketiga, katakanlah sebuah keluarga ada di zona risiko hijau menurut mereka. maka bagaimana mereka memastikan dan menjamin kelurahan tersebut aman?,” ujarnya.

Kondisi tersebut dikarenakan tidak adanya pengaturan pergerakan manusia lintas batas kelurahan di Banjarmasin yang menyebabkan kebingungan di masyarakat.

Kemudian, dengan kebijakan PTM tetap jalan, kerumunan tetap ramai di Banjarmasin, maka bukan tidak mungkin Banjarmasin akan mengalami situasi seperti Balikpapan yang saat ini dalam 6 hari terakhir (12-17 Juli) ada 2.976 kasus positif dan 130 kasus kematian Covid-19 di kota kilang minyak tersebut.

“Maka dari itu kita harus mencegah hal tersebut terjadi di Kota Banjarmasin,” tutupnya. (zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya