Mengentaskan Kemiskinan : Memberi Kail Atau Ikan?

Oleh : Paulus Mujiran
Aktivis Pemberdayaan Masyarakat Pantai Utara Kota Semarang

Pengentasan kemiskinan menjadi isu menarik sepanjang waktu. Menariknya tidak ada cara yang sangkil dan mangkus mengatasi persoalan ini. Gerakan-gerakan dan upaya pengentasan kemiskinan juga terus berkembang dari waktu ke waktu. Dahulu kemiskinan dientaskan dengan diberikan bantuan langsung atau dikenal dengan gerakan karitatif. Ini berlangsung di tahun 1960 sampai awal 1980 an ketika berdiri lembaga-lembaga sosial karitatif untuk mengentaskan kemiskinan. Sebagian masih bertahan sampai sekarang.

Meski cara ini sudah lama ditinggalkan di era pandemi dipraktekken kembali dengan cara membagi uang tunai, sembilan bahan pokok. Kemudian dipraktekkan gerakan pemberdayaan masyarakat karena dipercaya orang menjadi miskin disebabkan oleh lingkungan struktural yang menyebabkan dia menjadi miskin. Bagi-bagi bantuan tidak menyelesaikan masalah. Di era awal 2000-an menjamur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bertujuan mengatasi kemiskinan dengan konsep yang berbeda dari dekade sebelumnya.

Berbicara pengentasan kemiskinan kita diingatkan filosofi China kuno yang hingga kini menjadi slogan aktivis pemberdayaan masyarakat yakni memberi kail atau ikan. Memberi kail supaya mereka yang miskin dapat mencari kesejahteraan sendiri, mandiri atau berdaya dan tidak bergantung kepada orang lain. Dalam aktivitas pemberdayaan masyarakat mendidik mereka menjadi terampil kerap dianggap sebagai cara keluar dari kemiskinan.

Masalahnya, menurut Mulyadi Sumarto (1998) memberikan kail ternyata belum cukup karena orang tersebut belum tentu tahu cara menggunakan kail sehingga perlu diberi pelatihan cara menggunakan kail tersebut. Diberi kail dan pelatihan ternyata belum cukup karena selama pelatihan agar orang tersebut mampu mengikuti pelatihan dengan baik ia butuh pemenuhan kebutuhan pokok yakni makanan, jaminan kesehatan dan kebutuhan dasar lain.

Mempunyai kail masih membutuhkan umpan untuk memancing maka perlu diberikan umpan. Ketika orang sudah memiliki kail, menguasai pelatihan, terpenuhi kebutuhan pokoknya, memiliki umpan bahkan siap memancing apakah bisa dipastikan mendapatkan ikan. Belum tentu juga. Bagi sementara orang meski peralatan semua terpenuhi belum mendapat ikan karena tidak ada kolam. Maka perlu dibangun kolam agar orang tersebut dapat memancing.

Berita Lainnya

UMKM Online Bukan Sekadar Tren

KESENJANGAN TATA RUANG DAN TATA WILAYAH

1 dari 354

Pola pikir seperti ini kerapkali menjadi sarkasme aktivitas pemberdayaan masyarakat. Lingkaran setan kemiskinan tidak mudah diretas. Ketika pemberdayaan dilakukan dengan memberikan alat produksi (kail), kemudian diberikan keterampilan (skill), diberikan jaminan sosial berupa makan sekaligus modal usaha keberhasilannya pun masih dipertanyakan. Itulah sebabnya meminjam Sidharta Susila (2021) biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan orang miskin seringkali tidak sebanding dengan hasil yang didapat.

Lebih celaka lagi kalau si miskin tidak merasa dirinya miskin sehingga seabreg gerakan yang menyasar padanya tidak akan berdampak. Mental si miskin juga sering sudah rusak oleh model pelatihan yang keliru. Sehingga mereka hadir dalam sesi pelatihan bukan dalam rangka mendapat pengetahuan dan keterampilan melainkan memperoleh uang saku. Setelah pelatihan selesai tidak ada keterampilan yang berbekas. Biasanya si miskin sudah mengikuti sesi sejenis di banyak tempat dengan materi yang berbeda-beda.

Di pihak lain ketika si miskin sudah berhasil menghasilkan dari kolamnya atau barang produksi akan dibawa kemana barang produksi tersebut? Atau kalau berupa keterampilan akan dibawa kemana hasil keterampilan yang diperoleh? Lembaga kami pernah melatih 100 anak jalanan untuk keterampilan montir dan tambal ban. Setelah dilatih kemudian diberikan peralatan bengkel dan alat tambal ban. Namun setelah memiliki keterampilan tidak ada yang diterima di bengkel bahkan yang membuka tambal ban di tepi jalan pun tidak ada yang laku.

Disamping segala tetek bengek itu masih ada stigma yang dilekatkan kepada si miskin untuk dapat bekerja. Seperti rendahnya keterampilan, kurangnya tanggung jawab, mental instan, dan stigma-stigma negatif lain. Akibatnya usaha orang miskin tidak pernah dapat berkembang. Kenyataan mereka memiliki kolam namun tidak mampu bersaing dengan pasar yang ada. Tidak bisa dielakkan sebagian besar pasar telah diprivatisasi oleh para elite sehingga peluang bagi si miskin kian dipersempit.

Mengentaskan kemiskinan bukan perkara mudah di tengah struktur kapitalisme dalam segala bidang yang kurang mendukung konsep pemberdayaan masyarakat miskin. Namun begitu perlu ada orang yang mempunyai keteguhan dalam menggerakkan, melatih dan memberdayakan masyarakat miskin agar mandiri. Kehadiran LSM atau Yayasan yang bekerja untuk mengentaskan kemiskinan tetap diperlukan.

Gerakan ini kerapkali tidak berbuah banyak. Sudah banyak orang frustasi sebagai penggerak masyarakat dan pengentas kemiskinan. Tetapi satu dua orang bisa berubah pola pikirnya untuk tidak berkutat dengan kemiskinannya dapat dipandang sebagai keberhasilan.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya