Wali Kota Banjarbaru Buka Rembuk Stunting

Banjarbaru,KP- Wali Kota Banjarbaru Aditya Mufti Ariffin didampingi Wakil Wali Kota Banjarbaru Wartono dan Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru Said Abdullah menghadiri Acara Pembukaan Rembuk Stunting Tingkat Kota Banjarbaru Tahun 2021. Bertempat di Aula Gawi Sabarataan Pemerintah Kota Banjarbaru.

Dilaporkan dalam penyampaian capaian, progres, dan aksi Percepatan Penurunan Stunting oleh Ketua Tim Kovergensi Percepatan Penurunan Stunting (KP2S) Kota Banjarbaru Kanafi.

“Rembuk Stunting Tingkat Kota Banjarbaru Tahun 2021 kita turunkan angka stunting dengan “Mari BASINGSING” (Banjarbaru Singkirkan Stunting),” ujar Kanafi, Kamis (02/09/2021).

Wali Kota Banjarbaru Aditya Mufti Ariffin menyampaikan bahwa stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia dibawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu dari janin hingga anak berusia 2 (dua ) tahun.

Stunting yang disebabkan oleh faktor multidimensi, antara lain praktek pengasuhan yang tidak baik, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya akses makanan bergizi, dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Berita Lainnya
1 dari 685

Bahkan dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif, serta pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, perlu dilakukan percepatan penurunan stunting yang dilaksanakan secara holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi di antara kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan para pemangku kepentingan.

Upaya penurunan prevalensi stunting ditargetkan tercapai 14% pada tahun 2024 dari 27,67% pada tahun 2019. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah pusat telah memutuskan lima pilar pencegahan stunting, yaitu: (1). Komitmen dan visi kepemimpinan; (2). Kampanye nasional dan perubahan perilaku; (3). Konvergensi, koordinasi, dan konsolidasi program pusat, daerah dan kelurahan/desa; (4). Gizi ketahanan pangan; (5). Pemantauan dan evaluasi.

Sebagaimana telah dilaporkan oleh Ketua Tim Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting (KP2S) Kota Banjarbaru, bahwa berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kementerian Kesehatan yang dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali, menunjukkan bahwa prevalensi stunting Kota Banjarbaru pada tahun 2018 sebesar 39,73% yang merupakan prevalensi stunting paling tinggi se- Kalimantan Selatan.

“Dengan segala upaya yang telah dilakukan, prevalensi stunting Kota Banjarbaru pada tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 18,08% dan kembali turun pada tahun 2020 menjadi sebesar 14,19% yang dicatat melalui elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-ppgbm).” Ujar Wali Kota Banjarbaru Aditya Mufti Ariffin.

Aditya berharap agar kegiatan rembuk stunting yang dilaksanakan pada hari ini dapat berjalan lancar dan dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi proses percepatan penanggulangan stunting di Kota Banjarbaru. Pada kesempatan itu juga di lakukan penandatanganan Komitmen Bersama Percepatan Penurunan Angka Stunting Kota Banjarbaru Tahun 2021. (Dev/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya