Hasnuryadi Serahkan Alat Pembuat Bricket untuk Warga Kampung Ketupat

Banjarmasin, KP – Warga di Kampung Ketupat, Kelurahan Sungai Baru, Banjarmasin Tengah merasa gembira ketika menerima dua set alat pembuat bricket sebagai bahan bakar memasak.

Alih teknologi pembuatan bricket serbuk kayu gergaji sebagai energi alternatif pada industri rumah tangga ini merupakan hasil karya mahasiswa ULM Banjarmasin,

Alat ini menjadi produk teknologi yang diseminasikan ke masyarakat dan difasilitasi oleh Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Tahun Anggaran 2021.

Hasnuryadi Sulaiman, anggota DPR RI Komisi VII, mengungkapkan syukur dan rasa bangganya atas keberhasilan mahasiswa-mahasiswi ULM ini dalam mengembangkan produk teknologi pada industri rumah tangga.

“Alhamdulillah, alat ini merupakan alih teknologi pembuatan bricket dari serbuk gergaji dan ini diperuntukkan bagi warga di Sungai Baru yang profesinya banyak sebagai pelaku UMKM pengolahan ketupat dan lontong,” ujarnya, usai menyerahkan alat pembuat bricket kepada warga, Jumat (8/10/2021) sore.

Tokoh muda yang kerap disapa Hasnur ini berharap, alat ini bisa bermanfaat bagi pelaku UMKM setempat, dan dapat mengurangi biaya produksi dalam pengolahan ketupat dan lontong.

Menurut Hasnur, alih teknologi memang seyogyanya dimanfaatkan untuk membantu dan mempermudah pekerjaan kita.

“Kami juga berterimakasih kepada Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) yang telah memberikan support kepada kami di Komisi VII dalam mendukung anak-anak bangsa yang berkarya dalam ahli teknologi,” ucapnya.

Hasnur berharap, ke depannya akan banyak tercipta lagi alih teknologi lainnya yang akan mempermudah kehidupan manusia.

Berita Lainnya

“Apalagi, di masa pandemi ini kami ikut berusaha menggerakkan roda perekonomian melalui UMKM,” imbuhnya.

Ahmad Robita, salah seorang mahasiswa ULM yang tergabung dalam tim alih teknologi ini, menuturkan, alat pembuatan bricket ini terdiri atas beberapa bagian, seperti alat pengaduk serbuk kayu, alat pencetak dan pengeringan bricket, serta kompor untuk untuk memasak.

“Bricket ini nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar pengganti gas elpiji yang selama ini digunakan oleh warga. Kami ingin, pelaku UMKM disini bisa mengurangi cost atau biaya produksi dalam pengolahan ketupat dan lontong,” tuturnya.

Ia mengklaim, memasak dengan menggunakan bricket ini dapat menghemat biaya produksi hingga 50 persen jika dibandingkan dengan menggunakan gas elpiji.

Diketahui, untuk pembuatan 1 set alat pembuat bricket ini menghabiskan dana sekitar Rp 50 juta lebih. Adanya alat ini, diharapkan menjadi solusi bagi pelaku usaha yang selama ini mengandalkan bahan bakar gas.

“Apalagi, belakangan ini sering sekali terjadi kelangkaan gas, khususnya tabung isi 3 kg. Sehingga, pelaku UMKM sering kesulitan dalam memproduksi ketupat dan lontong,” tambahnya.

Sementara itu, Suriani, seorang pedagang ketupat dan lontong di Kampung Ketupat, mengaku terbantu sekali dengan adanya bantuan alih teknologi alat pembuatan bricket ini. Apalagi, untuk bahan bricket berupa serbuk kayu ini mudah saja dicarinya

“Dengan alat ini kami merasa sangat terbantu. Jadi, kami tak perlu susah-susah lagi mencari gas. Biasanya beli gas melon iRp 25 ribu di eceran. Tapi, kalau sedang langka, sulit mencarinya. Bila ada pun harganya bisa melambung,” ujarnya.

Dalam sehari, lanjut Suriani, ia bisa menghabiskan hingga 6 tabung gas melon untuk membuat ketupat dan lontong. “Mudah-mudahan, dengan menggunakan bricket ini semakin memudahkan pekerjaan dan memangkas biaya produksi kami dalam mengolah ketupat dan lontong,” pungkasnya. (opq/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya