Usaha Penyewaan Bertahan di Tengah Pandemi

“Semua usaha terdampak. Mau bagaimana lagi, sudah garisnya seperti itu,” tutur Ahim.

BANJARMASIN, KP – Sejak pandemi melanda semua sektor dan berbagai usaha kian menurun, semua objek wisata di tepian Sungai Martapura tersebut tutup padahal banyak warga yang bergantung dengan keberadaanya. Tak sedikit keluhan dari masyarakat sulitnya wabah COVID-19 yang melanda.

Kini Pemberlakuaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat PPKM diturunkan ke Level 3. Dan seperti Fahrul (42) segelintir orang yang terkena imbas. Namun dirinya tetap bertahan terlebih membuka usaha kecil penyewaan mini trail untuk anak-anak dilokasi objek wisata dikawasan Piere Tendean tersebut.

“Cuma coba-coba saja. Karena saya melihat yang lain juga mulai membuka usahanya. Siapa tahu ada rezeki,”katanya Minggu (21/11/2021)

Dirinya adalah seorang yang senang berbau otomoti. Ketika ada modal, ayah dari empat anak ini pun membuka penyewaan mini trail untuk anak-anak. Namun modal belum kembali, usahanya digebuk pandemi.

Hampir setiap hari terutama sore hari Fahrul menjaga sewaanya, sepinya pelanggan terkadang membuat dirinya membersihkan trail-trail mini. Baik itu kalbulator, ban, rantai serta tangki BBM yang sudah mulai kropos akibat karatan.

“Yang ini harus diservis. Bocor. BBM-nya menetes terus. Kalau dibiarkan bisa tekor,” kata Fahrul.

Ia ditemani Ahim yang membantu Fahrul tak sendirian. Dia dibantu kerabatnya, Ahim, 28 tahun. Keduanya menangani 20 unit mini trail. Disewakan dengan tarif Rp20 ribu per 10 menit.

Usaha penyewaan itu dilakoni keduanya sejak tahun 2017 akhir. Sebagai pemilik modal, Fahrul mulanya hanya memiliki beberapa unit. Seiring banyaknya peminat, jumlahnya pun ditambah.

Berita Lainnya

Bank Kalsel Tawarkan Kredit Investasi

1 dari 1.042

Harga per unit mini trail ini beragam. Dari Rp4,5 juta hingga Rp13 juta. Tapi baru dua tahun, belum balik modal, bisnis itu tersendat pandemi.

“Semua usaha terdampak. Mau bagaimana lagi, sudah garisnya seperti itu,” tutur Ahim.

Sebelum pandemi, keduanya bisa membawa pulang penghasilan kotor sebesar Rp2 juta per pekan. Sekarang, mendapatkan Rp400 ribu pun sulit.

“Ditambah lagi, premium sudah tak ada. Mau tak mau beralih ke pertalite,” keluhnya.

Sementara dalam sehari diperlukan BBM hingga 30 liter. Fahrul pun terpaksa menaikkan tarif sewanya.

Selain pandemi, ada soal lain. Yakni kepastian kapan wisata siring dibuka. Tanpa kepastian dari pemko, maka pengunjung pun menunggu.

“Kalau bisa dibuka, ya buka saja. Berikan kepastian. Kalau seperti ini kan jadi ragu-ragu. Mau menggelar lapak atau tidak,” pintanya.

Sebenarnya, disebut mini trail pun, motor itu tak bisa dipakai ngebut. Pertama, memakai mesin pemotong rumput. Digas pun, larinya pelan saja.

Kedua, arenanya tak cukup luas. Hanya bisa berputar-putar di sekitar lokasi penyewaan.

“Banjarmasin ini kekurangan lahan hiburan. Padahal, kalau di sini ditata, pasti menarik. Pemko juga semestinya memikirkan pengusaha rekreasi kecil-kecilan seperti kami ini,” pungkasnya. (zak/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya