Banjarmasin, KP – Kepala Dinkes Kalsel Dr HM Muslim memperkirakan kapan vaksinasi untuk anak berusia 6- 11 tahun. Mesli fakstunya ditungga sepertinya, Namun tetap optimis, target penerima vaksinasi sebesar 70 persen pada akhir tahun bisa dicapai.
Di samping itu, Muslim mengatakan percepatan vaksinasi masih terus dilakukan. Selain untuk mengejar target, Dia bilang hal ini agar herd immunity atau kekebalan tubuh di Kalsel bisa cepat terbentuk.
“Prinsip kita yang utama itu bagaimana meningkatkan herd immunity terhadap kelompok. Jadi herd immunity itu yang harus kita kejar,” katanya Kepala Dinkes Kalsel Dr HM Muslim,kemarin.
Dimana memperbolehkan daerah mulai menerapkan vaksinasi virus corona (Covid-19) bagi anak-anak usia 6 sampai 11 tahun pada 24 Desember 2021 mendatang.
Tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 66 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Corona Virus Disease 2019 Pada Saat Natal Tahun 2021 Dan Tahun Baru Tahun 2022.
Di antaranya daerah sudah mencapai target minimal 70 persen vaksinasi dosis pertama. Lalu, minimal sudah vaksinasi 60 persen dosis pertama bagi kalangan lansia.
Data Dinas Kesehatan Kalsel, capaian vaksinasi hingga 11 Desember lalu baru sebesar 54,5 persen.
Dari kriteria yang ditetapkan Kemenkes, sebanyak 11 provinsi sudah dapat lampu hijau melaksanakan vaksinasi Covid-19 pada anak. Seperti Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utar, dan provinsi Bali. Pelaksanaan vaksinasi untuk anak sendiri sudah dimulai pada Selasa 14 Desember.
Sementara sekretaris Daerah Provinsi (Sekdapro) Kalsel, Roy Rizali Anwar mengatakan agar tetap melaksanakan protokol kesehatan ketat, menyusul rencana pembelajaran tatap muka (PTM) yang akan segera dibuka.
“Jadi harus tetap menerapkan protokol kesehatan ketat, baik 5M maupun 3T,” kata Roy Rizali Anwar kepada wartawan.
Ditambahkan, penerapan 5M mencakup memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumuman serta membatasi mobilisasi dan interaksi.
“Ini juga dibarengi 3T, yakni testing (tes), tracing (pelacakan) dan treatment (penanganan),” pungkasnya. (Zak/K-3)















