Dua Sikap Menangkal Wabah Homoseksual

Oleh: Umi Diwanti
Pengasuh MQ Khadijah al-Kubro, Aktivis Muslimah Kalsel

Tiga kali Rasul SAW menyebutkan, “Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth, Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth, Allah melaknat manusia yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth.” (HR. Ahmad).

Banyak ayat dan hadits yang menggambarkan betapa tercelanya perilaku kaum Luth ini dalam pandangan Allah SWT. Namun anehnya penyimpangan ini semakin hari semakin mewabah. Bahkan lebih parah. Jika dulu hanya sembunyi-sembunyi sekarang terang-terangan.

Sesuatu yang salah jika terus diulang dan dibiarkan, lama-lama akan menjadi hal biasa. Kalau sudah terbiasa maka selanjutnya pasti akan mudah menular. Bahayanya sangat dahsyat. Selain menjadi wasilah tersebarnya penyakit berbahaya seperti HIV, juga secara otomatis akan menghilangkan tujuan mulia sebuah pernikahan. Manusia akan punah. Belum lagi ancaman mengerikan sebagaimana Allah timpakan pada kaum Nabi Luth.

Tidak bisa dipungkiri diantara penyebab mewabahnya penyimpangan ini adalah minimnya keimanan dan ketakwaan masyarakat.Dalil-dalil yang banyak dan jelas melarang aktivitas ini hanya menjadi sebatas informasi yang sama sekali tidak ditakuti. Apalagi dengan pola pikir kebebasan yang saat ini semakin nyaring digaungkan, manusia semakin merasa bebas tanpa batas.

Kedua, lingkungan yang mulai mati rasa, mulai terbiasa bahkan mulai menikmati kehadiran kaum homoseksual dan gerombolannya (LGBT). Tak jarang masyarakat justru memberikan panggung dan bahkan “memberikan harga” pada para pelaku penyimpangan ini.Ramai-ramai menonton konten mereka karena menganggap hal ini sebagai hiburan semata.

Ditambah lagi tidak adanya sanksi bagi pelaku. Karena dalam kehidupan sekuler ini, apapun asalkan suka sama suka tidak akan ada hukumannya. Selagi tidak ada pihak lain yang merasa terganggu. Hal inilah yang membuat mereka semakin berani unjuk gigi. Bahkan sudah berani menuntut penerimaan masyarakat dan mensyiarkannya melalui berbagai media.

Dari semua penyebabnya, sumbernya tidak lain disebabkan diadopsinya tatanan kehidupan seluler oelh negeri ini.Yakni memisahkan kehidupan dari agama. Agama hanya dianggap urusan pribadi yang harus dijauhkan dari kehidupan publik. Kebebasan menjadi dasar dalam setiap pembuatan aturan. Hak azasi manusia di atas hukum syara. Aturan yang dibuat manusia di atas aturan Allah SWT.

Berita Lainnya

Acara Islami yang Tidak Islami

Bahaya Belajar Teks Agama Secara Leterlek

1 dari 540
loading...

Aturan yang dibuat oleh makhluk yang serba terbatas sudah pasti terbatas pula kemampuannya dalam menata kehidupan. Bahkan bisa berubah-ubah sesuai kepentingan pembuatnya. Tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti justru akan lahir undang-undang yang melindungi kaum Nabi Luth ini. Naudzubillah. Namun ini adalah realita yang harus kita sadari dan antisipasi.

Oleh karena itu sebagai seorang muslim dan sebagai warga negara yang baik kita harus bersikap agar wabah ini segera musnah. Yang pertama, secara pribadi kita harus menanamkan sejak dini kepada generasi bahwa aktivitas laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya, homoseksual dan sejenisnya itu sangat dibenci Allah.

Selanjutnya kita harus menampakan sikap benci tersebut dengan tidak memberikan apresiasi termasuk di dalamnya ikut menonton konten terkait mereka. Apalagi sampai memberikan panggung pada mereka sebagai pemain/pembicara. Setidaknya hal ini akan sedikit menyempitkanpintu eksis mereka. Agar mereka tahu bahwa perilaku mereka dibenci.

Adapun yang paling efektif tentu saja adalah dengan penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penerapan pendidikan berasas Islam akan menanamkan konsep halal haram dengan sangat kuat pada setiap peserta didik. Mereka akan dipahamkan dan dijaga dari perbuatan maksiat apapun bentuknya termasuk penyimpangan seksual.

Selain itu penerapan aturan pergaulan Islam akan mencegah munculnya rangsangan setiap orang dari pergaulan yang salah. Baik itu dengan lawan jenis ataupun sejenis. Karena dalam Islam tidak ada kebebasan, semua ada batasan. Namun demikian Islam akan memberikan jalan kepada manusia untuk pemenuhan naluri seksual melalui jalur pernikahan. Negara diwajibkan memudahkan bahkan membantu masyarakatnya yang ingin menikah.

Syariat Islam juga memiliki aturan tata kelola media massa. Meski semua orang bebas memiliki media massa masing-masing namun kontennya harus berada dalam koridor syariat. Akan ada sanksi bagi siapapun yang membuat maupun menyebarkan konten yang bertentangan dengan syariat. Jelas didalamnya termasuk konten kaum homoseksual ini.

Sebagai pamungkas, jika dalam kondisi yang sudah diantisipasi dalam berbagai sisi ini tetap ditemukan adanya praktik homoseksual, maka negara tidak akan segan-segan menjatuhkan sanksi hukuman mati. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah, “Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya.” (HR Ahmad dan Abu Daud). Hal ini efektif memutus mata rantai penyebaran wabah penyimpangan ini.

Demikianlah cara yang terbukti efektif menangkal berkembangnya wabah homoseksual dengan segala keburukan yang diakibatkannya. Otomatis juga berfungsi menangkal segala bentuk azab dan murka Allah SWT. Sebagaimana yang Allah peringatkan dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 84.

Akhir kata, mari kita sama-sama bersikap yang sama. Pertama, berpaling dari mereka para pelaku, pendukung atau fasilitator homoseksual. Kedua berpaling dari tatanan kehidupan sekuler serta menyerukan penerapan aturan Islam secara sempurna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Niscaya negara kita akan mampu menangkal wabah homoseksual dan kawan-kawannya (LGBT).

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya