Banjarmasin, KP – Kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan siring Muara Kelayan kian memprihatinkan. Pasalnya ornamen yang bertuliskan ‘TAMAN KELAYAN’ pun kini hanya menyisakan empat hurufnya saja. Persis seperti nama penyakit, ‘AYAN’.
Seperti diketahui, penyakit Ayan sendiri terjadi ketika ada aktivitas di sel saraf di otak mengalami gangguan. Yang kemudian, mengakibatkan kejang.
Kembali ke persoalan RTH di Muara Kelayan itu. Rusaknya ornamen bertuliskan ‘TAMAN KELAYAN’ sebenarnya sudah terjadi sejak bulan Februari lalu.
Saat itu, yang hilang hanya tiga huruf. Di antaranya yakni huruf E, L dan huruf A. Mirisnya, hingga kini tak tampak adanya upaya perbaikan.
Salah seorang sumber anonim yang ditemui wartawan di lokasi itu menilai, rusaknya ornamen itu dikarenakan cuaca buruk.
Angin kencang adalah salah satu penyebabnya. Membuat huruf-huruf yang dipasang dan disusun sebagai ornamen bertuliskan kalimat ‘TAMAN KELAYAN’ itu kemudian patah.
“Anak-anak yang sering bermain di lokasi taman, biasanya kami tegur atau larang agar tidak dekat-dekat monumen tulisan itu. Supaya orang tahu, bahwa bukan warga yang merusaknya,” jelasnya.
Seperti diketahui, kawasan Muara Kelayan mendapat bantuan program dari Kementerian PUPR sejak tahun 2020 hingga 2021.
Yakni, berupa peningkatan kualitas permukiman kumuh. Artinya, mengubah kawasan yang semula kumuh menjadi kawasan yang layak huni.
Di lokasi itu, tidak hanya dibangun siring sungai dan rusunawa saja. Kini, di kawasan itu juga terdapat RTH atau taman yang bisa dimanfaatkan warga.
Itu, didukung pula dengan ada fasilitas berupa gazebo, lapangan mini futsal, dan lain sebagainya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Cipta Karya di Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Agus Suyatno, menjelaskan aset yang dibangun oleh pihak kementerian itu, hingga kini belum diserahterimakan ke Pemko Banjarmasin.
“Jadi, kami belum mempunyai kewenangan apa-apa,” ucapnya. Lantas, bagaimana langkah selanjutnya?
Terkait hal itu, rupanya sudah ada titik terang. Dalam waktu dekat, kerusakan yang terjadi akan diperbaiki. Pasalnya, titik terang tersebut diungkapkan oleh staf teknis di Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kalsel, Wahyudi.
Ia menjelaskan, material pengganti huruf yang hilang pada ornamen di RTH itu sedang dalam proses pengiriman dari Surabaya ke Banjarmasin.
Karena itu, ia melanjutkan, jika material tersebut datang, maka pemasangan akan langsung dilakukan.
Kemudian, Wahyudi juga mengatakan, ornamen huruf yang dipasang masih berbahan akrilik. Tapi, akan ditambah dengan rangka besi agar ornamen di sana bisa lebih kuat.
“Sesuai kontrak, bahannya tetap akrilik. Tapi akan diberi penguatan berupa rangka besi untuk mengurangi tekanan agar tidak mudah pecah,” ucapnya.
“Penguatan rangka dilakukan di bagian dalam ornamen huruf. Kalau di bagian luar, maka akan mengurangi estetikanya,” tambahnya.
Lantas, bagaimana dengan proses serah terima aset? Disinggung hal itu, Wahyudi mengatakan, serahterima aset dijadwalkan pada bulan Juni ini.
“Diperbaiki dahulu, baru diserahterimakan. Kami berharap, seusai perbaikan dilakukan, masyarakat bisa ikut menjaga dan memiliki. Termasuk, menjaga keindahan dan kebersihan kawasan,” tutupnya. (Kin/K-3)















