Sedikitnya ada empat anggotanya yang bertugas mengevakuasi sarang tawon terkena sengatan saat mencoba mengevakuasi kawanan tawon dari atas rumah warga
BANJARMASIN, KP – Setelah sebelumnya petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Banjarmasin mengevakuasi sarang tawon vespa dari atas gedung sekolah MTs Al-Ikhwan, kini giliran rumah warga di di kawasan Kayutangi yang disarangi serangga penyengat dengan nama latin Vespa Affinis itu, Rabu (20/7) siang.
Koloni tawon vespa yang bersarang tepat di atap rumah milik Mila di Jalan Kayutangi II, Kelurahan Pangeran, Kecamatan Banjarmasin Utara itu ukurannya dinilai cukup besar oleh petugas DPKP Banjarmasin.
Benar saja, Komandan Pleton (Danton) DPKP Banjarmasin, Ilham Pengabdi mengatakan, diperkirakan sarang tawon yang hari ini dievakuasi ukurannya berdiameter satu meter.
“Ini sarang tawon paling besar yang pernah kita evakuasi,” ucapnya saat ditemui awak media di sela proses evakuasi.
Bahkan dibeberkannya, sedikitnya ada empat anggotanya yang bertugas mengevakuasi sarang tawon tersebut terkena sengatan saat mencoba mengevakuasi kawanan tawon dari atas rumah warga.
Yakni, Evan Azhar, Fajar Ramadhan, Hermawan dan Ibrahim. Mereka diserbu karena koloni tawon vespa tersebut merasa terganggu ketika mereka berada di depan sarangnya.
“Memang tadi ada empat anggota kita yang tersengat serangan tawon. Tapi mereka langsung kita evakuasi ke unit ambulance milik warga yang saat itu sedang siaga di lokasi untuk diberikan pertolongan pertama,” ungkapnya.
Dari pantauan Kalimantan Post, bagian tubuh dari keempat anggota yang terkena sengatan tawon tersebut langsung membengkak dan bentol-bentol.
Di dalam ambulance, mereka mendapat perawatan dengan cairan antiseptik untuk mengurangi rasa nyeri akibat sengatan tawon.
Ditanya mengapa sampai ada petugas DPKP yang terkena sengatan. Mengingat saat proses evakuasi mereka sudah memakai APD (Alat Pelindung Diri)
Menjawab hal itu, Ilham mengakui bahwa saat ini pihakhya memang mengalami keterbatasan APD, khususnya yang berkaitan dengan proses evakuasi serangga penyengat seperti lebah dan tawon.
“Memang kembali terjadi lagi sengatan pada anggota kita yang sedang berupaya mengevakuasi. Ini dikarenakan terbatasnya APD kita yang saat ini kurang safety,” bebernya.
Benar saja, alat pelindung diri petugas khususnya pelindung bagian kepala dan sarung tangan yang dipakai petugas sudah tidak layak digunakan. Ada beberapa bagian yang robek dan bahan yang digunakan pun sangat tipis.
“Tapi kita sudah mengajukan kepada pimpinan untuk mengadakan alat yang safety, semoga cepat disetujui,” harapnya.
Hal itu diungkapkan Ilham bukan tanpa alasan, ia mengungkapkan bahwa di bulan Juli ini saja, pihaknya sudah menerima sebanyak 10 laporan warga terkait keberadaan sarang tawon dan lebah.
Ia menduga banyaknya laporan tawon dan lebah yang masuk di bulan ini disebabkan adanya migrasi dari koloni serangga penyengat tersebut.
“Sementar yang paling kita perlukan ini adalah penutup kepala dan sarung tangan. Karena dua item ini menjadi alat yang penting salam penunjang proses evakuasi tawon dan lebah,” pungkasnya. (Kin/K-3)















