Sibuk Kontestasi Politik, Saat Rakyat Kelimpungan BBM

Oleh : Nor Aniyah, S.Pd
Penulis, Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi

Pertemuan antara Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan dengan Ketua Umum Gerindra pada Ahad, 4 September 2022, dinilai bisa mengancam ambisi Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menjadi calon wakil presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis (TPS) menyatakan bahwa PDI Perjuangan tak mungkin melepas kursi presiden atau wakil presiden jika mereka jadi bergabung dengan koalisi Gerindra dan PKB (tempo.co, 04/09/2022).

Keduanya bahkan menyatakan akan terus membangun komunikasi politik. “Jadi saya kira konklusi yang paling jelas adalah kita bertekad untuk melanjutkan komunikasi politik dengan terus-menerus, dengan terbuka, dengan apa adanya,” kata Ketua Umum Gerindra usai bertemu di Hambalang.

Ia menyatakan, komitmen untuk terus membangun komunikasi dengan PDI Perjuangan tak lain untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Dia juga menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan sesi awal memasuki musim politik jelang Pemilu 2024. “Jadi ini baru mungkin untuk awal musim politik yang akan datang, ini mungkin baru awalan,” ujarnya (kompas.com, 05/09/2022).

Saat rakyat sedang kelimpungan mengatasi dampak domino kenaikan BBM, para petinggi negara termasuk ketua wakil rakyat sibuk mematut diri mencari pasangan kontestasi. Juga memake up diri agar nampak layak kembali mendapat kepercayaan. Sepatutnya rakyat sadar kondisi demikian adalah watak asli sistem demokrasi kapitalisme. Hanya melahirkan sosok pengabdi kursi bukan pelayan rakyat yang merasakan penderitaan mereka.

Meskipun saat ini negeri ini telah terbebas dari penjajahan secara fisik, tapi faktanya secara ekonomi, politik, sosial dan budaya kita masih terjajah oleh ideologi kapitalis imperialis. Tidak mengherankan meskipun negeri ini kaya raya, namun sekitar 30 juta rakyatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kekayaan alam kita dirampas oleh negara-negara imperialis dan kaki tangan oligarkinya. Semua terjadi karena liberalisme ekonomi di bawah kepemimpinan sistem kapitalisme.

Sayangnya saat ini negara pun tidak menjalankan fungsinya sebagai pelayan umat. Begitulah negara dengan sistem kapitalisme. Sistem yang menggunakan manfaat sebagai sandaran dalam menetapkan kebijakan. Pandangan ini telah berdampak pada umat dalam seluruh area kehidupan.

Dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, ketika ketakwaan ditinggalkan di tempat ibadah, dan atmosfer kehidupan membebaskannya berbuat, maka segala hal bisa terjadi. Di sisi lain, utang terus bertambah, angka korupsi terus saja melaju, dan kemiskinan tidak banyak berkurang. Sumber daya alam yang luar biasa ternyata tidak menjanjikan adanya kesejahteraan. Tentu ini merupakan lampu kuning mendekati merah terkait kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Karena itu, tanpa adanya perubahan fundamental terhadap sistem kapitalisme, potret suram ekonomi akan terus terjadi.

Berita Lainnya
1 dari 648
loading...

Apalagi dunia pendidikan yang sangat sekuler liberal tanpa pembangunan moralitas dan integritas para pengemban jabatannya, dipastikan akan terjerumus pada kemudahan untuk melakukan tindakan menyimpang, khususnya terkait dengan korupsi. Oleh karena itu, umat harusnya semakin melek, bahwa akar kenestapaan hari ini adalah ditinggalkannya aturan Allah SWT dan ditegakkannya sistem sekuler. Sistem Islam telah menawarkan solusi untuk mengatasi sebagian besar persoalan yang telah dikemukakan tadi, juga untuk mengatasi banyak persoalan lainnya. Maka jika ada yang menawarkan sistem Islam sebagai solusi, mengapa tidak mau untuk mengadopsinya?

Di sinilah pentingnya meletakkan secara benar kerangka filosofis, untuk apa sebenarnya kita bernegara. Menurut pandangan Islam, kita bernegara tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan makna ibadah adalah taat kepada Allah, tunduk dan berpegang teguh pada apa yang disyariatkan Allah SWT dalam agamanya.

Tidak ada pemisahan antara agama dan negara. Islam benar-benar dijadikan sebagai dasar pemerintahan. Dengan diikuti penerapan hukum syariat Islam dalam segala aspeknya. Islam sebagai ideologi, berupa akidah yang memancarkan segenap aturan termasuk bagaimana sistem perekonomian hingga urusan bernegara. Sehingga dengan sistem Islam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas tidak perlu diragukan lagi.

Apalagi dalam bidang pendidikan, Islam seharusnya menjadi solusi untuk mencetak lulusan dari sekolah yang beriman dan bertakwa sehingga diharapkan jika menjadi pejabat negara ia akan menjadikan pejabat yang kompeten serta memiliki sifat amanah, tabligh, fathanah, dan siddiq.

Kekuasaan adalah amanah dari Allah SWT. Hal ini sepatutnya menjadi refleksi bagi para penguasa agar senantiasa melaksanakan kewajiban untuk memenuhi hak rakyat. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Imam adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya”. (HR. Bukhari dari Abdullah bin Umar).

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang diserahi tugas untuk mengurus urusan kaum Muslim, lalu ia mati, sementara ia mengkhianati dan menzalimi rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga bagi dirinya.” (HR. Al-Bukhari).

Ditambah lagi keimanan yang kokoh akan menjadikan seorang pejabat dalam melaksanakan tugasnya selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Ketika takwa dibalut dengan zuhud, yakni memandang rendah dunia dan qana’ah dengan pemberian Allah, maka pejabat akan betul-betul amanah. Bukan dunia tujuannya, tetapi ridha Allah dan pahala menjadi standarnya. Mereka paham betul bahwa menjadi Khalifah, pemimpin atau pejabat hanya sarana untuk ‘izzul Islam wal Muslimin. Bukan demi kepentingan materi atau memperkaya diri dan kelompoknya.

Spirit yang hadir di tengah penguasa yang menerapkan aturan Islam tidak lain adalah ketundukannya kepada syariat Islam. Apa yang dilakukan oleh negara, tidak lain adalah untuk keberkahan negerinya. Oleh karena itu, negara tidak akan sewenang-wenang dan melakukan kezaliman kepada rakyatnya. Sebab, bukan karena masalah untung rugi di hadapan manusia. Tetapi, karena pertanggungjawaban yang berat di Akhirat kelak, yaitu di hadapan Allah SWT.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya