Satu RT Kelurahan Alalak Utara Jadi Lokus Penyakit Kudis

Penyakit scabies ini merupakan penyakit kulit menular akibat gigitan kutu dan erat kaitannya dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS)

BANJARMASIN, KP – Gatal-gatal yang dialami puluhan siswa dan warga yang mengalami penyakit gatal-gatal di RT 7, Gang SDN, Jalan Alalak Utara, Kelurahan Alalak Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, ternyata merupakan gejala scabies atau yang biasa disebut dengan kudis.

Penyakit ini adalah kondisi yang ditandai dengan gatal di kulit, terutama di malam hari. Gatal ini disertai dengan kemunculan ruam berbintik yang menyerupai jerawat atau lepuhan kecil bersisik. Kondisi ini terjadi akibat tungau yang hidup dan bersarang di kulit.

Kudis atau scabies merupakan penyakit yang mudah menular, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Penyakit ini sangat mudah menyebar, terutama jika ada kontak dekat antarmanusia di suatu lingkungan.

TUNJUKAN LUKA- Salah satu siswa SDN Alalak Utara 3 menunjukkan luka di tangannya akibat scabies yang dialaminya. (KP/Zakiri)

Kepala Puskesmas Alalak Tengah, apt. Maria Ulfah, S.Si.,M.M membenarkan jika ada warga yang masuk wilayah kerjanya mengalami penyakit tersebut. Namun jumlahnya hanya hanya puluhan orang saja.

Ia membeberkan, dalam kegiatan baksos HKN ke-58 yang digelar pada Selasa (16/11) kemarin, pihaknya menemukan sebanyak 36 siswa di SDN Alalak Utara 3 mengalami gejala penyakit tersebut. Selain itu, juga ada 38 orang atau masyarakat yang tinggal sekitar sekolah juga mengalami gejala yang sama .

Yakni rasa gatal pada kulit yang disertai dengan kemunculan ruam berbintik menyerupai jerawat atau lepuhan kecil bersisik.

Ia menjelaskan, bahwa penyakit scabies ini merupakan penyakit kulit menular akibat gigitan kutu dan erat kaitannya dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Sehingga Ulfah menyebut puluhan kasus scabies yang terjadi di kawasan tersebut erat kaitannya dengan kehigienisan aktivitas warga.

Sebelum puluhan warga dan siswa di kawasan tersebut terdeteksi mengidap scabies, Ulfah mengaku bahwa pihaknya juga pernah menemukan kasus penyakit yang sama pada awal tahun lalu ketika melakukan pemantauan di lingkungan masyarakat sekitar SDN Alalak Utara 3. Jumlahnya pun diakuinya cukup banyak.

“Langsung kita lakukan penanganan, dan tidak lama setelah itu, tidak ada lagi kasus penyakit scabies ini,” ucapnya saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon, Rabu (15/11).

Namun setelah hilang beberapa bulan, kasus penyakit yang disebabkan oleh kutu Sarcoptes Scabiei itu kembali muncul dan menyerang warga di sekitar SDN Alalak Utara 3.

“Dari laporan yang masuk memang ada beberapa orang yang mengalami gejala penyakit yang sama dan mirip,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, penyakit scabies ini sendiri memang bisa muncul dan kembali muncul jika masyarakat masih belum menerapkan pola hidup sehat dengan benar.

“Misalnya dalam satu rumah ada yang terkena scabies tapi masih memakai handuk, sabun, pakaian secara bergantian, dan tidur pun masih berbarengan dengan yang sakit. Itu yang menjadi penyebab penyakit ini terus saja muncul,” jelasnya.

Bahkan ia menyebut di RT 7 Jalan Alalak Utara, Kelurahan Alalak Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara itu sudah menjadi lokus penyebaran penyakit scabies.

Padahal menurutnya, dalam setiap kali penyuluhan kesehatan di sekitar sana, pihaknya selalu menekankan agar jika ada yang mengalami gejala penyakit kulit scabies ini harus dilakukan isolasi agar tidak menular ke orang lain.

“Memang mengubah perilaku ini tidak gampang, jadi kita terus berupaya dalam mengedukasi warga terkait PHBS ini,” katanya.

Berita Lainnya

AMPG dan KPPG Jadi Mesin Kemenangan Golkar

Komisi I Fokus Upaya Pencegahan Narkoba

1 dari 7.146
loading...

Namun, Ulfah menegaskan puluhan kasus scabies yang terdata ini tidak sampai masuk ke dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Pasalnya, dalam 187 anak yang diperiksa di SD tersebut pada Selasa (15/11) kemarin, hanya ada 36 anak yang mengalami gejala scabies.

Selain itu, masyarakat yang terkena scabies pun juga hanya di lingkungan sekitar sekolah tersebut, yakni di wilayah Alalak Utara, RT 7 sebanyak 38 orang saja.

“Jika dibandingkan sekitar 48 ribu warga yang ada di wilayah kerja Puskesmas Alalak Tengah (Kelurahan Alalak Utara dan Tengah) dengan 38 warga yang terdata terjangkit scabies,” imbuhnya.

“Sedangkan KLB itu angkanya harus banyak, dan kasus yang terjadi di RT 7 Jalan Alalak Utara ini hanya terjadi di lingkungan situ saja,” ujarnya.

“Bahkan yang berobat ke puskesmas sejak awal tahun 2022 pun jumlahnya hanya beberapa orang saja,” pungkasnya.

Namun, ia tidak memungkiri jika penyakit scabies ini bisa juga terjadi di tempat atau wilayah lain di Banjarmasin. Sehingga pihaknya mengimbau agar yang merasa mengalami gejala scabies bisa berobat dengan masuk ke dalam link pendaftaran pasien di bit.ly/daftarscabiesdinkes.

Selain itu, alasan temuan kasus scabies pada puluhan warga dan siswa itu tidak masuk dalam KLB juga dikarenakan bukan jenis penyakit yang masuk ke dalam 10 penyakit terbanyak di Banjarmasin, sejak tahun 2019 sampai dengan 2021.

Lantas, penanganan seperti apa yang dilakukan pihak Puskesmas?

Mengenai hal itu, Ulfah menuturkan, bahwa lantaran kejadian ini kebetulan berbarengan dengan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 tahun 2022, maka pihaknya menjadikan momen tersebut untuk menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis bersama berbagai organisasi profesi kesehatan di Kota Banjarmasin.

“Kita melakukan bakti sosial berupa penyuluhan dan pengobatan scabies secara gratis di kawasan itu,” imbuhnya.

“Tidak hanya kemarin saja, tapi di hari-hari biasa pun kami di puskesmas selalu siap memberikan pengobatan jika ada masyarakat yang mengeluhkan penyakit scabies ini,” tambahnya.

Selain memberikan layanan pengobatan, pihaknya juga gencar memberikan edukasi kepada warga sekitar mengenai pola hidup bersih dan sehat, khususnya untuk mencegah scabies ini menular.

“Karena, sebagai nakes kita tidak melihat kasus suatu penyakit hanya dari satu sisi saja. Tapi sisi yang lain pun juga menjadi pengaruh agar upaya penanganan scabies di wilayah sana (Alalak Utara, RT 7) itu bisa berjalan maksimal dan memberikan hasil yang baik,” paparnya.

Saat disinggung apakah sudah ada pasien scabies yang sampai dirawat di rumah sakit, Ulfah secara tegas mengatakan tidak.

“Terkecuali, warga yang diserang scabies ini memiliki riwayat diabetes. Karena jenis penyakit ini kan diakibatkan luka dari gigitan kutu pada kulit lapisan dalam. Maka ada kemungkinan luka itu semakin parah akibat tingginya kadar gula dalam darah,” jelasnya.

“Selama lebih satu tahun setengah bekerja di Puskesmas Alalak Tengah, saya tidak pernah menemukan kejadian seperti itu,” tegas Ulfah.

Kemudian, untuk pengobatannya sendiri pun menurutnya juga bisa ditangani di tingkat pertama, yakni hanya sampai di puskesmas saja.

“Kita beri obat sampai sembuh total. Misalnya untuk 10 hari, obat itu harus full digunakan selama sepuluh hari,” katanya.

“Kebanyakan warga yang kembali terserang scabies ini adalah akibat penerapan PBHS nya masih belum benar dan obat yang kita berikan tidak digunakan sesuai arahan dokter,” tuntasnya. (Kin/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya