Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

Meraih Informasi Sehat di Era Kebebasan Pers Digital

×

Meraih Informasi Sehat di Era Kebebasan Pers Digital

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Dalam dunia Pers, 9 Februari selalu diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). HPN ini diselenggarakan bersamaan dengan hari ulang tahun organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang dibentuk pada 9 Februari 1945 sebagai wadah wartawan menampung aspirasi dan wahana lingkup nasional.

Sejarah Indonesia, pers memainkan peran yang sangat penting dalam mencapai kemerdekaan, karena pada saat itu pers memainkan dua peran besar sekaligus, yaitu melakukan tugas-tugas pemberitaan dan penerangan guna membangun kesadaran nasional dan terlibat secara langsung dengan rakyat untuk melawan penjajah. Kedua peran tersebut dilakukan untuk mencapai Indonesia yang merdeka. Karena perannya yang sangat besar terhadap kemerdekaan Indoonesia, maka setiap 9 Februari ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional bertepatan dengan lahirnya PWI melalui Keppres RI Nomor 5 tahun 1985 yang ditandangani oleh Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985.

Menarik ketika disimak tema yang diangkat di HPN 2023 yaitu “Pers Bebas, Demokrasi Bermartabat”. Kebebasan pers masih menjadi elemen sangat penting dalam kehidupan berdemokrasi karena pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas demokrasi. Dengan kebebasan pers, media massa dapat menyampaikan beragam informasi untuk mendukung warga negara berperan dalam demokrasi. Terlebih lagi pada posisi jurnalis di era digital, di mana industri pers kian berkembang di tengah kepungan informasi yang membludak dan beragam tantangan digital yang harus disikapi secara profesional sehingga dapat menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang sehat lagi berkualitas.

Serangan Informasi Digital

Era digital seperti dua mata pisau, di satu sisi era digital mempermudah jurnalis, namun di sisi lain menjadi ancaman bagi jurnalis dan perusahaan media. Informasi kini menjadi barang “murah”, mudah didapat yang dikemas dalam bentuk digital. Internet bagai lautan informasi, yang mudah dicari dengan Google atau mesin pencari lain. Bahkan apa yang tersedia di internet kadang tak perlu dicari. Mereka datang sendiri melalui media sosial. Di Twitter, misalnya, saat mengikuti akun-akun media, otomatis kita akan melihat berita yang dibagikan, tak peduli mencari atau tidak, tak peduli suka atau tidak. Bahkan saat mengikuti akun pribadi pun, yang bukan bagian dari media (misalnya jurnalis), mereka juga sering menyebarkan berita baik secara langsung maupun me-retweet dari akun-akun berita.

Baca Juga:  Pentingnya Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar sesuai PUEBI dalam Karya Ilmiah

Selain menyebarkan informasi dari media arus utama, pengguna media sosial juga membuat informasi sendiri, mulai dari yang paling ringan mengenai aktivitasnya sehari-hari, hingga yang agak berat seperti menulis blog, membuat VLOG, atau yang serius dan ekstensif seperti melakukan investigasi ala jurnalis yang kemudian disebarluaskan via akun media sosial masing-masing.

Selama puluhan tahun, media arus utama, mulai dari TV, cetak, hingga radio, menjadi sumber informasi utama masyarakat. Kini, di era teknologi, era internet, era media sosial, media arus utama bukan satu-satunya sumber informasi masyarakat, tapi media sosial kini turut serta memproduksi dan menyebarluaskan informasi dengan caranya sendiri, yang seringkali tak terduga.

Informasi yang dihasilkan oleh media cetak, radio dan TV diolah para jurnalis dengan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Mereka memproduksi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya karena melalui proses cek dan ricek yang cukup panjang sebelum dirilis ke publik. Jika pun ada kesalahan atau kurang akurat, media bertanggungjawab untuk merevisi dan memberikan hak jawab.

Sebaliknya, informasi yang diproduksi dan disebarluaskan di media sosial oleh penggunanya adalah informasi yang tidak perlu memenuhi etika jurnalistik karena mereka memang bukan jurnalis. Pengguna media sosial adalah masyarakat, perorangan, yang dapat memproduksi informasi apa saja di berbagai layanan media sosial. Bahkan beberapa orang kini membuka kanal sendiri di telegram untuk menjaring audience dan menyebarkan informasinya, sebagaimana yang sudah lebih dulu terjadi di Youtube.

Upaya Meraih Informasi Sehat

Di saat ini, kita mulai masuk suasana tahun politik sehingga akan banjir informasi politik. Ini sudah bisa dirasakan saat mulai muncul calon-calon pemimpin yang akan duduk pada 2024 nanti dan ini tentunya didukung pengguna media sosial yang ikut mempromosikan mereka.

Baca Juga:  Bijak Dalam Memanfaatkan Teknologi

Di tengah banjir informasi seperti ini, maka sikap kita harus SARING dulu informasinya, baru kita SHARING. Jangan hanya membaca judul. Media online atau versi online media arus utama sangat bergantung pada klik. Semakin banyak klik, semakin terbuka peluang mendapat iklan. Agar mendapat klik tinggi dari media sosial, judul harus dibuat semenarik mungkin. Sayangnya, semenarik mungkin itu bisa terjebak menjadi seprovokatif mungkin, yang seringkali melenceng dari isi berita. Judul berita provokatif tak selalu sama dengan isi berita. Karena itu jangan terkecoh oleh judul. Jika ingin menyebarkannya, baca dulu isinya. Pastikan judul dan isi memang selaras.

Kemudian lakukan CEKdan RICEK. Media boleh memihak. Itu hak media, namun berita yang diproduksinya harus taat kaidah jurnalistik. Pembaca, artinya kita semua, mesti lebih rajin melakukan cek dan ricek terlebih dulu sebelum menjadikannya sebagai referensi. Cek ke media lain, yang menjadi lawannya, bagaimana sudut pandang media tersebut terhadap hal yang sama.

Perlu juga ikuti AKUN-AKUN TERPERCAYA. Kita bisa berkawan banyak di Facebook, bisa mentok sampai 5.000. Kita bebas mengikuti orang lain di Twitter tanpa batasan jumlah, begitu juga di Instagram dan lainnya. Tapi hidup akan ruwet jika informasi mengalir terlalu banyak. Teman di Facebook yang sebenarnya tak pernah kita kenal tapi membanjiri informasi layak di-unfollow, jika enggan untuk unfriend. Demikian pula di Twitter, unfollow saja akun-akun yang berisik dengan informasi tak akurat. Lebih baik mengikuti akun-akun terpercaya, meski mereka berbeda pandangan.

Terakhir manfaatkan saring via FASILITAS PENYARING di media sosial. Setiap media sosial memiliki fasilitas untuk menyaring informasi, termasuk menyaring kata kunci. Di Twitter, dapat menyaringnya dengan cara lain: membuat list akun yang layak dibaca informasinya. Isinya beberapa akun, baik punya kesamaan maupun perbedaan pandangan mengenai isu tertentu, tapi jumlahnya terbatas, paling banyak 100 akun, agar informasi yang mengalir ke otak bersih dari sampah informasi.

Iklan
Iklan