Banjarmasin, KP – Harga telur ayam ras melambung di sejumlah daerah. Kenaikannya bervariasi, bahkan ada yang mencapai hingga Rp 40.000/kilogram (kg).
Dalam panel harga pangan milik Badan Pangan Nasional, harga rata-rata telur ayam secara nasional di level Rp 30.080/kg. Harga rata-rata di DKI Jakarta sendiri tembus Rp 31.820/kg, tertinggi di Kabupaten Kepulauan Seribu mencapai Rp 33.000/kg. Sementara yang lainnya seperti Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat harga telur naik Rp 32.000/kg.
Bahkan, harga telur Rp 40.000 terjadi di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kabupaten Rote Ndao. Kemudian harga telur ayam di Kota Bontang, Kalimantan Timur melonjak Rp 41.000/kg, dan di Maluku harga telur ayam juga tembus Rp 40.000/kg.
Sementara di Banjarmasin, Harga telur ayam ras juga sedikit mengalami kenaikan. Harga di tingkat eceran dijual antara Rp 31.000 – 32.000/kg.
“Naik sekitar Rp 1.000 per kilonya. Sebelumnya kita jual harga grosir Rp 28.000/kg, sekarang naik jadi Rp 29.000 per kilo. Jadi, untuk eceran saat ini kita jual Rp 32.000 per kilo,” tutur Burhan, pedagang telur di. pasar Lama Banjarmasin, Jumat (19/5).
Burhan tak tahu pasti penyebab naiknya harga telur ayam ras ini. Namun, ia mengira-ngira hal ini disebabkan lantaran harga pakan ayam yang naik.
“Saya dengar informasi seperti itu, harga pakan naik jadi telur ayam ikut naik di tingkat peternak,” ujarnya.
Sedangkan untuk pasokan, dia mengaku cukup lancar, sehingga tidak terjadi kekosongan stok di kiosnya.
Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI), dilansir detikFinace, mengungkapkan harga telur ayam di luar Jawa atau wilayah Indonesia Timur paling tinggi mencapai Rp 40.000/kg.
“Jabodetabek di kisaran Rp 31.000-34.000 per kilo, di luar jawa atau wilayah timur 38.000/kg bahkan lebih dari 40.000/kg,” sebut Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan, dalam keterangan tertulis, Kamis (18/5).
Menurutnya, harga telur mengalami kenaikan sejak beberapa minggu terakhir, dan ada dua hal yang ditemukan menjadi penyebabnya.
Yang pertama adalah karena faktor produksi, di mana harga pakan yang tinggi. Kedua proses distribusi yang tidak sesuai dengan kebiasaan, yang biasanya didistribusikan ke pasar tetapi banyak pihak yang melakukan pendistribusian di luar pasar atau permintaan di luar pasar.
“Sehingga supply dan demand di pasar terganggu dan menyebabkan harga terus merangkak naik,” katanya.
Dari dua hal ini, pihaknya berharap agar pemerintah dapat melakukan upaya dan antisipasi agar kenaikan harga telur tidak terus naik. (Opq/K-1)















