Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

Guru Terget Pinjol

×

Guru Terget Pinjol

Sebarkan artikel ini

Oleh : Salasiah, S.Pd
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis delapan kelompok masyarakat yang paling banyak terjerat pinjaman online. Guru menduduki peringkat pertama dengan prosentase sebesar 42%. Disusul kemudian korban PHK sebanyak 21%, kalangan ibu rumah tangga 17%. Kemudian 9% adalah karyawan, 4% pedagang, dan 3% pelajar. Lalu, sisanya yakni tukang pangkas rambut dan ojek online masing-masing 2% dan 1%. (liputan6.com 29/04/2024).

CEO & Principal Zapfinance, Prita Hapsari Ghozie mengungkapkan pihaknya banyak mendapatkan kasus guru terjerat utang pinjol. Tak sedikit pula guru protes karena jumlah utang yang ditagihkan tak sesuai dengan pinjaman awal. Prita mengungkapkan dalam detikFinance, Kamis (23/11/2023) bahwa banyak yang teriak, kok pinjam Rp5 juta, tiba-tiba jadi Rp10 juta, atau ada pinjamnya Rp10 juta tiba tiba jadi Rp20 juta. Setelah kita pelajari, ternyata ada biaya-biaya tambahan lainnya yang tidak dipahami besarannya. Bahkan menurutnya tak jarang banyak guru yang terjerat lebih dari satu pinjol. Dalam beberapa kasus, satu orang guru bisa terjerat utang 10 pinjol.

Faktor yang menyebabkan pinjol kian meningkat Pertama adalah faktor tidak terpenuhinya kebutuhan hidup. Guru adalah dari latar masyarakat menengah ke bawah, dan banyak guru yang terlibat pinjol adalah guru honorer, yang pembayaran honornya terlambat.

Deputi Komisioner Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito mengatakan sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakan layanan pinjol legal untuk kebutuhan mendesak, seperti biaya berobat saat sakit ataupun keperluan lainnya. (Detik, 27-6-2023).

Tidak adanya jaminan kesehatan pada warga menjadikan warga miskin kesulitan untuk mengakses layanan kesehatan sehingga harus meminjam sejumlah uang. Nahasnya, sering kali berakhir pada kredit macet lantaran pemasukan yang pas-pasan. Bukan hanya kebutuhan kesehatan yang tidak terpenuhi, tetapi juga pendidikan, tempat tinggal, bahkan sandang pangan.

Baca Juga:  Kartini bukanlah Kartono

Kesejahteraan untuk guru dengan program sertifikasi guru belum semua dirasakan. Mereka yang masuk dalam dafatar sertifikasi pun harus menunggu beberapa bulan sekali untuk mendapatkannya, dengan persyaratan yang harus dipenuhi. Masih terdapat lebih dari satu juta guru yang belum sejahtera. Sementara godaan pinjol terus menggoda dengan iklan kemudahan mendapatkaan uang.

Negara yang bersistem demokrasi kapitalistik alamiahnya abai atas nasib warganya. Para pejabatnya malah hidup bermewah-mewahan dan kebijakannya pro pada pengusaha. Alhasil, rakyat yang seharusnya diselesaikan kebutuhan hidupnya, harus berjuang sendiri di tengah ketidakadilan hukum dan ekonomi. Negara yang seharusnya menyelesaikan urusan rakyatnya, hanya hadir sebagai regulatur.

Faktor kedua adalah gaya hidup. Peminjam pinjol termasuk guru, bukan hanya untuk kebutuhan mendesak, melainkan juga untuk gaya hidup. Beberapa guru yang tidak terlibat pinjol, tapi tergoda paylater atau justru mengambil keduanya.

Faktor ketiga adalah sistem kehidupan kapitalistik saat ini seolah-olah menjadikan utang sebagai “solusi dewa” dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Akhirnya, utang menjadi hal yang pertama kali tebersit di pikiran masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya, baik mendesak ataupun tuntunan gaya hidupnya.

Pinjol telah menjadi alat para kapitalis untuk menghegemoni sumber daya keuangan rakyat, terutama ekonomi menengah ke bawah, kelompok yang termasuk sulit untuk menyediakan jaminan (agunan). Sedangkan ekonomi menengah ke atas, tersebab punya aset untuk jaminan, cenderung mengoptimalkan kredit bank yang bunganya relatif rendah dibanding pinjol.

Di sisi lain, pemerintah tidak akan pernah menutup bisnis pinjol karena Indonesia adalah favorit investor global untuk bisnis fintech, baik dalam bentuk pinjol maupun paylater dan sejenisnya. Berdasarkan analisis Robocash Group yang mencakup 10 negara Asia Tenggara, sepanjang 2000—2023, perusahaan fintech di kawasan ini telah meraup US$62,7 miliar (Rp954,48 triliun) dari 80 negara. Indonesia menjadi rumah fintech nomor dua paling diincar investor global selama dua dekade terakhir. Perusahaan fintech Indonesia telah meraup US$ 20,8 miliar atau sebesar Rp 316,63 triliun sepanjang 23 tahun terakhir.

Baca Juga:  Digitalisasi Keilmuan Guru(Refleksi Hari Guru Nasional)

Mengingat faktor yang mendorong fenomena pinjol, mulai dari kebutuhan yang tidak terpenuhi, gaya hidup, hingga menjadikan utang sebagai solusi. Titik persoalannya terletak pada sistem kehidupan sekuler liberal yang makin mengakar, juga minimnya peran negara dalam menjamin kebutuhan hidup masyarakat.

Namun sejatinya, kedua persoalan tersebut bisa diselesaikan dengan aturan Islam. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan umat manusia. Islam mengharamkan riba dengan cara apa pun. Dalam hal ini, pinjol termasuk aktivitas pinjam-meminjam online yang disertai bunga, artinya merupakan aktivitas ribawi yang telah jelas keharamannya.

Walhasil, negara akan melarang praktik tersebut. Tidak seperti saat ini yang justru malah mendukung adanya pinjol. Negara akan memberikan sanksi dalam bentuk takzir (hukum yang disyariatkan atas tindakan maksiat atau kejahatan lainnya yang tidak ada ketentuan hududnya atau kifaratnya) kepada pelaku riba, baik itu peminjam, yang meminjamkan, penulis transaksi, maupun saksi.

Rasulullah SAW melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris), dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Beliau SAW berkata, “Semuanya sama dalam dosa.”(HR Muslim, no. 1598).

Gaji guru di dalam Islam sangat diperhatikan, karena Islam menghargai ilmu dan adab kepada guru sebagai ujung tombak pencetak generasi. Kesejahteraan yang ditetapkan Islam untuk menunjukkan penghargaan kepada seorang guru tidak akan membuatnya menjadi target pinjol. Guru tidak akan sampai mempermalukan diri mengemis mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, apalagi sampai membiarkan diri masuk ke dalam jeratan pinjol yang jelas riba dan zalim. Wallahu’alam bishshawab

Iklan
Iklan