ASTANA, Kalimantanpost.com – Setelah vakum sejak 2013, Indonesia dan Kazakhstan akhirnya menggelar kembali Sidang Komisi Bersama (SKB) Kedua di Astana, Senin (11/5). Dipimpin Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Deputi PM Kazakhstan Serik Zhumangarin, pertemuan ini menyepakati peta jalan penguatan ekonomi strategis dengan potensi perdagangan hingga USD2 miliar.
Menko Airlangga menegaskan posisi Kazakhstan sebagai pintu gerbang strategis ke kawasan Eurasia. Dengan PDB mencapai USD333,7 miliar dan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen, Kazakhstan dinilai sebagai mitra dagang potensial non-tradisional.
“Indonesia dan Kazakhstan harus memperluas pengaruh bersama di kawasan. Perjanjian FTA Indonesia–EAEU yang telah ditandatangani harus segera dioptimalkan,” ujar Airlangga.
Duta Besar RI, Dr. M. Fadjroel Rachman, menyebut kerja sama ini sebagai action-oriented partnership. Ia optimistis, dengan dukungan konektivitas logistik, penerbangan langsung, dan perlindungan investasi, nilai perdagangan bilateral yang saat ini masih USD244,7 juta dapat melejit menuju USD2 miliar.
Empat sektor menjadi fokus utama pengembangan: energi (kendaraan listrik dan geothermal), ekonomi digital, ketahanan pangan, dan logistik. Indonesia juga mendorong ekspor produk unggulan seperti sawit, kopi, dan alas kaki. Pertemuan ini diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi dunia usaha di Asia Tenggara dan Asia Tengah.(Ant/Rof/KPO-1)















