Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Spesies Baru Terong Berduri asal Kalimantan Diungkap BRIN

×

Spesies Baru Terong Berduri asal Kalimantan Diungkap BRIN

Sebarkan artikel ini
IMG 20260524 WA0016 1
Spesies terong berduri asal Kalimantan, Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri yang berhasil diidentifikasi oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (Antara/Repro BRIN)

JAKARTA, Kalimantanpost.com -Spesies baru terong berduri dari genus Solanum yang berasal dari Kalimantan, Indonesia berhasil diungkap peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Spesies tersebut diberi nama Solanum kalimantanense T Djarwaningsih, EL Agustiani & MR Hariri, yang diambil dari nama anggota tim, yakni Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih dan Muhammad Rifqi Hariri, serta Peneliti Pusat Riset Ekologi BRIN, Siti Susiarti.

Kalimantan Post

Peneliti BRIN, Muhammad Rifqi Hariri dalam keterangan di Jakarta, Minggu (24/5/2026) mengungkapkan Solanum kalimantanense memiliki sejumlah karakter morfologi khas yang membedakannya, seperti ukuran daun yang hampir sama panjang dan lebarnya, lekukan daun yang sangat dangkal, permukaan buah matang berbulu halus dan jarang, serta ukuran buah yang lebih besar dibandingkan Solanum lasiocarpum.

“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” katanya.

Ia menyebut analisis DNA menggunakan penanda ITS menunjukkan adanya perbedaan genetik yang cukup signifikan dibandingkan spesies kerabat terdekatnya.

Lebih lanjut, Peneliti BRIN, Tutie Djarwaningsih menyebut pihaknya mendapatkan informasi tanaman ini dikenal masyarakat lokal dengan sebutan terong asam atau terong dayak dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Buahnya banyak dijumpai di pasar terapung Banjarmasin dan umum diolah sebagai sayuran. Selain itu, masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, memanfaatkan daun dan kuncup buah tanaman ini sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah wikat untuk pengobatan kanker.

Sementara itu, Peneliti BRIN, Esthi L. Agustiani mengungkapkan Solanum kalimantanense ditemukan tumbuh pada berbagai tipe tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam, dengan rentang ketinggian 9–1700 meter di atas permukaan laut, dan tersebar di beberapa wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Ganti Nama, Kapten Kelotok Disiapkan Jadi Wajah Wisata Banjarmasin

Berdasarkan kajian awal, spesies ini diduga memiliki populasi terbatas, sehingga berpotensi masuk kategori rentan (vulnerable) menurut kriteria The International Union for Conservation of Nature (IUCN).

“Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat,” ujar Esthi.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 tahun 2026 dan dapat diakses melalui tautan: https://www.taprobanica.org/Archives/volume-15-20-2026-31/volume-15-number-1-2026/v15i1-401.html. (Ant/KPO-3)

Iklan
Iklan