Banjarbaru, KP – Bantuan operasi modifikasi cuaca (OMC) dari pemerintah pusat kepada Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dipastikan sementara berhenti.
Pelaksanaan OMC berakhir pada tanggal 21 Juli lalu.
Kini skema tersebut tidak lagi berjalan.
“Pelaksanaan OMC yang sebelumnya berlangsung pada 15 hingga 21 Juli 2026, untuk sementara dihentikan berdasarkan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra.
Penghentian sementara dilakukan karena potensi awan yang dapat disemai mulai berkurang sehingga pelaksanaan operasi dinilai belum efektif apabila tetap dilanjutkan.
Meski demikian, Ronny menegaskan penghentian tersebut hanya bersifat sementara dan pemerintah daerah bersama BMKG terus melakukan pemantauan kondisi atmosfer secara berkala.
“Apabila kembali tersedia potensi awan yang memenuhi persyaratan, Operasi Modifikasi Cuaca akan segera dilaksanakan kembali sebagai salah satu upaya meningkatkan peluang hujan di kawasan rawan karhutla,” sahutnya.
Ronny berharap sinergi yang terus terjalin antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, BNPB serta seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Dengan dukungan tersebut, penanganan karhutla di Kalsel diharapkan semakin cepat, tepat dan mampu meminimalkan dampak kebakaran terhadap masyarakat, lingkungan, maupun aktivitas perekonomian di daerah.
“Jika kondisi kembali memungkinkan dan terdapat potensi awan yang bisa disemai, maka Operasi Modifikasi Cuaca akan kembali dilakukan sebagai bagian dari strategi pencegahan dan penanganan karhutla di Kalsel,” ucapnya.
Ia memastikan dukungan pemerintah pusat pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berlanjut selama musim kemarau.
Dukungan tersebut diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari penyediaan armada udara, bantuan logistik, hingga koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat upaya pencegahan maupun penanggulangan karhutla di daerah.
Menurutnya, dukungan armada udara dan logistik dari pemerintah pusat memberikan kontribusi besar, meningkatkan kesiapsiagaan seluruh unsur yang tergabung dalam satuan tugas penanganan karhutla di Kalsel.
“Pemerintah pusat terus memberikan dukungan kepada Kalimantan Selatan, baik melalui penyediaan armada udara maupun bantuan logistik,” ujar Ronny, baru-baru ini.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyiagakan skema penambahan armada helikopter water bombing untuk penanganan karhutla di Kalsel.
Langkah ini diambil menyusul pengalihan sebagian armada pemadam udara untuk menanggulangi kejadian serupa di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Saat ini hanya dua heli water bombing beroperasi.
Meski armada berkurang, BNPB telah memberikan kepastian untuk menambah kembali unit helikopter apabila situasi kebakaran di Kalsel memerlukan penguatan.
“Saat ini tersisa dua helikopter water bombing di Kalimantan Selatan karena sebagian armada digeser membantu Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Namun, apabila dibutuhkan, BNPB siap menambah kembali,” ujar Ronny.
Ia menjelaskan, dukungan armada udara sangat vital karena banyak titik api berada di lokasi sulit yang tidak bisa ditembus oleh Satgas Darat. Penyiraman dari udara menjadi satu-satunya akses cepat untuk memadamkan api di area terisolasi.
Selain dua helikopter water bombing, operasi udara di Kalsel saat ini didukung satu helikopter patroli serta satu pesawat untuk OMC sekaligus pemantauan udara.
Sementara itu, Kementerian PU RI juga telah menjalankan berbagai langkah antisipatif melalui penguatan Satuan Tugas (Satgas) El Nino, optimalisasi jaringan irigasi, pengeboran air tanah, dan pendistribusian air bersih di sejumlah wilayah terdampak.
Berbagai upaya itu bertujuan untuk menjaga ketahanan pangan dan memastikan ketersediaan sumber daya air selama musim kemarau 2026. Strategi itu juga menjadi bagian dari mitigasi risiko bencana yang lebih luas.
“Total kapasitas air yang kami siapkan mencapai 12.000 liter untuk mendukung operasi penanganan darurat. Kami terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kalsel agar distribusi bantuan dan dukungan di lapangan dapat berjalan secara cepat, tepat, dan efektif,” jelas Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Provinsi Kalsel, Denny Surya Martha.
Penanganan karhutla di Kalsel juga melalui penyiagaan tiga unit truk tangki air berkapasitas masing-masing 4.000 liter, yang membuat total kapasitas air siap pakai mencapai 12.000 liter. Armada itu ditempatkan di Posko BPBD Provinsi Kalsel, BPBD Kota Banjarbaru, dan BPBD Kabupaten Banjar untuk mendukung operasi pemadaman darurat. Penempatan sarana itu bertujuan agar pendistribusian bantuan dapat menjangkau wilayah prioritas secara lebih cepat.(mns/K-2)















