Kerugian selama ini sudah mencapai sekitar ratusan juta.
PALANGKA RAYA, KP – Mati massal puluhan ribu ayah di wilayah Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah (Kalsel-teng).
Semua gegara listrik padam, dan peternak di Palangka Raya, ancam buang bangkai ke halamam Kantor PLN.
Pemadaman listrik di Provinsi Kalselteng, sangat berdampak bagi peternakan ayam.
Ribuan ekor ayam milik peternak di Palangka Raya, mati gegara pemadaman listrik dengan jadwal yang tidak konsisten.
Hal sama sebelumnnya dialami di Aluan Sumur Kecamatan Batu Benawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel.
Untuk di daerah ini, 5.000 ekor ayam lebih yang mati. Kondisinya sama dampak dari pemadaman listrik.
Para peternak ayam geram. Mereka, utamanya di Palangka Raya, mengancam akan membuang bangkai ayam ke halaman kantor PLN Palangka Raya.
Ancaman itu disampaikan para peternak saat melakukan aksi unjuk rasa atas pemadaman listrik ke kantor PLN UP3 Palangkaraya, di Jalan Ahmad Yani, pada Selasa (28/7/2026).
Sebagai bentuk protes yang lebih keras, Aliansi Peternak Ayam Kalteng menegaskan kembali mendatangi kantor PLN UP3 Palangka Raya Rabu (29/7/).
Jika manajemen PLN tetap tidak memberikan komitmen konkret untuk menghentikan pemadaman listrik, para peternak mengancam akan membawa hingga 10 unit mobil pikap bermuatan bangkai ayam untuk dibuang langsung di halaman kantor PLN.
“Kerugian selama ini sudah mencapai sekitar ratusan juta.
Kita rugi ini bukan cuma rugi tok, rugi sampai minus bahasanya. Karena kita punya modal, punya operasional untuk pemanas, tenaga kerja, dan lain-lain itu enggak akan balik. Kalau ayam sudah mati, sudah enggak bisa kita jual. Siapa yang mau beli ayam mati?” kata Satrio, salah satu peternak ayam, saat mengikuti aksi, sebagaimana dikutip dari Bima Raya.
Satrio mengungkapkan, mayoritas peternak ayam broiler di Kalimantan Tengah saat ini telah menerapkan sistem kandang modern atau close house.
Sistem kandang tertutup ini sangat bergantung pada kipas elektronik (blower) untuk menjaga sirkulasi udara dan menyuplai oksigen bagi ayam.
Dalam sistem ini, kestabilan arus listrik dari PLN menjadi faktor krusial yang menentukan hidup mati ayam.
“Listrik itu sebetulnya merupakan nyawa buat ayam.
Jadi ketika listrik ini padam, ya kami memang tetap memiliki genset.
Hanya saja PLN ini kan tidak konsisten, tidak memberikan jadwal yang tegas kapan itu dimatikan. Ditambah lagi durasi pemadaman itu yang begitu lama,” keluh Satrio.
Meskipun peternak memiliki genset, alat tersebut sejatinya hanya dirancang sebagai daya cadangan (backup), bukan pengganti pasokan listrik utama.
Durasi pemadaman yang terlalu lama memaksa genset bekerja melebihi kapasitasnya hingga mengalami kerusakan teknis.
Ketika genset rusak, suplai udara di dalam kandang langsung terhenti, yang mengakibatkan ribuan ayam mati mendadak karena kekurangan oksigen.
Beban peternak kian berlipat karena mereka juga kesulitan dalam memperoleh bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan genset. Pembelian BBM di SPBU dibatasi dan mereka tidak diizinkan membawa tangki penyimpanan secara bebas, yang membuat biaya operasional membengkak drastis.
Akibat polemik pemadaman listrik bergilir yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan ini, dukutip Jagad Tani, para peternak mengaku mengalami kerugian materiil dalam jumlah yang sangat besar.
Satrio juga mempertanyakan profesionalitas dan fungsi PLN sebagai penyedia layanan listrik negara.
Menurutnya, kegagalan PLN dalam menjaga pasokan listrik secara konsisten telah menciptakan efek domino yang merugikan banyak pihak.
Jika biaya produksi di tingkat peternak melonjak akibat penggunaan genset dan BBM, maka Harga Pokok Penjualan (HPP) daging ayam terpaksa dinaikkan.
Imbasnya, harga daging ayam di pasar tradisional akan melambung tinggi dan membebani daya beli masyarakat luas.
“Ngapain ada PLN kalau memang kita harus beli genset?.
Itu kan membuat operasional kita jadi bengkak.
Siapa yang mampu kerja? Enggak ada! Ya semuanya dampaknya buat masyarakat,” pungkasnya
[]Respon PLN
Sementara untuk kejadian di HST, videonya viral.
“Lebih dari 5.000 ekor ayam pedaging mati di kandang close house milik Saipul Hadi akibat kepanasan karena listrik mati,” kata Pambakal Aluan Sumur Nurul Adha di Barabai.
Nurul menerangkan, peristiwa kematian ribuan ayam tersebut terjadi pada Jumat (24/7) yang karena kepanasan akibat pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari lima jam.
Lebih lanjut, warga mengeluhkan pemadaman listrik terjadi saat waktu Salat Jumat dan tidak sesuai jadwal yang dibagikan yang berlangsung hingga sekitar pukul 17.30 Wita.
Ia menyebut, kandang tersebut sebenarnya memiliki generator cadangan, akan tetapi saat listrik padam, generator mengalami kerusakan, sehingga tidak mampu menghidupkan seluruh kipas blower yang menjadi sistem ventilasi utama kandang.
“Generator yang ada macet, sehingga kipas blower tidak bisa menyala semuanya. Akibatnya ayam kepanasan dan mati,” ujarnya.
Nurul menyebutkan, dari total sekitar 8.000 ekor ayam yang dipelihara, lebih dari 5.000 ekor dilaporkan mati akibat suhu di dalam kandang yang meningkat drastis selama pemadaman berlangsung.
Menurut Nurul, lamanya pemadaman menjadi penyebab utama besarnya kerugian yang dialami peternak, serta jadwal pemadaman yang disebut berubah dari pemberitahuan sebelumnya, sehingga peternak tidak memiliki cukup waktu untuk mengantisipasi kondisi tersebut.
“Akibat kejadian itu, Saipul Hadi diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp250 juta,” jelasnya.
Nurul mengaku hingga kini belum ada tindak lanjut dari pihak PLN terkait kerugian yang dialami peternak tersebut.
“Kami berharap ada perhatian dan tanggung jawab dari pihak terkait karena kerugian yang dialami peternak sangat besar,” katanya.
Sementara itu, Manager Unit Layanan Pelanggan PLN Barabai Kota Syarwani mengatakan pihaknya telah menerima informasi tersebut dan telah menghubungi pemilik kandang untuk berkomunikasi terkait kejadian itu.
Sampai saat ini, pihaknya masih melakukan terkait peristiwa tersebut sebelum menentukan tindak lanjut, serta berencana akan menemui pemilik kandang jika yang bersangkutan sudah balik dari luar kota ke Barabai.
Merespons peristiwa hangat tersebut, Pihak PT PLN (Persero) ULP Barabai Kota menyatakan telah memantau ketat perkembangan kasus ini dari dekat.
“Kasus ini sudah kami pantau.
Kami juga sudah berkomunikasi lewat WhatsApp.
Nanti setelah pemilik usaha tiba di Barabai, kami akan bertemu langsung untuk membahas masalah ini,” ujar Manager ULP Barabai Kota, Syarwani.
Penelaahan secara menyeluruh kini tengah berproses guna menentukan tindak lanjut yang sesuai dengan prosedur tata kelola perusahaan.
“Kami ingin bertemu langsung dengan pelanggan guna mendapatkan informasi lengkap, sehingga penanganan bisa dilakukan sesuai aturan yang berlaku,” sambung Asistant Manager Keuangan dan Umum PLN UP3 Barabai, Kurnia Dany Hargyana
Diketahui, apabila nantinya terdapat kompensasi kepada pelanggan, mekanismenya mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya, yang Terkait dengan Penyaluran Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero), sebagaimana telah diubah terakhir melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2025.
Kompensasi diberikan apabila PLN tidak memenuhi Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) yang bentuknya berupa pengurangan tagihan listrik bagi pelanggan pascabayar, atau penambahan token listrik bagi pelanggan prabayar.
Kendati demikian, untuk penggantian kerugian usaha, seperti kematian ternak maupun kerusakan aset pelanggan, tidak termasuk kompensasi yang diberikan secara otomatis, sehingga setiap kasus memerlukan penanganan dan kajian tersendiri. (*/net/K-2)















