BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Peningkatan Literasi Konservasi Bekantan pada Generasi Muda Berbasis Media Edukasi Digital”.
Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Pengelola Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak dan diikuti oleh Tim PDWA ULM yang beranggotakan enam orang yaitu Prof Dr Aminuddin Prahatamaputra, M Pd, Dr.Aulia Ajizah,MKes, Dewi Amelia Widiyastuti MPd, Luthfiana Nurtamara, MPd, Nurul Aulia MPd dan Rina Oktaviana MPd serta melibatkan 20 orang relawan muda yang aktif dalam berbagai kegiatan konservasi dan edukasi lingkungan pada Sabtu (20/6/2026 ).
Program ini dilaksanakan di Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, sebuah kawasan konservasi yang berfungsi sebagai sanctuary alami bekantan (Nasalis larvatus) sekaligus laboratorium alam untuk penelitian, pendidikan, dan pengembangan model konservasi berbasis masyarakat. Kawasan ini memiliki peran penting dalam menjaga populasi bekantan serta kelestarian ekosistem lahan basah di Kalimantan Selatan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini sejalan dengan visi Universitas Lambung Mangkurat sebagai universitas unggul dan berdaya saing yang berorientasi pada pengembangan dan pengelolaan lingkungan lahan basah. Melalui pelaksanaan Program Dosen Wajib Mengabdi, ULM mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menghadirkan solusi nyata berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan dan sosial di masyarakat.
Program ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya tingkat literasi konservasi masyarakat, khususnya generasi muda yang tinggal di sekitar habitat bekantan. Meskipun memiliki kedekatan geografis dengan kawasan konservasi, pemahaman mengenai status perlindungan bekantan, fungsi ekologisnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem lahan basah, serta ancaman yang dihadapi akibat degradasi habitat dan aktivitas manusia masih perlu ditingkatkan.
Selain itu, keterbatasan media edukasi digital yang kontekstual, berbasis lokal, dan mudah diakses generasi muda menjadi tantangan dalam pengembangan fungsi edukasi kawasan. Potensi besar hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan di Pulau Curiak juga belum sepenuhnya dikemas menjadi media pembelajaran yang menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui dua tahapan utama. Tahap pertama berupa pelatihan peningkatan literasi konservasi berbasis hasil riset lapangan di Pulau Curiak. Peserta mendapatkan materi mengenai ekologi bekantan, karakteristik ekosistem lahan basah, ancaman terhadap habitat, serta strategi konservasi berbasis data ilmiah. Tahap kedua berupa pelatihan teknis pengembangan media edukasi digital yang mencakup penyusunan e-booklet, e-modul, videografi dokumenter pendek, serta teknik dasar penyuntingan konten digital.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr Amalia Rezeki, dosen Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ULM, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk mengintegrasikan literasi sains dan literasi digital dalam upaya konservasi satwa liar dan ekosistem lahan basah.
“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya memberikan pengetahuan tentang konservasi bekantan, tetapi juga membekali generasi muda dengan keterampilan memproduksi media edukasi digital yang relevan dengan perkembangan zaman. Harapannya, para peserta dapat menjadi agen literasi lingkungan yang mampu menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat secara lebih luas dan efektif. Program ini juga merupakan bentuk nyata kontribusi ULM dalam mendukung pengelolaan lingkungan lahan basah yang berkelanjutan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, M Ramadhan Jayusman, narasumber kegiatan yang berasal dari Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, menyampaikan bahwa keberadaan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak memiliki nilai strategis tidak hanya dalam konteks konservasi satwa, tetapi juga dalam pengembangan kawasan geopark berbasis masyarakat.
“Kawasan sanctuary alami bekantan di Pulau Curiak sejak tahun 2023 telah menjadi bagian dari kawasan Meratus Geopark. Kawasan ini memiliki peran penting sebagai role model pengelolaan biodiversitas berbasis masyarakat yang memadukan aspek konservasi, edukasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran generasi muda dalam kegiatan seperti ini menjadi investasi penting untuk keberlanjutan pengelolaan kawasan di masa depan,” jelasnya.
Agustina Ambar Pertiwi, Kepala Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak yang juga merupakan kandidat Doktor Program Doktoral Ilmu Lingkungan ULM, menyambut baik pelaksanaan program tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan fungsi kawasan sebagai pusat edukasi dan konservasi berbasis riset.
“Selama ini hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Pulau Curiak memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran. Melalui program ini, informasi ilmiah tersebut dapat dikemas menjadi media edukasi yang lebih menarik, mudah dipahami, dan menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda. Kami berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus dikembangkan untuk mendukung kegiatan edukasi konservasi di kawasan ini,” ungkapnya.
Antusiasme juga ditunjukkan oleh para peserta. Salah seorang relawan muda Pulau Curiak, Ivan Gogo Daniel Sidabariba, mengaku memperoleh pengalaman baru yang sangat bermanfaat.
“Pelatihan ini membuka wawasan kami tentang pentingnya konservasi bekantan dan ekosistem lahan basah. Selain mendapatkan pengetahuan ilmiah, kami juga belajar membuat konten digital yang dapat digunakan untuk mengedukasi masyarakat. Saya berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan dan konservasi satwa liar,” katanya.
Melalui program ini, ULM berharap tercipta generasi muda yang tidak hanya memiliki pemahaman yang baik mengenai konservasi bekantan dan ekosistem lahan basah, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana edukasi, komunikasi sains, dan kampanye lingkungan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas masyarakat, dan generasi muda diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian bekantan sebagai fauna identitas Kalimantan Selatan sekaligus mendorong terwujudnya pengelolaan ekosistem lahan basah yang berkelanjutan, adaptif, dan berbasis partisipasi masyarakat untuk generasi mendatang. (ful/KPO-3)















