Oleh: RK Ariyandi
Praktisi Perbankan
Di banyak sudut Kalimantan Selatan, ekonomi tidak selalu hadir dalam bentuk angka pertumbuhan, grafik, atau laporan statistik. Ia justru tampil dalam wujud yang lebih sederhana: pasar yang ramai sejak pagi, motor yang lalu-lalang membawa orang bekerja, serta truk-truk kecil yang mengangkut semen menuju kawasan permukiman.
Pemandangan ini hadir hampir setiap hari. Di pasar-pasar Banua, ibu-ibu mengatur belanja rumah tangga dengan lebih cermat. Di jalanan Banjarmasin, Banjarbaru, hingga berbagai kabupaten lainnya, pengemudi ojek, kurir, dan pekerja informal terus mencari pelanggan dan penghasilan. Di sisi lain, rumah-rumah dibangun secara bertahap sesuai kemampuan ekonomi keluarga. Aktivitas yang tampak biasa ini sesungguhnya menyimpan cerita tentang kondisi masyarakat yang lebih dalam.
Pasar, motor, dan semen mungkin bukan indikator ekonomi dalam pengertian formal. Namun ketiganya dapat menjadi petunjuk sederhana untuk membaca apakah masyarakat masih mampu memenuhi kebutuhan, tetap produktif, dan berani merencanakan masa depan.
Pasar menunjukkan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup. Selama transaksi terus berlangsung dan roda perdagangan tetap berputar, di sana terdapat tanda bahwa daya beli masyarakat masih bergerak.
Motor menunjukkan produktivitas. Di Kalimantan Selatan, motor bukan sekadar alat transportasi, melainkan alat kerja yang menghubungkan orang dengan peluang ekonomi. Dengan motor, seseorang dapat menjangkau pelanggan, mengantar barang, atau mencari penghasilan di tempat yang lebih jauh.
Karena itu, jalanan yang tetap sibuk sering kali menjadi cerminan masyarakat yang terus berusaha menjaga produktivitasnya.
Sementara itu, semen menggambarkan keberanian membangun masa depan. Di balik setiap sak semen yang dibeli, terdapat harapan untuk memperbaiki rumah, memperluas usaha, atau menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga. Semen menjadi simbol bahwa orang tidak hanya memikirkan hari ini, tetapi juga esok.
Jika dibaca bersama, pasar, motor, dan semen menggambarkan perjalanan ekonomi yang sederhana: bertahan, bergerak, dan bertumbuh.
Dalam bahasa ekonomi, proses ini dikenal sebagai pembentukan modal, yaitu ketika pendapatan tidak hanya digunakan untuk konsumsi, tetapi juga diubah menjadi aset yang memberi manfaat jangka panjang. Dalam kehidupan sehari-hari, konsep tersebut hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: berbelanja, bekerja, dan membangun.
Karena itu, ekonomi sesungguhnya tidak hanya hidup dalam laporan statistik atau ruang rapat. Ia tumbuh dari jutaan keputusan rumah tangga yang dibuat setiap hari: mengatur pengeluaran, mencari tambahan penghasilan, menabung, atau memperbaiki tempat tinggal secara bertahap.
Di tengah dinamika global yang terus berubah, mulai dari fluktuasi nilai tukar hingga tekanan biaya hidup, aktivitas-aktivitas sederhana ini menunjukkan satu hal penting: masyarakat terus beradaptasi agar kehidupan tetap berjalan.
Di sinilah menariknya membaca ekonomi dari jalanan. Jalanan tidak pernah berhenti bercerita. Ia memperlihatkan apakah masyarakat masih memiliki ruang untuk memenuhi kebutuhan, bekerja, dan membangun masa depan.
Sayangnya, ukuran keberhasilan ekonomi sering kali terlalu bertumpu pada indikator makro.
Pertumbuhan ekonomi dan investasi tentu penting. Namun ukuran tersebut harus tetap terhubung dengan kehidupan masyarakat. Sebab ekonomi yang sehat bukan hanya terlihat dalam angka, tetapi juga terasa manfaatnya oleh keluarga, pekerja, pelaku UMKM, dan masyarakat di akar rumput.
Dalam perspektif ekonomi perilaku, keputusan ekonomi tidak semata-mata ditentukan oleh angka. Harapan, persepsi, dan pengalaman hidup juga ikut memengaruhi pilihan seseorang. Karena itu, pasar, motor, dan semen dapat dibaca sebagai cerminan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap masa depannya.
Pasar mencerminkan harapan untuk hari ini. Motor mencerminkan harapan untuk terus bergerak. Semen mencerminkan harapan untuk membangun hari esok. Selama ketiganya tetap hidup, harapan itu masih ada.
Lebih jauh, ketiganya juga menunjukkan ketahanan masyarakat. Bukan ketahanan dalam arti besar dan formal, melainkan kemampuan untuk terus melangkah di tengah perubahan.
Orang mungkin menyesuaikan pengeluaran, mengubah cara bekerja, atau menunda sebagian rencana. Namun mereka tidak berhenti.
Mungkin karena itu, kekuatan ekonomi daerah tidak selalu pertama kali terlihat dalam laporan triwulanan. Ia sering kali lebih dahulu terlihat di pasar yang tetap ramai, jalanan yang tetap sibuk, dan rumah-rumah yang terus dibangun sedikit demi sedikit. Gambaran sederhana tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki energi untuk melanjutkan kehidupan dan merencanakan masa depan.
Dalam konteks Kalimantan Selatan, perspektif ini mengingatkan kita bahwa ekonomi rakyat adalah fondasi yang sering terabaikan. Di balik investasi besar, proyek pembangunan, dan berbagai indikator makro, terdapat aktivitas sehari-hari yang menentukan apakah pertumbuhan benar-benar dirasakan masyarakat.
Pada akhirnya, kekuatan ekonomi sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya atau tingginya angka pertumbuhan. Kekuatan itu juga terletak pada kemampuan masyarakatnya untuk memenuhi kebutuhan, bekerja, dan membangun masa depan meski dalam berbagai keterbatasan.
Karena selama pasar masih hidup, motor masih bergerak, dan semen masih digunakan untuk membangun, kita sedang menyaksikan sesuatu yang penting: masyarakat yang belum berhenti percaya pada masa depannya sendiri.
Pada akhirnya, jalanan tidak hanya memperlihatkan aktivitas ekonomi. Jalanan juga memperlihatkan harapan. Dan selama harapan itu terus bergerak bersama masyarakat yang bekerja, berusaha, dan membangun, kita memiliki alasan untuk percaya bahwa ekonomi Kalimantan Selatan akan terus menemukan jalannya untuk tumbuh dan berkembang.













