Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Menembus Batas Takdir: Perjalanan Dr. Rico dari Pelosok Kalimantan Tengah hingga Menjadi Doktor Ilmu Komunikasi

×

Menembus Batas Takdir: Perjalanan Dr. Rico dari Pelosok Kalimantan Tengah hingga Menjadi Doktor Ilmu Komunikasi

Sebarkan artikel ini
rico1

Di tengah hamparan pedalaman Kalimantan Tengah, tepatnya di Desa Saka Tamiang, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, lahir seorang anak yang kelak membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita tertinggi. Anak tersebut adalah Dr. Rico, S.Pd., M.I.Kom, seorang akademisi yang kini mengabdikan dirinya sebagai dosen di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin. Perjalanan hidupnya bukanlah kisah tentang kemudahan, melainkan kisah tentang perjuangan panjang, keteguhan hati, dan kekuatan doa yang mampu mengubah keadaan yang tampaknya mustahil menjadi kenyataan.

Kehidupan telah mengajarkan arti perjuangan sejak usia yang sangat dini. Ketika baru berusia dua tahun, ia kehilangan sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarga. Peristiwa tersebut menjadi titik awal perjalanan hidup yang penuh tantangan. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas, bahkamn untuk makan sehari-haripun begitu sulit. Tidak ada kemewahan yang menyertai masa kecilnya. Tidak ada fasilitas yang berlimpah. Yang ada hanyalah seorang ibu yang dengan segala keterbatasannya berusaha membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang, ketulusan, dan pengorbanan yang tidak pernah terukur oleh angka maupun kata-kata.

Kalimantan Post

Masa kecilnya juga tidak sepenuhnya berjalan mulus. Tubuhnya yang kecil sering menjadi sasaran ejekan dan perundungan dari lingkungan sekitar. Tidak sedikit yang meremehkan kemampuannya dan memandangnya sebelah mata. Namun pengalaman-pengalaman tersebut justru membentuk karakter yang kuat dalam dirinya. Kesulitan demi kesulitan tidak membuatnya menyerah, melainkan menjadi energi yang mendorongnya untuk terus yakin kepada Sang Pencipta serta membuktikan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil, terlepas dari latar belakang sosial, ekonomi, maupun kondisi fisiknya.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, pendidikan menjadi satu-satunya jalan yang diyakininya mampu mengubah masa depan. Perjalanan akademiknya dimulai dari SD Negeri 1 Saka Tamiang, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kapuas Barat, dan SMA Negeri 1 Kapuas Barat. Dari sekolah-sekolah sederhana di daerah pelosok itulah tumbuh mimpi besar untuk mengubah kehidupan melalui ilmu pengetahuan. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi Sarjana (S1) di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Semangat belajar yang tinggi kemudian membawanya melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin, sebelum akhirnya menempuh pendidikan doktoral pada Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta.

Baca Juga :  Pancasilais

Perjalanan menuju gelar doktor tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Berbagai tantangan akademik, penelitian, tanggung jawab pekerjaan, keterbatasan waktu, serta berbagai persoalan kehidupan harus dijalani secara bersamaan. Di balik setiap halaman disertasi yang ditulis, terdapat perjuangan yang tidak terlihat oleh banyak orang. Di balik setiap capaian akademik, terdapat pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan air mata. Namun dalam setiap proses tersebut, ada satu kekuatan yang tidak pernah berhenti mengiringi langkahnya, yaitu doa seorang ibu.

Bagi Dr. Rico, keberhasilan yang diraihnya hari ini tidak dapat dipisahkan dari ketulusan doa sang ibu. Dalam kesederhanaannya, sang ibu mungkin tidak memiliki harta yang berlimpah untuk diberikan kepada anaknya. Namun beliau mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu keyakinan, semangat hidup, dan doa yang terus mengalir dalam setiap sujudnya. Ketika banyak orang meragukan kemampuan anaknya, sang ibu tetap percaya bahwa pendidikan akan membawa perubahan dan meyakini kemampuan anaknya. Ketika berbagai kesulitan datang silih berganti, doa seorang ibu menjadi sumber kekuatan yang menjaga harapan tetap hidup. Tidak berlebihan jika keberhasilan ini bukan hanya menjadi milik Dr. Rico, tetapi juga menjadi kemenangan seorang ibu yang selama puluhan tahun tidak pernah berhenti memohon yang terbaik untuk anaknya kepada Allah SWT.

Selain dukungan seorang ibu, perjalanan panjang tersebut juga tidak lepas dari peran keluarga yang selalu memberikan semangat dan dukungan moral. Dalam berbagai fase kehidupan, keluarga menjadi tempat kembali ketika kelelahan dan kesulitan datang menghampiri. Di sisi lain, kehadiran sahabat-sahabat terbaik juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Mereka hadir bukan hanya ketika keadaan baik-baik saja, tetapi juga ketika perjuangan terasa berat. Dukungan, motivasi, dan persahabatan yang tulus menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak pernah dibangun seorang diri, melainkan melalui kehadiran orang-orang baik yang Allah kirimkan dalam setiap perjalanan kehidupan.

Puncak dari perjalanan panjang tersebut terjadi pada tanggal 30 Mei 2026, ketika Dr. Rico resmi di Wisuda dengan gelar Doktor Ilmu Komunikasi predikat Cum Laude (Dengan Pujian).  dari Universitas Sahid Jakarta Sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan dirinya dan keluarga, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat Desa Saka Tamiang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, serta seluruh almamater yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya. Dalam sidang terbuka promosi doctor 22 Oktober 2025 lalu, ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Kearifan Lokal Huma Betang sebagai Wujud Karakter Komunikasi Budaya Suku Dayak Pascareformasi” yang bahkan melahirkan sebuah gagasan akademik baru dalam pemikiran Semiotika strukturalisme Ferdinand de Saussure sebagai kontribusi dalam pengembangan ilmu komunikasi budaya.

Baca Juga :  Penjara di Era Viral: Ketika Sistem Pemidanaan Gagap Menghadapi Layar Kaca

Kisah hidup Dr. Rico mengingatkan kita pada pemikiran filsuf Yunani, Epictetus, yang mengatakan bahwa “Bukan apa yang terjadi pada diri kita yang menentukan kehidupan kita, melainkan bagaimana kita merespons apa yang terjadi.” Kalimat tersebut seolah menemukan relevansinya dalam perjalanan hidup seorang anak desa yang kehilangan ayah sejak usia dua tahun, tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, menghadapi berbagai bentuk perundungan, namun memilih untuk menjadikan setiap kesulitan sebagai pijakan menuju keberhasilan. Ia tidak mampu mengubah masa lalunya, tetapi ia mampu menentukan bagaimana masa depannya harus dibangun.

Hari ini, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mimpi besar tidak mengenal batas geografis. Anak-anak yang lahir di pelosok desa memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai pendidikan tertinggi. Kemiskinan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi, sebagaimana keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah pada keadaan. Kisah Dr. Dr.Rico menjadi pengingat bahwa pendidikan tetap merupakan jalan paling mulia untuk mengubah nasib, membangun masa depan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, gelar doktor yang kini melekat di depan namanya bukan sekadar simbol pencapaian akademik. Gelar tersebut adalah representasi dari keteguhan seorang anak yang tidak menyerah pada keadaan, pengorbanan keluarga yang selalu memberikan dukungan, persahabatan yang tulus, serta doa seorang ibu yang tidak pernah berhenti mengetuk pintu langit. Dari sebuah desa kecil di pedalaman Kalimantan Tengah, lahirlah sebuah pesan besar bagi generasi muda Indonesia: bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berikhtiar, tidak ada keterbatasan yang terlalu kuat bagi mereka yang mau berjuang, dan tidak ada doa yang sia-sia ketika dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.

“Ilmu dituntu bukan untuk dibanggakan, ilmu dituntu untuk menyimpulkan senyuman dibalik pahitnya kehidupa (Dr. Rico)”

Iklan
Iklan