Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Periset IIQ Jakarta Paparkan Riset Akademik Pertama Peran Soekarno pada Penemuan Makam Imam Bukhari

×

Periset IIQ Jakarta Paparkan Riset Akademik Pertama Peran Soekarno pada Penemuan Makam Imam Bukhari

Sebarkan artikel ini
IMG 20260605 WA0041
BAWAKAN RISET- Eka Triyatna Shanty & Dr Samsul Riyadi, dua periset dari Institut Ilmu Qur’an (IIQ) Jakarta yang melakukan studi sistematis pertama dan berhasil merekonstruksi kebijakan Uni Soviet terhadap makam Imam Bukhari sebagai kebaruan ilmiah. Kalimantanpost.com - Foto/ DokImanBukhari

SAMARKAN, Kalimantanpost.com – Sebuah riset akademik pertama di dunia yang merekonstruksi perjalanan diplomatik dan spiritual Presiden Soekarno ke makam Imam Bukhari di Uzbekistan pada tahun 1956 – 1961 resmi dipresentasikan di Imam Bukhari International Scientific Research Center, Samarkand dihadapan Direktur Prof Shovosil Ziyodov dan ilmuwan di lingkungan Imam Bukhari Complex Samarkand, Kamis (4/6/2026).

Riset ini dilakukan oleh Peneliti dari Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ Jakarta) Eka Triyatna Shanty,SE,MH,CIEM, fellowship researcher asal Indonesia di Pusat Kajian International Imam Bukhari, Samarkand sekaligus alumni Pascasarjana IIQ Hukum Ekonomi Syariah bersama Dr. Samsul Ariyadi, M.Ag Ketua Program Studi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Pascasarjana IIQ Jakarta.

Kalimantan Post

Imam Bukhari International Scientific Research Center secara resmi merilis berita tentang pemaparan tersebut di laman resmi bukhari.uz dengan judul “Presentation of new Research on the History of the Imam Bukhari Mausoleum” dan menyebutnya sebagai pendekatan ilmiah baru serta mengakui bahwa riset ini merupakan studi sistematis pertama yang berhasil merekonstruksi kebijakan Uni Soviet terhadap makam Imam Bukhari sebagai kebaruan ilmiah.

Dari penelitian ini, ditemukan beberapa poin penting. Pertama, Soekarno menjadikan pemugaran makam Imam Bukhari sebagai syarat mutlak yang tidak dapat ditawar sebelum ia bersedia melakukan kunjungan ke Uni Soviet pada tahun 1956. Ia bersikeras dengan tuntutan tersebut sebelum akhirnya bersedia bertemu dengan Khrushchev.

IMG 20260605 WA0042
Eka Triyatna Shanty saat melakukan pemaparan dihadapan Direksi dan Ilmuwan Imam Bukhari International Scientific Research Center di Samarkand, Kamis (4/6/2026). Kalimantanpost.com – Foto/DokImamBukhari

Demikian pula ditemukan motif undangan Presiden USSR itu karena keberhasilan Soekarno menggelar Konferensi Asia Afrika Bandung 1955.

Kedua, Riset tersebut juga mencatat bahwa ketertarikan Soekarno terhadap warisan Imam Bukhari bukanlah sesuatu yang kebetulan.

Pandangan religius dan pencerahannya, sikapnya terhadap ilmu hadis, serta rasa hormatnya terhadap nilai-nilai Islam menjadi fondasi penting yang berawal dari pengasingan kolonialisme Belanda pada 1936.

Baca Juga :  Prof Ahmad Alim Bachri Akhirnya Masuk Bursa Calon Rektor ULM

Ketiga, rasa hormat Soekarno terhadap Sahih alBukhari turut mempengaruhi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, rancangan Monumen Nasional hingga Masjid Istiqlal.

Keempat, Uni Soviet merespons secara taktis namun bersifat pencitraan mengingat meskipun pada Maret 1956 mereka membuka makam Imam Bukhari untuk Soekarno namunn nyatanya itu hanya bersifat i etalase diplomatik karena pada Desember 1959 kebijakan berbalik dengan menutup ribuan madrasah dan masjid.

Kelima, terjadi kesenjangan memori antara Uzbekistan dan Indonesia. Di satu sisi, Uzbekistan menganggap Soekarno sebagai pahlawan rakyat, namun hingga riset ini dipaparkan museum baru yang diresmikan 20 Maret 2026 justru belum mengangkat nama Soekarno dalam narasi proses transformasi kompleks seluas 65 hektar tersebut.

Sementara itu, Indonesia sendiri hampir melupakan peran bersejarah yang pernah dimainkan oleh Soekarno dalam peristiwa ini.

Menurut Eka yang juga jurnalis Kalimantan Post ini, riset telah dilakukan sejak November 2024 melalui gerakan “1000 Cahaya Indonesia untuk Amirul Mukminin Fil Hadith”, dengan mengumpulkan data dari kegiatan talkshow dan pameran sejarah di UIN Syarif Hidayatullah, drama Soekarno-Imam Bukhari di Jakarta yang dihadiri Megawati Sukarnoputri, serta kumpulan pidato tokoh Uzbekistan dalam kegiatan bilateral.

Tim juga melakukan observasi ke makam Soekarno dan rumah orang tuanya di Blitar serta sejak Oktober 2025, Eka menetap di Kompleks Imam Bukhari selama 7 bulan.

Semua data direkonsiliasi dengan hampir 60 literatur tentang sejarah Perang Dingin dan Kehidupan Muslim di Uni Soviet, termasuk memoar Nikita Khrushchev, Presiden USSR yang mengundang Soekarno ke Uni Soviet.

Di akhir seminar, para peserta mengakui bahwa hasil riset yang dipresentasikan menunjukkan tidak hanya sebagai fakta sejarah, tetapi juga sebagai contoh unik dari “diplomasi religius” dan memori budaya dalam hubungan internasional.

Baca Juga :  Jemaah Haji Kloter 1 Tiba di Bandara Internasional Syamsudin Noor

Terhadap peristiwa sejarah dan penting dalam memperkuat ikatan budaya dan pendidikan antar bangsa.(Rof/KPO-1)

Foto 2

Iklan
Iklan