BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Tahapan pendaftaran bakal calon Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) periode 2026–2030 masih berlangsung.
Di antara nama-nama yang muncul, sosok Doktor Iwan Aflanie menjadi salah satu figur yang dinilai memiliki peluang besar untuk memimpin perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan Selatan (Kalsel) itu.
Visi misi yang cukup mencolok dibawa sosok Iwan salah satunya menjadikan ULM sebagai perguruan tinggi berkelas dunia.
Sebab menurutnya sekarang ini persaingan perguruan tinggi itu bukan hanya ditingkat nasional. Tapi sudan harus bisa tembus rangking dunia, dimana saat ini ULM masih belum sampai titik tersebut.
“Jika kita ingin punya Marwah, makanya kita harus masuk rangking dunia dengan mengarahkan program-program internasionalisasi. Baik bidang pendidikan, riset dan pengertian masyarakat harus sudah mengarah kesana,” ungkap Iwan, Jumat (26/6/2026).
Iwan menuturkan bahwa sudah saatnya ULM terekspos dunia bahwa kampus daerah ini memiliki daya saing di tingkat global.
Tidak hanya itu, ke depan ULM sebagai universitas harus mampu mandiri dan berkelanjutan karena tidak bisa berdiri dengan kokoh apabila terus mengharapkan bantuan pemerintah.
“Kemandirian yang dimaksud harapannya ULM memiliki unit-unit usaha, kalau perlu punya perusahaan dan lainnya agar berpenghasilan sendiri tanpa fokus pada UKT atau bantuan pemerintah daerah,” tuturnya.
Apabila hal ini berhasil dikelola hingga berpenghasilan besar lanjutnya, tentu akan berdampak langsung pada keberlangsungan kampus. Salah satunya UKT mahasiswa tidak terlalu mahal. Bahkan bisa memberikan beasiswa secara gratis pada sebagian mahasiswa.
“Asal ULM punya sumber pendapatan lain seperti memiliki rumah sakit, perkebunan, biro perjalanan. Tentu itu menjadi pemasukan bagi ULM dan membangunnya bisa dari itu hingga bisa mandiri dan terpenting bisa berkelanjutan juga,” terangnya.
Ia mengungkapkan saat ini ULM hanya memiliki Klinik LMMC yang rencananya akan didorong menjadi rumah sakit ke depannya.
“Jadi tidak hanya mahasiswa bisa belajar di situ tapi juga bisa melayani masyarakat dan menjadi income bagi ULM,” ujarnya.
Adapun yang melatarbelakangi Alumni Fakultas Kedokteran ULM ini mengikuti bursa pemilihan rektorat karena keinginan besarnya untuk bisa berkontribusi langsung dalam memajukan ULM.
Terlebih, ia bukan sosok baru di lingkungan ULM yang mana telah mengabdikan sebagian besar kariernya di kampus itu. Saat ini saja, ia menjabat sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik, setelah sebelumnya dipercaya memimpin Fakultas Kedokteran ULM sebagai dekan.
“Dari pengalaman dan kemampuan yang saya punya. Ya saya berharap bisa memberi sumbangsih lebih besar lagi kepada ULM, makanya saya ikut seleksi rektorat ini,” ungkapnya.
Meski sebelumnya kampus terbesar di Kalsel ini sempat tersandung kasus kontroversi guru besar, dirinya malah semakin yakin untuk maju dengan harapan bisa memperbaiki tata kelola yang ada di dalam kampus.
“Tentu ini jadi pelajaran kami untuk intropeksi diri dan harus memperbaiki sistem tata kelola dan pamong di universitas yang mana idealnya harus menerapkan GUG yakni Good University Governance,” sebutnya.
GUG sendiri lanjutnya, memiliki 5 komponen yakni transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan keadilan. Jika komponen ini berhasil diterapkan, maka integritas dan pengelolaan sebuah universitas akan semakin baik dan semakin maju dengan lebih cepat.
Tentunya hal tersebut sejalan dengan landasan dan pilar yang dibawanya untuk universitas terbesar di Kalsel itu.
Empat landasan yakni Normatif Yuridis, Epistemologis, Transformasi Tata Kelola, dan Filosofis yang harus diimplementasikan pada ULM jika ingin lebih maju.
Kemudian pilar memacu diri internasionalisasi, memperkuat transformasi digitalisasi, kemandirian yang keberlanjutan, serta siap menuju hilirisasi dan inovasi.
“Landasan dan pilar ini tentunya sejalan dengan visi misi saya mengikuti pemilihan rektor ini,” akhirnya. (ham/KPO-1)















