Oleh : Nailah, ST
Pemerhati sosial politik
Sejak 10 Oktober 2025 diumumkannya gencatan senjata antara Israel dan Palestina yang disebut-sebut akan mengakhiri serangan dan kekerasan. Namun ternyata Gaza masih berdarah, pembantaian belum berhenti, hanya saja menghilang dari layar. Di sana, nyawa masih melayang, dan penderitaan terus berulang setiap hari.
Hingga saat ini, para pejuang Gaza telah menunjukkan komitmen dan konsistensi dengan tidak melakukan penyerangan ke Israel. Namun di sisi lain, Israel tercatat telah melakukan lebih dari 3.000 pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memerintahkan militer untuk memperluas kendalinya atas Gaza hingga 70% wilayahnya, sebuah langkah yang akan membuat lebih dari dua juta warga Palestina terkurung di sebagian kecil Jalur Gaza. Israel menggambarkan perluasan ini sebagai langkah keamanan, tetapi para kritikus mengatakan bahwa ini sama dengan perebutan lahan besar-besaran yang semakin memperparah pengungsian.
Ambisi Israel
Demi mewujudkan ambisi membangun Israel Raya entitas zionis menghancurkan Gaza. Eskalasi kekerasan semakin meluas di Tepi Barat. Serangan para pemukim haram tidak hanya berupa intimidasi, tetapi juga pembuldoseran lahan, pembakaran pohon, hingga penyerangan rumah dan properti warga Palestina sering kali berlangsung di bawah perlindungan serdadu penjajah ‘Israel’. Apa yang dilakukan entitas zionis adalah kebiadaban, kekejaman, kejahatan kemanusiaan, dan kerusakan terbesar di muka bumi.
Palestina bukan hanya masalah sebuah bangsa yang kini digenosida oleh penjajah Zionis, tapi masalah Palestina kini adalah masalah bagi seluruh umat manusia yang masih punya hati nurani dan akal sehat bukan hanya masalah orang yang beriman pada Allah.
Penderitaan Palestina
AS menyokong terwujudnya ambisi Israel Raya. Namun penguasa negeri-negeri hanya mampu beretorika. Tidak ada satu pun tentara yang dikirim untuk membantu Palestina. Indonesia sendiri hanya terus mengatakan siap mengirim tentara, namun tidak sanggup mengirimnya langsung tanpa restu PBB.
Arab Saudi bisa mengirimkan pesawat tempurnya ke Yaman untuk membombardir Houthi, tetapi enggan mengirimnya ke Palestina untuk menghancurkan entitas Yahudi. Bahkan penguasa Arab tidak bersedia mengembargo penyaluran minyaknya ke entitas Yahudi dengan alasan tidak mau berkonflik dengan AS. Selain itu, penguasa Arab pun meyakini bahwa solusi atas konflik Palestina itu bukan embargo melainkan damai, gencatan senjata, dan solusi dua negara (two-state solution).
Begitu pula Turki, Erdogan mampu mengirim pesawat tempur yang canggih untuk membombardir para pemberontaknya, tetapi ia tidak bisa mengirim pesawat tersebut ke pangkalan militer entitas Yahudi. Lebih parahnya lagi Mesir yang malah membangun tembok besar di perbatasan Rafah dan Mesir dengan alasan agar warga sipil Mesir tidak terkena peluru Israel. Bahkan kini Mesir menolak para pengungsi Palestina dengan alasan ekonomi. Inilah pengkhianatan para pemimpin negeri-negeri muslim.
Penderitaan Palestina tak kunjung selesai, karena pengkhianatan penguasa muslim dan tidak adanya persatuan umat Islam. Seharusnya keadaan ini semakin menyadarkan kaum muslim akan busuknya konsep negara bangsa (nation state), atas nama nasionalisme,
Harus Dilawan
Ambisi Israel Raya harus dilawan, dan ini membutuhkan kekuatan dan persatuan umat Islam dalam wujud nyata, yaitu Khilafah. Khilafah akan memberikan perlindungan hakiki, yakni dengan memberikan pembelaan atas tanah dan kaum muslim di Palestina dan juga semua wilayah. Tidak hanya kaum muslim Palestina yang akan terbebas dari penganiayaan, tetapi juga muslim Uighur di Xinjiang Cina, muslim Rohingya di Myanmar, muslim Kashmir di India, muslim Moro di Filipina, muslim Patani didi Thailand, dan lainnya.
Khilafah juga akan mengeluarkan kaum muslim di seluruh dunia dari keterpurukan ekonomi, kebodohan, dan penderitaan-penderitaan lainnya. Khilafah adalah raa’in (pengurus) dan junnah (perisai) bagi seluruh umat Islam. Khilafah juga akan menghilangkan sekat nasionalisme antar negeri muslim dan menghentikan pengkhianatan para penguasa muslim, karena Khilafah adalah wujud persatuan umat Islam yang hakiki.













