Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku “Wanita, Keluarga dan Pendidikan Anak”
Dedeh Rosyida (Mama Dedeh), daiyah kondang pengasuh acara “Mama & Aa Curhat Doong” di sebuah televisi swasta nasional berpesan kepada para ibu agar kalau ditanya apa pekerjaannya, jangan dijawab ikut suami, melainkan ibu rumah tangga. Pesan ini sejalan pula dengan istilah dalam kependudukan (kolom pekerjaan dalam KTP), bahwa pekerjaan seorang ibu adalah mengurus rumah tangga.
Menjadi ibu rumah tangga tidak kalah mulianya dengan bekerja di luar rumah. Di zaman awal Islam ketika kaum pria banyak terjun berperang, lalu para ibu ingin ikut serta guna mendapatkan pahala besar atau syahid, Rasulullah saw melarang seraya mengatakan, jihad perempuan yang sebenarnya adalah menjadi ibu rumah tangga. Dalam tradisi Arab, ibu rumah tangga umumnya hanya melayani suami dan mengasuh anak. Bahkan menyusukan anak pun kadang diupahkan kepada perempuan lain.
Bagi kebanyakan rumah tangga di Indonesia, hampir semua pekerjaan keluarga ditangani oleh ibu rumah tangga. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali, nyaris ibu rumah tangga tidak beristirahat karena pekerjaan rutin yang tiada habisnya. Mereka bekerja tanpa gaji dan upah, meski jam kerjanya full. Bahkan saat ini lebih 7.000.000 wanita Indonesia merangkap sebagai ayah bagi anak-anaknya alias menjadi single parent. Karena itu bagi ibu rumah tangga sekarang semakin banyak indikator yang menunjukkan kegigihan berjihad.
Perempuan Hebat
Di tengah problema ekonomi yang sangat berat selama ini, para ibu rumah tangga dihadapkan pada tugas yang tidak ringan. Penghasilan suami yang bukan PNS tidak mengalami peningkatan, bahkan menurun. Tidak sedikit suami kehilangan pekerjaan, menganggur, sehingga terpaksa bekerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan. Dalam kondisi demikian, tugas ibu mengurus dapurnya agar tetap berasap bukan perkara ringan. Belum lagi harga barang-barang kebutuhan pokok yang semakin langka dan mahal dan sulit terjangkau oleh penghasilan kebanyakan suami. Uang Rp 100 ribu sekarang cepat sekali habisnya.
Tidak sedikit ibu rumah tangga menerima dengan pasrah ketika anak-anak mereka kurang gizi atau gizi buruk. Secara nasional, anak penderita kurang gizi saat ini 5 juta orang, 700 ribu di antaranya gizi buruk. Risiko sakit dan meninggal tentu sangat besar, sebab kalau sudah terlambat ditolong jarang berhasil dipulihkan. Sebuah penelitian menemukan, keluarga yang mengalami kurang gizi banyak karena ibu rumah tangga tidak mampu lagi mengurus dapur. Walau punya sedikit beras, mereka tidak sanggup membeli minyak goreng, lauk pauk dan sayur mayur. Akibatnya, uang sedikit mereka belikan masakan di warung, hitungannya lebih murah membeli daripada memasak sendiri. Jelas masakan dari membeli secara kualitas dan kuantitas kurang, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sejumlah orang anggota keluarga. Makan tiga kali sehari jelas tidak bisa tergantung warung. Risiko kurang makan dan kurang gizi mudah terjadi.
Desakan ekonomi rumah tangga atau karena memiliki pendidikan dan keahlian tertentu, semakin banyak perempuan bekerja. Memang banyak pekerjaan yang lebih tepat dan membutuhkan pekerja wanita. Pada dasarnya, perempuan tidak berkewajiban bekerja, sebab nafkahnya ditanggung suami, atau ayah dan saudaranya jika masih gadis. Banyaknya perempuan bekerja sekarang positif saja asalkan sesuai dengan keahlian dan tidak sampai menurunkan martabat kewanitaannya. Tetapi hal itu tidak akan mengubah hukum dan status kepemimpinan dalam rumah tangga. Pria tetap berkedudukan sebagai kepala keluarga, dan penghasilan ibu tetap menjadi haknya. Kalau dibelanjakan untuk keluarga itu sifatnya sebagai sedekah, bukan kewajiban.
Perempuan yang berpenghasilan lebih besar daripada suami, lalu statusnya berubah sebagai kepala keluarga sebagaimana ide pejuang gender, tidak bisa dibenarkan. Apabila penghasilan perempuan lebih besar dan menjadi pilar utama ekonomi keluarga, itu sebuah sedekah kebaikan (tabarru) yang luar biasa. Terlebih jika perempuan bercerai hidup atau mati dengan suaminya, lalu bekerja keras menafkahi anak-anaknya, kita tidak bisa menghitung lagi betapa besar kebaikan dan pahala perempuan hebat tersebut.
Beban Berat
Bagi keluarga mapan, ibu rumah tangga tidak repot memikirkan ekonomi, bahkan tersedia pembantu rumah tangga (PRT). Bagi mereka ini jihadnya lebih dititikberatkan pada mendidik anak, melayani suami serta membatasi hawa nafsu. Sekarang, urusan mendidik anak tidak lagi mudah, sebab begitu banyak sarana, kegiatan dan permainan yang menggoda anak, ada yang positif, tidak kurang yang negatif. Ibu rumah tangga harus mampu menjadikan rumahnya sebagai “surga” bagi anak-anak dan suaminya. Bagaimana agar anak-anak dan suaminya tidak berkeliaran di luar, itu tugas yang tidak ringan. Banyaknya anak menjadi nakal, terlibat miras, narkoba dan gaul bebas, sering karena ibunya tidak memperhatikan. Begitu juga banyaknya suami menghabiskan waktu dan uang di tempat hiburan, punya selingkuh dan istri simpanan, juga karena istri di rumah tidak lagi sebagai sandaran yang nyaman untuk melabuhkan fisik dan hatinya dari rutinitas kesibukan.
Ibu rumah tangga dari keluarga mapan juga dihadapkan pada keharusan mengendalikan hawa nafsunya. Kini terus bermunculan gaya hidup, pakaian, perhiasan, kendaraan, sarana olah tubuh dan peralatan kecantikan, yang hampir semuanya bermuara pada upaya meningkatkan daya pikat dan kecantikan fisik. Akibatnya, banyak ibu rumah tangga tidak semata menyuguhkan kecantikan untuk suaminya, tetapi juga diperagakannya di luar rumah; pasar, mall, jalanan, pesta, diposting di media sosial, dan di tempat-tempat publik lain. Terjadilah tabarruj, yaitu praktik perempuan memperlihatkan perhiasan, kecantikan tubuh dan gaya berpakaiannya yang mengundang mata orang. Akibatnya perempuan tersebut menjadi rumput tetangga yang hijau di mata siapa saja yang melihatnya. Pada gilirannya hal ini dapat merusak dan meracuni pikiran orang.
Agar predikat jihad para ibu rumah tangga tidak ternoda, kita anjurkan agar keluarga mapan lebih mengalokasikan kelebihan uangnya untuk amal-amal sosial dan agama. Perlu dicermati tetangga dan lingkungan kita, adakah keluarga miskin, sakit-sakitan dan kurang gizi. Jangan-jangan di saat kita tertawa-tawa, makan enak dan tidur nyenyak, ada tetangga yang sengsara, anaknya menangis karena lapar. Kelebihan harta yang dikaruniakan Allah hendaknya dialokasikan sebagian untuk menolong mereka yang hidupnya tidak beruntung. Mempercantik penampilan diri penting, tetapi tidak kurang pentingnya kecantikan pribadi, yaitu akhlak terpuji terhadap diri sendiri, anak, suami dan orang lain.
Pemerintah hendaknya melakukan kebijakan dan tindakan yang berpihak kepada kalangan ekonomi lemah. Kebijakan ekonomi yang merugikan, seperti pencabutan subsidi BBM, naiknya harga-harga barang, memajaki hampir semua usaha rakyat, tak bisa lain kaum ibu rumah tanggalah yang lebih dahulu merasakan akibatnya. Jangan sampai ada ibu rumah tangga yang sakit, meninggal, membunuh anak atau bahkan bunuh diri karena tidak sanggup lagi menanggung beban ekonomi.
Kebijakan pemerintah selama ini belum prorakyat. Berapa pun besarnya APBN/APBD selama ini, ternyata 60 persen justru digunakan untuk gaji pegawai, biaya birokrasi dan perjalanan dinas, 20 persen untuk membayar utang dan sisanya 20 persen untuk rakyat, itu pun tak terbebas dari sunatan dan potongan di tengah jalan. Rakyat hanya kebagian sisa. APBN sebagian besar (84 %) berasal dari pajak, padahal kita kaya sumber daya alam. Wajar banyak rakyat yang kesulitan hidup dan berusaha. Ketika para suami kesulitan bekerja, para ibu rumah tangga semakin sulit mengelola rumah tangga, bahkan banyak yang terpaksa bekerja. Sangat besar dosa para elit, pejabat dan pemimpin, wakil rakyat dan sebagainya yang membiarkan rakyat menderita, sampai memenuhi kebutuhan pokoknya saja susah. Sementara elit dan pejabatnya hidup enak, bergaji dan tunjangan besar, fasilitas lengkap tetapi tidak peduli akan nasib rakyatnya.













