PERINGATAN Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Banjarmasin menjadi momentum yang tepat untuk mengingatkan kembali bahwa koperasi bukan sekadar organisasi ekonomi warisan masa lalu. Di tengah derasnya arus digitalisasi, koperasi justru dituntut membuktikan bahwa semangat gotong royong tetap relevan dan mampu bersaing di era ekonomi modern.
Penghargaan kepada lima koperasi sehat yang diserahkan Wali Kota Banjarmasin H. M. Yamin HR patut diapresiasi. Pengakuan terhadap koperasi yang memiliki tata kelola baik akan memotivasi koperasi lain untuk berbenah. Namun, penghargaan seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Yang lebih penting adalah bagaimana koperasi mampu mempertahankan kualitas pelayanan dan meningkatkan daya saing melalui inovasi.
Ajakan Wali Kota agar koperasi di Banjarmasin melek digital merupakan langkah yang tepat. Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Sistem administrasi berbasis digital, pencatatan keuangan yang transparan, layanan anggota secara daring, hingga pemasaran produk melalui platform digital menjadi syarat agar koperasi tetap diminati generasi muda. Tanpa transformasi tersebut, koperasi berpotensi semakin tertinggal dibandingkan pelaku usaha lain yang lebih cepat beradaptasi.
Meski demikian, digitalisasi juga tidak boleh dimaknai sebatas membeli perangkat komputer, membuat aplikasi, atau memiliki media sosial. Esensi transformasi digital terletak pada perubahan budaya kerja, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta tata kelola yang lebih akuntabel. Teknologi hanyalah alat, sedangkan keberhasilan tetap bergantung pada kualitas pengelolaan organisasi.
Kehadiran narasumber dari Kementerian Koperasi, praktisi digital, hingga pelaku industri dalam seminar nasional menunjukkan bahwa pemerintah mulai menyadari pentingnya kolaborasi. Namun tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah seminar selesai. Pendampingan, pelatihan berkelanjutan, dan akses pembiayaan digital harus benar-benar diwujudkan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi di ruang seminar.
Di sisi lain, rencana pengembangan Koperasi Merah Putih juga harus dikawal secara kritis. Jangan sampai koperasi baru bermunculan hanya untuk memenuhi target administratif, tetapi tidak memiliki aktivitas usaha yang sehat. Pengalaman menunjukkan bahwa koperasi yang dibentuk tanpa kesiapan anggota, manajemen, dan model bisnis yang jelas sering kali hanya hidup di atas kertas.
Pernyataan Wali Kota bahwa keberhasilan koperasi tidak diukur dari berdirinya gedung baru, melainkan dari manfaat yang dirasakan anggota, layak menjadi pegangan. Ukuran keberhasilan koperasi seharusnya tercermin pada meningkatnya kesejahteraan anggota, bertambahnya lapangan kerja, dan berkembangnya usaha mikro yang menjadi mitra koperasi.
Banjarmasin memiliki peluang besar menjadikan koperasi sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Kota ini didominasi pelaku usaha mikro dan perdagangan yang membutuhkan akses pembiayaan, pemasaran, serta pendampingan usaha. Jika koperasi mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal, maka perannya tidak hanya sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi juga menjadi ekosistem ekonomi yang menghubungkan produsen, konsumen, dan pasar secara lebih efisien.
Momentum Harkopnas tahun ini semestinya menjadi titik awal transformasi, bukan sekadar agenda tahunan. Digitalisasi harus melahirkan koperasi yang lebih profesional, transparan, dan dipercaya masyarakat. Sebab pada akhirnya, koperasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai gotong royong akan tetap menjadi pilar penting ekonomi kerakyatan Indonesia.












