Martapura, KP – Memasuki musim kemarau, Pemkab Banjar melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas budidaya ikan di keramba jala apung.
Langkah ini dilakukan guna memastikan kondisi kualitas air sungai tetap mendukung kehidupan ikan, sekaligus mengantisipasi potensi kerugian yang dapat dialami pembudidaya akibat menurunnya debit air.
Kadis KPP Sipliansyah Hartani melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya Bandi Chairullah melakukan pemantauan langsung ke sejumlah lokasi budidaya ikan di aliran Sungai Arfat dan Desa Mali-Mali.
“Ini bertujuan mengecek kondisi kualitas air, terutama kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO), tingkat keasaman (pH), suhu air hingga kedalaman sungai yang terus mengalami penurunan akibat kemarau,” kata Bandi.
Saat melakukan pengukuran di wilayah hilir Desa Sungai Arfat, tim menemukan kadar oksigen terlarut hanya berada di kisaran 1 mg/liter, dengan suhu air mencapai 29,7 derajat Celsius, pH 6 dan kedalaman sungai berkisar 1,5 hingga 3 meter.
Kondisi tersebut menunjukkan kualitas air mulai menurun, sehingga perlu menjadi perhatian serius pembudidaya ikan.
Sementara pemantauan di Desa Mali-Mali menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Kadar oksigen terlarut kisaran 0,61 hingga 1,3 mg/liter, dengan pH tetap 6, kedalaman sungai hanya 1 hingga 2,5 meter, serta permukaan air sungai mengalami penurunan sekitar 2 meter. Tingkat kecerahan air juga tercatat antara 75 hingga 102 sentimeter.
Menurut Bandi, rendahnya kadar oksigen terlarut menjadi ancaman bagi ikan yang dipelihara di keramba jala apung. Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, ikan akan mengalami stres, sulit bernapas, bahkan berpotensi mengalami kematian massal.
“Pihak dinas sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi sejak Mei hingga Juni 2026 dengan memberikan sosialisasi, pengumuman dan himbauan pada seluruh pembudidaya mengenai potensi dampak musim kemarau,” ungkapnya.
Dalam sosialisasi tersebut, pembudidaya diminta memperkirakan waktu panen sebelum debit air sungai mengalami penurunan drastis. Selain itu, mereka juga diingatkan agar tidak melakukan penebaran benih ikan dengan kepadatan terlalu tinggi, sehingga kebutuhan oksigen ikan tetap terpenuhi, meskipun kualitas air menurun.
“Kami menghimbau agar mengatur jadwal panen lebih awal dan tidak menebar ikan terlalu padat, agar risiko kerugian bisa diminimalkan,” jelas Bandi.
Di lapangan, dampak musim kemarau mulai dirasakan langsung pembudidaya. Salah satunya Salmi, pembudidaya ikan di Mali-Mali.
Salmi mengatakan, permukaan air sungai saat ini turun sekitar dua meter, sehingga ikan bawal yang dipeliharanya mulai menunjukkan gejala kekurangan oksigen.
Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat diatasi karena ikan segera dipanen sebelum mengalami kematian. Sekitar 500 kilogram ikan bawal berhasil diangkat dari keramba dan langsung dijual, sehingga kerugian lebih besar dapat dihindari.
Dia mengaku bersyukur panen darurat masih bisa tepat waktu. Jika terlambat beberapa hari saja, ikan dikhawatirkan mati akibat rendahnya kandungan oksigen. (Wan/K-5)















