VANCOUVER, Kalimantanpost.com – Duel cukup seru dan menarik bakal terjadi di laga penutup babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Swiss melawan Kolombia di BC Place Vancouver pada pada Rabu (8/7/2026) pukul 03.00 WIB.
Berdasarkan head to head di pertemuan sebelumnya, Kolombia sedikit lebih unggul dalam rekor pertemuan dengan dua kemenangan dari total empat pertandingan. Sedangkan Swiss meraih satu kemenangan, dan satu laga lainnya berakhir
Ada punhead to head) antara Swiss dan Kolombia terjadi di laga persahabatan pada Februari 1985 dimana kedua tim bermain imbang 2-2.
Duel keduanya berlanjut di Miami Cup 1 di bulan Februari 1991 dimana Swiss menang 3-2.
Namun, di dua pertemuan terakhir, Kolombia lebih unggul atas Swiss yakni saat kedua tim bertemu fase grup Piala Dunia 1994, Kolombia menang 2-0. Begitu juga dilaga persahabatan pada 25 Maret 2007 kembali Kolombia menang 3-1 atas Swiss.
Terlepas dari sejarah pertemuan kedua tim, di kancah Piala Dunia 2026 ini, nampaknya baik Swiss maupun Kolombia menikmati perjalanan yang relatif tenang di babak sebelumnya. Swiss mengalahkan Aljazair 2-0 dan Kolombia dengan mudah mengalahkan Ghana 1-0.
Situasi serupa terjadi di babak penyisihan grup, di mana Swiss memimpin Grup B dengan tujuh poin setelah tim asuhan Murat Yakin memanfaatkan pengalaman mereka untuk melaju.
Johan Manzambi, Ruben Vargas, dan Breel Embolo telah mencetak tujuh gol di antara mereka, membuktikan variasi serangan yang dimiliki Swiss.
Namun, tim Eropa itu kebobolan di setiap tiga pertandingan babak penyisihan grup, jadi hasil tanpa kebobolan melawan Aljazair menjadi pendorong moral, dengan bek Manuel Akanji menekankan pentingnya ketangguhan di lini belakang saat Swiss fokus untuk melewati Kolombia.
“Kami bertahan dengan baik dan saya pikir kami mencetak gol di saat yang tepat,” kata Akanji. “Menjaga gawang tetap bersih untuk pertama kalinya, itu adalah sesuatu yang selalu Anda inginkan sebagai seorang bek,” katanua dikutip dari laman AFC.
“Akhirnya kami bisa memenangkan pertandingan babak gugur juga, tetapi semoga kami belum selesai. Saya pikir itu penampilan yang bagus dan tidak mudah. Aljazair bermain sangat baik, tetapi saya pikir kami bermain dengan banyak pengalaman.
Kolombia juga tampil mengesankan di babak penyisihan grup, memuncaki Grup K di atas raksasa Eropa, Portugal.
Tim asuhan Nestor Lorenzo mengincar penampilan di perempat final untuk pertama kalinya sejak 2014, yang merupakan pencapaian terjauh tim asal Amerika Selatan itu di panggung global.
Pelatih asal Argentina, Lorenzo, juga mengandalkan pengalaman yang ada dalam skuad, tetapi di antara banyaknya pemain senior, gelandang berusia 22 tahun Gustavo Puerta telah bersinar sejak diberi kesempatan.
“Pelatih ingin saya menjadi pemain serbaguna sebisa mungkin,” kata Puerta kepada FIFA setelah pertandingan melawan Ghana. “Dia menempatkan saya di sayap kanan, sayap kiri, dan terkadang sebagai gelandang bertahan. Sejujurnya, saya merasa sangat nyaman. Saya hanya mencoba membantu tim dengan cara apa pun yang saya bisa,” kata Puerta.
“Kami semua sepenuhnya setuju dengan sistem pelatih. Kami semua bisa bermain di posisi yang berbeda, dan saya pikir itu memberi pelatih lebih banyak pilihan dalam menyusun tim,” pungkasnya.
Cukup menarik untuk disaksikan akan kah Swiss mampu menyamakan rekor pertemuannya atas Kolombia semakin menjauh skor kemenangan pertemuan mereka. (ful/KPO-3)















