Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Menambal Jalan Ambles

×

Menambal Jalan Ambles

Sebarkan artikel ini

Editorial Kalimantan Post, 18 Juli 2026

AMBLESNYA kembali Jalan Veteran Km 5,5 di kawasan Sungai Lulut bukan lagi sekadar persoalan jalan rusak. Peristiwa yang berulang hampir setiap tahun ini menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan selama ini belum menyentuh akar persoalan.

Setiap kali jalan ambles, pemerintah bergerak melakukan penimbunan, memasang cerucuk, geotekstil, lalu mengaspalnya kembali. Jalan memang dapat dilalui lagi, tetapi hanya menunggu waktu sebelum kerusakan yang sama kembali terjadi. Pola seperti ini tentu tidak efisien. Anggaran terus terserap, masyarakat kembali terganggu, dan risiko keselamatan pengguna jalan tetap mengintai.

Kalimantan Post

Penjelasan Dinas PUPR Kalimantan Selatan sebenarnya sudah sangat terang. Tanah di kawasan bantaran sungai memiliki karakter lunak dan mudah mengalami penurunan, terutama saat musim kemarau ketika kadar air berkurang. Artinya, persoalan bukan berada pada lapisan aspal, melainkan pada struktur tanah di bawahnya. Jika fondasinya lemah, sebaik apa pun permukaan jalan diperbaiki, hasilnya tidak akan bertahan lama.

Karena itu, usulan membangun jalan dengan sistem pile slab layak dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang. Pengalaman di Jalan Martapura Lama membuktikan metode tersebut mampu menghentikan masalah ambles yang berulang. Memang biaya pembangunannya lebih besar dibandingkan perbaikan biasa, tetapi jauh lebih hemat jika dibandingkan dengan pengeluaran rutin setiap kali jalan rusak.

Tantangan berikutnya adalah keberanian mengambil keputusan. Penanganan permanen membutuhkan anggaran besar, pembebasan lahan, serta koordinasi lintas instansi. Namun justru di sinilah pemerintah dituntut memiliki visi jauh ke depan. Infrastruktur tidak boleh dibangun hanya untuk bertahan satu atau dua musim, melainkan harus mampu melayani masyarakat dalam jangka panjang.

Di sisi lain, keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama. Selama proses penanganan berlangsung, pengaturan lalu lintas, pemasangan rambu yang memadai, serta sosialisasi jalur alternatif harus dilakukan secara maksimal. Jangan sampai kemacetan panjang atau bahkan kecelakaan menjadi harga yang harus dibayar masyarakat akibat keterlambatan penanganan.

Baca Juga :  Program MBG Jadi Bancakan Korupsi, Hentikan Atau Evaluasi Total!

Momentum ini juga menjadi pengingat penting bahwa pembangunan jalan di Kalimantan Selatan harus semakin berbasis kajian geoteknik. Setiap proyek di kawasan rawa maupun bantaran sungai seharusnya diawali dengan penyelidikan kondisi tanah secara menyeluruh sehingga desain konstruksi disesuaikan dengan karakter wilayah, bukan sekadar mengejar penyelesaian proyek.

Jalan Veteran Sungai Lulut merupakan salah satu urat nadi transportasi yang menghubungkan Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Gangguan di ruas ini berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, distribusi barang, hingga mobilitas masyarakat. Karena itu, penyelesaiannya tidak boleh lagi bersifat sementara.

Sudah saatnya pemerintah daerah bersama pemerintah pusat menjadikan persoalan ini sebagai proyek prioritas. Pendanaan dapat dirancang secara bertahap, termasuk membuka peluang dukungan dari pemerintah pusat apabila nilai proyek melampaui kemampuan APBD. Yang terpenting, harus ada komitmen bahwa perbaikan kali ini adalah perbaikan terakhir, bukan sekadar tambal sulam yang kembali rusak beberapa bulan kemudian.

Masyarakat tentu tidak berharap jalan yang sama terus menjadi langganan ambles. Yang mereka inginkan sederhana: jalan yang aman, nyaman, dan dapat digunakan tanpa rasa khawatir. Kini keputusan ada di tangan pemerintah, apakah akan terus menghabiskan anggaran untuk memperbaiki kerusakan yang berulang, atau berani berinvestasi pada solusi permanen demi keselamatan dan kepentingan masyarakat dalam jangka panjang.

Iklan
Iklan