Oleh : Sabiq Al Labiib ‘Ibaadurrahmaan
Siswa MAN IC Tanah Laut
Sebagai seorang pelajar, saya sering menyaksikan bagaimana Al-Qur’an menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan remaja Muslim. Banyak di antara mereka yang sejak SMP telah memiliki hafalan Al-Qur’an yang cukup banyak dan menjadikannya sebagai salah satu bagian penting dalam perjalanan pendidikan mereka.
Ketika beranjak ke jenjang SMA, saya sempat beranggapan bahwa semakin banyak hafalan akan sejalan dengan semakin baiknya akhlak. Namun, pengalaman yang saya temui justru membuat saya mempertanyakan anggapan tersebut.
Saya pernah menemukan adanya ketimpangan antara hafalan Al-Qur’an dan akhlak yang membuat saya bertanya-tanya. Ada pelajar yang memiliki hafalan cukup banyak, tetapi masih sering berkata kasar, kurang bersemangat atau berjalan lambat menuju masjid, serta kurang memperhatikan adab sederhana seperti makan sambil berjalan, berdiri, atau menggunakan tangan kiri.
Meskipun tampak sepele, kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut membuat saya bertanya, mengapa banyaknya hafalan Al-Qur’an tidak selalu tercermin dalam akhlak seseorang?
Pertanyaan tersebut bukan berarti saya mengharuskan para penghafal Al-Qur’an menjadi manusia yang sempurna. Penghafal Al-Qur’an tetaplah manusia yang memiliki kekurangan dan masih berada dalam proses memperbaiki diri.
Hafalan juga merupakan sebuah keutamaan yang membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan ketekunan. Namun, saya melihat adanya sebuah kesenjangan antara hafalan dan perilaku: seharusnya semakin banyak ayat yang tersimpan dalam ingatan, semakin banyak pula nilai yang berusaha diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, dalam kenyataan, hafalan dan perilaku tidak selalu tumbuh dengan kecepatan yang sama. Dari sinilah saya mulai menyadari bahwa memiliki hafalan dan menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an merupakan dua hal yang berbeda, meskipun seharusnya berjalan beriringan.
Mungkin selama ini kita terlalu mudah mengukur kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an melalui sesuatu yang dapat dihitung. Berapa juz yang telah dihafalkan, berapa surah yang dikuasai, seberapa lancar setoran hafalannya, atau bagaimana bacaannya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan sejauh mana Al-Qur’an telah memengaruhi seseorang. Sebab, ada bagian lain yang jauh lebih sulit diukur, yaitu akhlak.
Tidak ada angka yang bisa menunjukkan seberapa baik seseorang menjaga lisannya. Tidak ada jumlah juz yang secara otomatis membuat seseorang menjadi lebih sabar, rendah hati, atau mampu menjaga perilakunya.
Hafalan dapat diperiksa dalam waktu tertentu, sedangkan akhlak dibuktikan melalui perilaku yang berulang dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kualitas seseorang tidak seharusnya hanya dilihat dari apa yang tersimpan dalam ingatannya, tetapi juga dari apa yang tercermin melalui perbuatannya.
Di sinilah saya merasa bahwa menghafal dan mengamalkan merupakan dua hal yang harus berjalan bersama. Menghafal membuat ayat tersimpan dalam ingatan, sedangkan mengamalkan membuat pesan ayat tersebut hadir dalam kehidupan.
Seseorang mungkin mampu menghafal ayat tentang menjaga lisan, tetapi tantangan sebenarnya muncul ketika ia sedang marah atau bercanda dengan temannya. Ia mungkin mengetahui pentingnya disiplin dalam beribadah, tetapi tantangan sebenarnya muncul ketika tubuh merasa lelah dan ajakan menuju masjid terasa berat.
Ia mungkin mengetahui berbagai adab dalam Islam, tetapi tantangan sebenarnya hadir dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Di situlah hafalan diuji, bukan hanya ketika ayat dilantunkan, tetapi ketika nilai di dalamnya harus diterapkan.
Al-Qur’an sendiri tidak seharusnya hanya menjadi sesuatu yang dihafalkan, tetapi juga menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan. Allah berfirman dalam QS. As-Saff ayat 2–3, yang isinya tentang teguran bagi orang-orang beriman yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengerjakannya.
Ayat tersebut seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi kita semua, bukan senjata untuk menghakimi orang lain. Sebab, setiap orang masih berada dalam proses belajar untuk menyelaraskan apa yang diyakini, diucapkan, dan dilakukan.
Karena itu, mungkin persoalan sebenarnya bukanlah “mengapa orang yang hafal banyak Al-Qur’an masih bisa memiliki kekurangan dalam akhlak?” Akan tetapi, “sudah sejauh mana hafalan yang kita miliki kita bawa dari lisan menuju perbuatan?”
Pendidikan Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengingat. Setelah hafalan, ada pemahaman; setelah pemahaman, ada penghayatan; dan setelah penghayatan, seharusnya ada perubahan dalam perilaku.
Bagi seorang pelajar, pengamalan ayat tentang menjaga lisan dapat terlihat dari cara berbicara kepada teman. Nilai tentang persaudaraan dapat terlihat dari cara menyelesaikan konflik, sementara nilai tentang kebersihan, kedisiplinan, kesabaran, dan kejujuran dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa banyak ayat yang mampu kita simpan dalam ingatan, tetapi berapa banyak nilai yang berhasil kita hidupkan melalui perilaku. Hafalan adalah perjalanan yang mulia, tetapi jangan sampai Al-Qur’an hanya tinggal di dalam ingatan.
Sebab, keindahan Al-Qur’an tidak hanya terlihat ketika ayat-ayatnya dilantunkan, tetapi juga ketika nilai-nilainya tercermin dalam akhlak orang yang membawanya.












