BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Pemadaman listrik bergilir yang belakangan terjadi di Kalimantan Selatan menjadi perhatian berbagai pihak. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap dunia usaha dan perekonomian daerah.
Persoalan jtu lantas diangkat Kalimantan Post dalam sebuah Dialog Interaktif bertajuk “Listrik Tak Boleh Mati Lagi!” dengan tema “Mengapa Daerah Penghasil Batu Bara Masih Mengalami Pemadaman Listrik? Mencari Solusi dan Membangun Komitmen Bersama”, yang digelar Kalimantan Post di Lantai 2 Gedung Kalimantan Post, Jalan DI Panjaitan, Banjarmasin, Rabu (15/7/2026).
Dialog menghadirkan perwakilan PLN Unit Induk Distribusi Kalselteng, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Selatan, DPRD Kalsel, Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj Ananda, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalsel, Ketua PWI Kalsel Zainal Helmie, Ahli Pers Dewan Pers Fathurrahman, tokoh masyarakat, serta manajemen perusahaan dan jajaran redaksi Kalimantan Post.
Wakil Ketua Bidang Perindustrian Kadin Kalsel, Mahyuni, mengapresiasi terselenggaranya dialog tersebut sebagai wadah menyampaikan aspirasi sekaligus mencari solusi bersama agar persoalan kelistrikan di Kalimantan Selatan dapat segera diatasi.
Menurutnya, pemadaman listrik dengan durasi yang mencapai lebih dari lima jam memberikan dampak besar bagi pelaku UMKM, terutama usaha yang belum memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan.
“Contohnya pelaku usaha yang bahan bakunya berupa ikan atau daging yang cepat mengalami pembusukan jika tidak disimpan di dalam lemari es atau pendingin. Dan ini sangat berisiko tinggi sehingga menyebabkan kerugian,” ujarnya.
Mahyuni menambahkan, dampak pemadaman juga dirasakan sektor industri berskala besar. Industri seperti smelter maupun pabrik semen yang menggunakan Rotary Kiln akan menanggung kerugian besar apabila pasokan listrik terputus.
“Pasalnya, biaya untuk mengembalikan suhu tanur ke kondisi operasional bisa mencapai lebih dari setengah miliar rupiah,” tandasnya.
Ia berharap dialog tersebut dapat menghasilkan komitmen bersama untuk mewujudkan sistem kelistrikan yang semakin andal di Kalsel sehingga jika terjadi gangguan, durasinya tidak berlangsung lama dan tidak menimbulkan kerugian ekonomi bagi masyarakat maupun dunia usaha.
Mahyuni juga mendorong PLN terus meningkatkan teknologi pemantauan jaringan, salah satunya melalui penerapan sistem seperti Air Control Unit, sehingga potensi kerusakan dapat dideteksi lebih dini sebelum menyebabkan pemadaman.
“Jadi tidak padam dulu, baru kita ingin memperbaiki,” katanya.
Lebih lanjut, Mahyuni menjelaskan banyak sektor usaha yang berada di bawah naungan Kadin Kalsel sangat bergantung pada pasokan listrik, seperti Asphalt Mixing Plant (AMP) maupun Redibag Semen atau Ready Mix Beton yang berhubungan langsung dengan jadwal pelaksanaan proyek pembangunan.
Menurutnya, ketika listrik padam, proses produksi ikut terhenti sehingga jadwal pekerjaan menjadi terganggu. Dampaknya, penyelesaian pembangunan juga berpotensi terlambat dan pada akhirnya dirasakan oleh masyarakat.
“Semoga ke depan sistem kelistrikan kita lebih handal lagi. Saya yakin PLN punya kemampuan untuk itu,” tuntas Mahyuni. (opq/KPO-4).















