PENERIMAAN murid baru tahun ajaran 2026/2027 hampir seluruhnya telah rampung. Di jenjang SMP dan SMA, para siswa telah menyelesaikan daftar ulang dan bersiap mengenakan seragam untuk memulai lembaran baru.
Namun, di balik riuhnya euforia itu, ada pemandangan yang mengusik nurani: sejumlah sekolah dasar justru menanti murid yang tak kunjung datang.SDN Teluk Dalam 10 Banjarmasin menjadi potret nyata. Hingga penutupan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring, sekolah tersebut hanya menerima satu pendaftar. Angka yang sulit dipercaya untuk sebuah sekolah negeri di kota yang masih menjadi pusat aktivitas Kalimantan Selatan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan kurangnya peserta didik. Ini adalah tanda perubahan besar yang sedang berlangsung. Struktur penduduk berubah, keluarga muda berpindah ke kawasan pinggiran demi memiliki rumah, angka kelahiran menurun, sementara sekolah-sekolah berdiri saling berdekatan dan berebut murid yang jumlahnya semakin sedikit.
Di sisi lain, muncul kecenderungan orang tua berlomba memasukkan anak ke sekolah yang dianggap lebih unggul. Akibatnya, sekolah favorit dipenuhi pendaftar, sedangkan sekolah lain perlahan kehilangan denyut kehidupan. Padahal setiap sekolah negeri dibangun dengan tujuan yang sama, yakni memberikan layanan pendidikan yang layak bagi seluruh anak.
Ruang kelas yang kosong bukan hanya soal bangku yang tak terisi. Di sana ada guru yang tetap datang dengan semangat mengajar, ada kepala sekolah yang terus berusaha mempertahankan keberlangsungan sekolah, dan ada fasilitas negara yang belum dimanfaatkan secara optimal. Semua itu adalah investasi pendidikan yang tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah.
Regrouping sekolah memang dapat menjadi salah satu solusi. Namun, kebijakan tersebut harus didasarkan pada kajian yang matang, mempertimbangkan akses pendidikan, pemerataan layanan, serta masa depan para guru dan peserta didik. Jangan sampai penyelesaian administratif justru mengurangi hak anak untuk memperoleh pendidikan yang mudah dijangkau.
Pemerintah daerah juga perlu melakukan pemetaan kebutuhan sekolah secara menyeluruh. Zonasi harus dievaluasi mengikuti dinamika permukiman penduduk. Pembangunan sekolah baru maupun penggabungan sekolah lama hendaknya mengacu pada data kependudukan, bukan sekadar kondisi sesaat. Lebih penting lagi, kualitas seluruh sekolah harus terus ditingkatkan agar tidak ada lagi stigma sekolah favorit dan sekolah buangan.
Pendidikan dasar adalah fondasi pembangunan bangsa. Ketika ada sekolah yang kesulitan mendapatkan murid, persoalannya bukan hanya milik sekolah itu, melainkan tanggung jawab bersama. Jangan biarkan ruang-ruang kelas menjadi sunyi, karena dari ruang itulah masa depan kota ini dibentuk.
Anak-anak berhak memperoleh pendidikan yang bermutu di sekolah mana pun mereka belajar. Tugas pemerintah dan masyarakat adalah memastikan tidak ada sekolah yang kehilangan harapan, hanya karena perubahan zaman yang terlambat diantisipasi.











