Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Kabut Asap Makin Pekat

×

Kabut Asap Makin Pekat

Sebarkan artikel ini

Editorial Kalimantan Post, 28 Agustus 2026

KABUT asap kembali menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Hampir sepekan terakhir, kabut asap semakin pekat, terutama pada malam hingga pagi hari. Bagi pekerja malam, kondisi ini bukan lagi sekadar gangguan jarak pandang, tetapi sudah menyentuh persoalan keselamatan dan kesehatan.

Bau asap yang semakin menusuk hidung menjadi tanda bahwa kualitas udara sedang tidak bersahabat. Para pekerja yang harus beraktivitas di luar rumah pada malam hari mau tidak mau menghadapi risiko tersebut. Karena itu, penggunaan masker seharusnya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Kalimantan Post

Persoalannya, kabut asap tidak hanya dirasakan mereka yang bekerja di jalanan. Masyarakat mulai mendatangi rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatan. Keluhan sesak napas dan gangguan kesehatan lainnya mulai bermunculan. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin beban fasilitas kesehatan akan semakin berat.

Dampaknya bahkan mulai merambah sektor transportasi udara. Pada Rabu (26/8), sebanyak 10 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Enam penerbangan keberangkatan dan empat penerbangan kedatangan mengalami penundaan.

Faktor keselamatan menjadi alasan utama. Jarak pandang pada pagi hari dilaporkan hanya sekitar 200 meter. Kondisi tersebut jelas berisiko bagi penerbangan. Setelah jarak pandang membaik hingga 1.500 meter, aktivitas penerbangan kembali berjalan normal dan seluruh penerbangan terdampak akhirnya dapat beroperasi.

Namun, fakta bahwa penerbangan sampai terganggu seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Kabut asap sudah memberikan dampak lintas sektor: kesehatan, pendidikan, ekonomi, transportasi hingga produktivitas masyarakat.

Karhutla tidak boleh terus dipandang sebagai persoalan musiman yang baru ditangani ketika api membesar dan asap menutup kota. Pencegahan harus dilakukan sejak dini, sementara penegakan hukum terhadap pembakar lahan harus benar-benar memberikan efek jera.

Baca Juga :  Api Sudah Dimuka, Saatnya Mengubah Tanggap Darurat Menjadi Tata Kelola

Di sisi lain, masyarakat juga harus meningkatkan kewaspadaan. Mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang memadai dan menjaga kelompok rentan seperti anak-anak serta lansia merupakan langkah sederhana yang penting.

Tetapi perlindungan masyarakat tidak boleh dibebankan kepada warga semata. Pemerintah harus hadir memastikan kualitas udara dipantau secara terbuka, fasilitas kesehatan siap menghadapi peningkatan keluhan akibat asap, serta penanganan titik api dilakukan secara cepat.

Kalsel tidak boleh membiarkan kabut asap menjadi rutinitas tahunan. Ketika warga harus memakai masker untuk sekadar bekerja, anak-anak terganggu aktivitas belajarnya dan pesawat harus ditunda karena jarak pandang, maka persoalannya sudah jauh melampaui sekadar asap.

Ini adalah persoalan keselamatan publik. Dan keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama.

Iklan
Iklan