Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Menuntut Anak Muda Mandiri, Tetapi Apakah Sudah Memberi Ruang untuk Berlatih?

×

Menuntut Anak Muda Mandiri, Tetapi Apakah Sudah Memberi Ruang untuk Berlatih?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Buyung Amrullah
Pendamping Produktivitas Remaja

Kita sering mendengar keluhan tentang anak muda yang kurang disiplin, kurang bertanggung jawab, sulit mengatur waktu, tidak terbiasa menyelesaikan pekerjaan sendiri, atau masih bergantung pada orang lain untuk hal-hal sederhana.

Kalimantan Post

Menariknya, banyak dari mereka sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tahu pentingnya disiplin. Tahu bahwa pekerjaan harus diselesaikan. Tahu bahwa waktu perlu diatur. Tahu bahwa barang pribadi harus dirawat, uang perlu dikelola, dan tanggung jawab harus dijalankan. Namun, mengetahui ternyata tidak otomatis membuat seseorang mampu melakukannya.

Di sinilah persoalan perilaku sering luput dari perhatian. Kita terlalu mudah menganggap bahwa masalahnya adalah kurangnya pengetahuan atau kurangnya motivasi. Karena itu, solusinya pun sering berhenti pada nasihat: harus lebih disiplin, harus lebih bertanggung jawab, jangan malas, harus mandiri. Padahal, sebuah kecakapan tidak lahir hanya karena seseorang diberi tahu.

Kecakapan terbentuk karena seseorang mengalami, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, mengulang, dan akhirnya terbiasa. Seorang anak tidak menjadi mampu mengatur waktu hanya karena diberi penjelasan tentang manajemen waktu. Ia perlu mengalami bagaimana menyusun kegiatannya, menjalankannya, menghadapi keterlambatan, memperbaiki rencana, lalu mencoba lagi.

Begitu pula tanggung jawab. Anak tidak otomatis menjadi bertanggung jawab hanya karena sering mendengar kata “tanggung jawab”. Ia perlu memiliki sesuatu yang memang harus ia urus, memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi yang wajar dari pilihannya, kemudian belajar memperbaikinya. Artinya, ada satu bagian penting dalam proses tumbuh yang sering terlupakan, yaitu “Pengalaman Berlatih”.

Dari Tahu Kemudian Menjadi Bisa

Pengetahuan adalah titik awal, bukan garis akhir. Seseorang bisa mengetahui cara memasak tanpa benar-benar mampu memasak. Bisa mengetahui cara berkomunikasi dengan baik tetapi belum mampu berkomunikasi dalam situasi sulit. Bisa memahami pentingnya mengatur keuangan tetapi belum terbiasa mengelola uangnya sendiri. Jarak antara “tahu” dan “bisa” diisi oleh latihan.

Baca Juga :  Guru Jangan Menjadi Catatan Kaki RUU Sisdiknas

Prosesnya sederhana, mulai dari “tahu – mencoba – mengulangi – menjadi bisa – mandiri”. Hanya saja di dalam kehidupan sehari-hari, kesempatan untuk melalui proses-proses tersebut tidak selalu tersedia. Orang dewasa sering terlalu cepat mengambil alih. Ketika anak kesulitan, pekerjaan diselesaikan oleh orang tua. Ketika membuat kesalahan, keputusan segera dikoreksi. Ketika pekerjaan terlalu lama, orang lain membantu menyelesaikannya. Tujuannya tentu baik. Orang tua ingin melindungi, guru ingin membantu, dan pendamping ingin memastikan pekerjaan selesai. Namun jika pola tersebut terus berlangsung, anak kehilangan kesempatan untuk mengalami proses belajar yang sebenarnya. Ia mungkin tumbuh dengan banyak pengetahuan, tetapi sedikit pengalaman mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, menyelesaikan persoalan, dan memperbaiki kesalahan sendiri.

Kemandirian Tidak Muncul Tiba-Tiba

Kita sering membayangkan kemandirian sebagai sesuatu yang muncul ketika seseorang memasuki usia tertentu. Seolah-olah setelah beranjak remaja atau dewasa, seseorang seharusnya otomatis mampu mengatur dirinya. Padahal, kemandirian merupakan hasil dari banyak kecakapan kecil yang dibangun secara bertahap, seperti ; Mengatur waktu. Menjaga barang. Menyelesaikan pekerjaan. Berkomunikasi. Mengambil keputusan. Mengelola uang. Menjaga komitmen. Bekerja sama. Menyelesaikan masalah. Mengevaluasi kesalahan. Memulai kembali setelah gagal. Semua itu bukan sekadar pengetahuan. Semua membutuhkan pembiasaan. Karena itu, jika kita ingin anak muda menjadi mandiri.

Pertanyaannya tidak cukup dengan “Apa yang sudah mereka ketahui?” Tetapi juga perlu bertanya “Apa yang sudah mereka latih?”

Membutuhkan Banyak Ruang Berlatih

Pendidikan tentu memiliki peran besar dalam memberikan pengetahuan. Keluarga juga memiliki peran penting dalam memberikan arahan dan perlindungan. Namun, anak muda juga membutuhkan ruang di antara keduanya, yaitu “ruang untuk mencoba”.

Mereka perlu diberi tugas yang nyata dan sesuai tahap perkembangannya. Perlu diberi kesempatan mengambil keputusan. Perlu mengalami konsekuensi yang wajar. Perlu mengulang sebuah aktivitas sampai mulai terbentuk pola. Perlu mendapatkan umpan balik. Dan yang tidak kalah penting, mereka perlu diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu sendiri tanpa terus-menerus diselamatkan dari kesalahan.

Baca Juga :  KEMERDEKAAN

Di sinilah pendekatan terhadap pembentukan perilaku perlu bergeser. Bukan hanya memberi tahu, tetapi memberi pengalaman. Bukan hanya memberi tugas, tetapi membentuk pola latihan. Bukan hanya menuntut hasil, tetapi membangun kecakapan melalui pengulangan.

Dari Pembiasaan Menuju Kemandirian

Pembiasaan memang tidak selalu menarik. Mengulang pekerjaan yang sama bisa terasa membosankan. Menjalankan rutinitas tidak selalu memberikan kepuasan instan. Belajar bertanggung jawab juga berarti menghadapi kesalahan dan konsekuensi, akan tetapi justru melalui proses itulah kecakapan terbentuk. Apa yang awalnya harus diingatkan perlahan menjadi kebiasaan. Apa yang awalnya terasa sulit perlahan menjadi kemampuan. Apa yang awalnya membutuhkan pendampingan perlahan dapat dilakukan sendiri. Pada akhirnya, tujuan pendampingan bukan membuat anak terus bergantung pada orang tua, orang dewasa ataupun pendampingnya. Tujuannya memang membuat pendampingan tersebut semakin tidak diperlukannya. Ukuran keberhasilan bukan seberapa lama seseorang harus dibantu, melainkan seberapa jauh ia mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan kemampuan yang telah dibangun.

Maka, ketika kita berbicara tentang anak muda dan kemandirian, mungkin sudah waktunya mengubah pertanyaan. Dari “Mengapa mereka belum bisa?”, menjadi “Sudahkah mereka cukup diberi kesempatan untuk mencoba?” Bukan hanya “Mengapa mereka tidak terbiasa?” Tetapi “Apakah mereka pernah diberi ruang untuk mengulang?”

Dan “Mengapa mereka masih bergantung?” Dirubah menjadi “Apakah lingkungan di sekitarnya sudah menyediakan pengalaman yang memungkinkan mereka menjadi mandiri?”

Anak muda tidak cukup hanya diberi tahu tentang kehidupan. Mereka perlu mengalami, mencoba, mengulang, memperbaiki dan membangun kecakapan melalui proses tersebut. Sebab pada akhirnya, kemandirian bukan sesuatu yang selesai diajarkan dalam satu kali nasihat. Kemandirian dibangun melalui kebiasaan melakukan. Mungkin yang paling dibutuhkan anak muda hari ini bukan lebih banyak orang yang mengatakan kepada mereka apa yang harus dilakukan. Melainkan lebih banyak ruang-ruang yang memungkinkan mereka berlatih melakukannya sendiri.

Iklan
Iklan