Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Prinsip-prinsip Al-Qur’an dalam Menjalani KehidupanSeri 1: Berkata baik kepada manusia

×

Prinsip-prinsip Al-Qur’an dalam Menjalani KehidupanSeri 1: Berkata baik kepada manusia

Sebarkan artikel ini

oleh: Ahmad Supiannor MH
(Alumni STDI Imam Syafi’i Jember prodi Ahwal Syakhshiyyah tahun 2022)

Pembaca yang Budiman Hafizhakumullah.

Kalimantan Post

Mari sejenak merenungi Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Baqarah ayat 83: “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah: 83)

Ayat tersebut sangat jelas sekali, bahwa kita diperintahkan untuk bertutur kata yang baik kepada orang lain.

Ucapan yang baik adalah kewajiban dan bukan pilihan

Ucapan yang baik kepada manusia bukanlah sekedar anjuran, apalagi dipahami hanya sekedar kebolehan. Namun ia merupakan perintah yang wajib dilaksanakan.

Sebagaimana dalam kaidah ushul fikih yang disebutkan, hukum asal perintah adalah menunjukkan kewajiban. Artinya berkata-kata yang baik merupakan keharusan, dan bukan pilihan.

Oleh karena itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memperingatkan Sahabat Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu terkait ucapan. Ketika muadz bertanya: “Wahai Nabi Allah, apakah kita benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan?” Lalu Beliau bersabda: “Tidaklah manusia dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur kecuali disebabkan hasil dari lisan-lisan mereka?” (HR. At Tirmdzi No. 2616)

Ketika seseorang berucap seenaknya, tidak peduli tentang apa yang ia ucapkan, maka itu bisa menjadi sebab ia diseret ke dalam neraka. Na’udzubillah.

Ucapan yang baik ditujukan kepada setiap orang

Perintah untuk berkata-kata yang baik bukan hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu ataupun orang-orang terdekat saja. Melainkan untuk seluruh manusia dengan berbagai latar belakangnya. Pada ayat sebelumnya, kata “manusia” di sini bersifat umum. Artinya, kita diperintahkan bertutur kata yang baik kepada seluruh manusia. Baik kepada yang lebih tua atau lebih muda, yang kaya ataupun yang miskin, yang punya tahta ataupun rakyat biasa, kepada sesama muslim maupun non-muslim, tentunya dengan batasan selama ucapan tersebut bukan ucapan yang dilarang dalam syariat, seperti ucapan selamat pada hari raya mereka.

Baca Juga :  Harjad ke-76, Sinergi untuk Banua

Bahakan, seandainya lawan bicara kita merupakan orang yang paling bejad sekalipun, kita tetap disyariatkan untuk bertutur kata yang baik. Oleh karena itu, ketika Nabi Musa dan Nabi Harun ‘Alaihimassalam datang kepada Fir’aun, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan: “Maka ucapkanlah kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia tersadar atau takut (kepada Allah)” (QS. Thaha: 44)

Terlebih lagi kepada orang-orang terdekat kita, istri, anak, teman, rekan kerja, terlebih orang tua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya (orang tua) perkataan ‘ah’, jangan pula engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra’: 23).

Demikian ajaran agama Islam yang begitu indah jika diamalkan dengan sebenar-benarnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiqnya agar dimudahkan menjalankan agama ini dengan benar. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Quotes:

“Anda tidak lebih baik dari Nabi Musa dan Nabi Harun, dan lawan bicaramu tidak lebih buruk dari Fir’aun. Maka tetaplah bertutur kata yang baik kepada siapapun!”

Iklan
Iklan