Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

AMUL HUZN

×

AMUL HUZN

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

oleh: AHMAD BARJIE B

BEBERAPA waktu sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW beserta kaum muslimin mengalami ujian hidup yang berat sekali. Kaum Quraisy Makkah yang menentang Islam melakukan blokade ekonomi terhadap kaum muslimin, sehingga kaum muslimin tidak bisa berhubungan dengan orang luar, tidak bisa berjual beli dan mencukupi kebutuhan pokok hidupnya. Seluruh orang Islam diisolasi di Lembah Syiib, di luar kota Makkah. Termasuk Abu Thalib juga diblokade di situ. Mereka tidak boleh berjual beli dan berinteraksi dengan pihak luar, dan sebagainya. Akibatnya banyak kaum muslimin yang kelaparan, sebagian makan ubi-ubian, daun-daun hutan dan mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar.

Kalimantan Post

Setelah keluar dari blokade tersebut, Nabi pun kehilangan dua orang dekatnya, yaitu istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib, keduanya merupakan pelindung dan pendukung dakwah selama ini. Nabi kemudian mencoba peruntungan berdakwah ke Thaif bersama Zaid bin Harits, tapi tetap gagal, bahkan penduduk Thaif menolak dengan kasar. Karena beratnya cobaan inilah, maka tahun itu dinamakan dengan “Amul Huzn”, artinya tahun kesedihan atau duka cita.

Setelah lulus melewati tahun berat penuh cobaan ini, Nabi “dihibur” oleh Allah dengan Isra-Mi’raj, dan tak lama kemudian kaum muslimin pun berhijrah ke Madinah, dan di sinilah syiar Islam berkembang maju, sehingga umat Islam secara bertahap terus berjaya dan menjadi mercusuar dunia.

Bangsa Indonesia, khususnya kalangan menengah bawah, sejak pertengahan Juli 1997 sampai kini, mengalami kehidupan ekonomi yang berat. Walaupun tidak seberat “Amul Huzn” yang dialami Nabi dan kaum muslimin, tetapi tidak diragukan lagi bahwa krisis ini sangat memukul kehidupan masyarakat, khususnya golongan ekonomi lemah. Naiknya harga-harga secara menggila benar-benar membuat masyarakat merasa berat. Lapangan kerja sulit, pengangguran banyak terjadi. Harga BBM mahal dan sering antri yang menyita waktu. Korupsi terjadi di mana-mana dan oligarki merajalela. Sementara program pemerintah dan dana pembangunan tidak kunjung dikhususkan untuk memberdayakan masyarakat yang sedang susah.

Baca Juga :  Ketika Petani Mulai Membeli Beras

Bedanya, “Amul Huzn” lebih disebabkan faktor luar, yakni kebencian kafir Quraisy terhadap Nabi dan pengikutnya. Sedangkan krisis ekonomi lebih disebabkan merajalelanya KKN, mismanajemen penyelenggaraan negara, para pejabat tidak ahli di bidangnya, dan kelihatannya juga ada konspirasi (persekongkolan) dalam dan luar negeri untuk mencekik dan menjadikan bangsa kita tak kunjung sejahtera. Bedanya lagi, Nabi dan kaum muslimin berhasil lulus melewati ujian, sedangkan kita masih harap-harp cemas, apakah lulus atau tidak. Yang ada kita semakin cemas dan pesimis. Indonesia Emas 2045 agaknya jauh dari harapan.

Selain tetap tabah, sabar, meningkatkan iman dan tawakkal kiranya kita pun perlu mengencangkan ikat pinggang. Presiden BJ Habibie pernah menawarkan puasa Senin Kamis guna mengurangi makan, sehingga lebih hemat. Sementara pakar ekonomi pertanian dari IPB, Prof. Dr. Bungaran Saragih menawarkan, agar masyarakat lebih banyak makan ubi-ubian, jagung dan sagu, sebab menurutnya selama ini bangsa ini terlalu banyak makan nasi. Yang membeli beras lebih banyak daripada yang menanam padi. Wapres Ma’ruf Amin kemaren juga pernah menyuruh kita makan pisang. Rakyat tentu akan menurut, kalau para pejabat dan elit mencontohkannya lebih dulu dengan makan ubi, pisang dan mengencangkan ikat pinggang. Intinya hidup hemat dan sederhana yang sebenarnya, bukan sekadar simbolik dan pencitraan.

Apapun solusinya, kita perlu menyambutnya, asalkan bersama-sama, yang di atas dan di bawah sama-sama berhemat dan saling menolong. Yang jelas semua unsur bangsa harus saling bantu antarsesama. Tidak ambil kesempatan dalam kesempitan. Semoga kita bisa menemukan solusi. Sesuai janji Allah dalam QS. At-Thalaq ayat 7, bahwa “Allah akan memberi kelapangan sesudah kesempitan”.

Iklan
Iklan